Bara Di Langit Senja Bag. 12

Lamat-lamat aku mendengar pintu depan di ketuk dengan pelan yang membuatku berjingkat. "Siapa sih yang pagi-pagi bertamu ke rumah orang?" tanyaku pada diri sendiri.


Tookkkk tookkkkk tookkkkk


Aku kembali mendengar pintu depan diketuk dan kali ini irama ketukannya lebih cepat di banding sebelumnya. Aku memicingkan mata menerka-nerka siapa yang datang. Ketukan ke tiga membuat pikiranku melayang pada Mama yang selepas salat Shubuh aku antar ke halte untuk kembali pulang ke Surabaya. Dan karena hal itu aku bergegas ke depan.


Dengan sekali sentakan pintu kayu itu terbuka lebar.


"Selamat pagi Senja..."


Sapa Bara dengan senyum lebar dan sebuket bunga mawar putih yang di acungkan kepadaku. Terkesiap, tentu saja. Dan itu membuatku berdiri mematung di depannya dengan mulut sedikit terbuka dan menatapnya dengan wajah bengong.


"Hello..."


Kata Bara sembari menggerakkan telapak tangannya yang kosong ke depan wajahku. Aku mengerjap dan di saat itu kesadaranku kembali pada tempatnya.


"Bara, kamu..?" tanyaku dengan bingung. Karena entah kenapa, untuk sesaat kosa kataku menghilang dalam otakku.


Bara tersenyum simpul seolah mengerti apa yang ingin aku tanyakan. Dia menatapku kemudian menyilangkan kedua tangannya kebelakang dan sedikit mencondongkan tubuhnya ke arahku. Membuat posisi kami menjadi begitu dekat. Kedua matanya yang kecil menatapku dengan lekat.


"Gimana? Suka nggak sama kejutan aku," tanya Bara dengan senyum yang masih terukir.


Aku berdecak kemudian bergerak menjauhinya, atau lebih tepatnya aku melenggang masuk ke dalam dan meninggalkannya di ambang pintu. Aku menjatuhkan badan ke atas kursi empuk di ruang tamu lalu menopang kepala pada bantalan kursi.

Bara mengikuti dan duduk di kursi sebelahku setelah memberikan buket bunga yang dia pegang.


"Kok cemberut sih?" protesnya.


Aku meliriknya sembari menguap dengan lebar.


"Aku baru mau tidur Bara, dan kamu dateng yang sebelumnya aku pikir itu adalah Mama," gumamku menjelaskan sembari menahan kantuk yang menyergapku.


Dan sekarang giliran Bara yang menatapku dengan bingung.


"Mama kamu udah berangkat?" tanyanya dan aku mengangguk sebagai jawaban.


Bara menyandarkan badannya ke sandaran kursi sembari melipat kedua tangannya ke depan dada.


"Padahal aku kesini berniat mau nganterin Mama kamu," gumamnya lirih.


Lagi-lagi aku hanya meliriknya sekilas, karena rasa kantuk yang besar membuatku malas untuk berbicara. Dan hal itu tentu membuat suasana menjadi hening. Yang terdengar hanyalah gemirisik angin suara orang-orang mengaji di mushola tak jauh dari rumah.


"Aku ada ide!" tukas Bara tiba-tiba dengan suara semringah. Seolah baru melihat seonggok makanan di kala perut yang tengah kosong melompong. Tubuhnya yang tadi bersandar sekarang sudah berganti posisi.


Aku bersikap tak acuh dan bermain dengan kelopak bunga mawar putih pemberian Bara. "Ide apa?"


"Ada deh, yang penting sekarang kamu punya waktu 10 menit untuk ganti baju dan dandan," pintanya dengan cuek.
"What?" tanyaku setengah berteriak. Rasa kantuk yang sedari menyelimuti pun mendadak hilang.
"Udah buruan! Kita nggak punya waktu lagi untuk bersantai," ujarnya sembari menarik tanganku untuk bangkit dari kursi.


Dia memutar badanku. Sementara aku berusaha untuk protes namun yang terjadi dia justru mendorong tubuhku hingga masuk ke dalam kamar. Aku mendesah, kemudian memutuskan untuk menuruti permintaannya.


Satu setengah jam kemudian kami sampai pada tempat tujuan Bara, dan tempat itu sangatlah indah. Meskipun akses jalan yang dilalui cukup tidak mengenakkan badan, tapi melihat semua ini rasa lelah dan kesal menguap begitu saja. Berganti dengan rasa takjub akan keindahan yang tersuguhkan di depan mataku.


#30DWCJilid5 #Day18

Komentar