Bumi,
aku masih ingat saat pertama kali kau bertemu dengannya. Saat pertama kali kau
menaruh harap pada seseorang yang baru pertama kali kau temui. Hari itu adalah
hari kesepuluh dibulan Desember dan merupakan hujan pertama di bulan yang
sama.
Saat
itu kalian sama-sama menunggu di halte bus dekat kantormu. Hari itu sudah sore,
tapi hujan yang deras membuat langit lebih pekat dari seharusnya. Saat itu kau
tengah bersama teman-temanmu, tertawa dengan renyah dan sesekali menimpali
cerita temanmu itu.
Hingga
tak berapa lama setelah itu, pandanganmu menangkap sosoknya yang berlarian
menuju halte tempatmu berada dengan kedua tangan di atas kepala. Seketika itu
kedua matamu yang berwarna hitam kecokelatan tak lepas dari wajahnya. Kau
mengikuti semua geraknya yang tanpa sengaja membius kinerja otakmu. Wajahmu yang terbilang tampan terlihat
malu-malu, ketika ketahuan mencuri pandang ke arahnya. Lantas dengan ragu kau
memilih meninggalkan kerumunan sahabatmu dan berjalan mendekatinya.
Dia
hanya melirikmu sekilas, pertanda bahwa dia belum menemukan sesuatu yang
istimewa darimu. Tapi kau tak menyerah dengan cepat.
“Hujannya deras. Dan banyak orang
yang bilang, hujan yang seperti ini membuat seseorang mudah galau.”
Itulah satu kalimat pembuka yang
membuatmu dengan penuh kepercayaan diri menawarkan sebuah pertemanan kepadanya.
Meski usaha itu terbilang receh, tapi dirinya menimpali kalimatmu yang semakin
membuatmu ingin mengenalnya.
“Apa salahnya merindukan
seseorang dimasa lalu? Hujan, punya banyak peran dalam kehidupan wanita.
Darinya, seorang wanita bisa belajar arti dari ketulusan, juga bertahan atas
resiko yang telah mereka pilih.”
Kau mengulas senyuman dari
bibirmu, sebab dia menjawab tanpa memandang sedikitpun ke arahmu. Mata lebar
yang dibingkai dengan bulu mata lentik miliknya, menatap jalanan yang mulai
tergenang. Sementara dirimu terus saja menatap ke arahnya.
Sesaat setelah itu, kau mengikuti
arah pandangannya, tentunya setelah memasukkan salah satu tangan ke dalam
saku celana kerjamu. “Apa bagimu hujan
begitu istimewa?” tanyamu dengan tatapan yang menyimpan sejuta arti yang
mungkin hanya kau sendiri yang tahu.
Mungkin, itu adalah salah satu usahamu untuk menarik perhatiannya. Karena setelah kau mengucap kalimat tersebut, dia memalingkan wajahnya ke arahmu. Menatapmu dengan tatapan bingung dan menuntut penjelasan lebih dari pertanyaan yang baru kau ucapkan.
Mungkin, itu adalah salah satu usahamu untuk menarik perhatiannya. Karena setelah kau mengucap kalimat tersebut, dia memalingkan wajahnya ke arahmu. Menatapmu dengan tatapan bingung dan menuntut penjelasan lebih dari pertanyaan yang baru kau ucapkan.
“Apa bagimu hujan begitu
istimewa?” ulangmu seraya membalas tatapannya.
Mata kecilmu beradu pandang
dengan mata lebar miliknya, dan aku berani bersumpah saat itu kau tengah
menahan napas. Karena aku tahu betul, kau tak pernah menemui wanita yang
memiliki mata yang begitu indah dan meneduhkan seperti kepunyaannya.
Entah berapa lama kau terhipnotis dalam tatapan teduhnya, rasanya cukup lama meski kau mungkin merasa baru beberapa detik saja. Dan, saat dia menjentikkan jemarinya untuk mengembalikan kesadaranmu kau tersenyum menahan malu. Diapun begitu. Bibirnya yang disapu lipglos melengkung dengan sempurna dan membuat kecantikan bertambah di matamu. Namun sayangnya, senyum itu adalah senyuman yang terukir sebagai salam perpisahan. Sebab, apa yang dia tunggu telah datang untuk menjemputnya.
Entah berapa lama kau terhipnotis dalam tatapan teduhnya, rasanya cukup lama meski kau mungkin merasa baru beberapa detik saja. Dan, saat dia menjentikkan jemarinya untuk mengembalikan kesadaranmu kau tersenyum menahan malu. Diapun begitu. Bibirnya yang disapu lipglos melengkung dengan sempurna dan membuat kecantikan bertambah di matamu. Namun sayangnya, senyum itu adalah senyuman yang terukir sebagai salam perpisahan. Sebab, apa yang dia tunggu telah datang untuk menjemputnya.
Segurat kekecewaan terselip dalam
bingkai wajahmu, namun tak urung kau berdoa pada Yang Kuasa, untuk kembali
dipertemukan dengannya. Dengan wanita yang bermata indah, yang dari sekali tatapannya
mampu meluluhkan hatimu.
#writing #literasi #book #novel #hujan #desember #khusnulpratista
Komentar
Posting Komentar