Bara Di Langit Senja bag. 9

Mobil fortuner putih milik Bara berhenti dengan mulus di halaman rumahku yang kecil. Bara mematikan musik yang dia putar untuk menemani perjalanan kami yang singkat ini. Kemudian dia melepas seat-belt dan mempersilahkan aku untuk masuk ke dalam rumah, seolah dialah pemilik rumah yang sebenarnya dan bukan aku. Aku tersenyum sembari menggelengkan kepalaku pelan, heran sekaligus takjub dengan sifatnya yang kelewat supel.


Kami berdua pun turun dari mobil secara bersamaan, namun sebelum sempat kami menjejakkan langkah kaki lebih dalam lagi, telepon seluler milik Bara berdering. Membuat Bara menghentikan langkahnya yang diikuti olehku.


Aku melihat raut mukanya berubah, dia juga sedikit menjauh dariku. Mungkin dari rekan kerja atau atasan Bara, pikirku karena aku melihat dia mengangguk-angguk pelan dengan wajah yang nampak serius, tidak seperti Bara yang selalu stay cool saat bersamaku.


"Hei kok malah bengong di sini sih?" ujar Bara membuatku sedikit tersentak. Karena aku juga masih berada di sisi mobil dan belum beranjak barang sejengkal. Sementara dia sudah berpindah posisi dari seberang mobil ke bagian sisi kemudi, ke tempatku masih berdiri layaknya patung manekin.


Aku berusaha mengelak dengan memanyunkan sedikit bibirku ke depan. Kuperhatikan gestur tubuhnya yang terlihat tenang tapi sorot matanya memperlihatkan hal yang bertolak belakang. Tangan yang dia gunakan untuk dikibaskan ke depan wajahku kini dia gunakan untuk mengambil sesuatu dari dalam sakunya. Dan sesuatu itu adalah kunci mobil fortuner yang tengah terparkir di halaman rumahku saat ini.


"Ada masalah?" tanyaku.

"Sedikit," sahutnya pendek. Dia juga menekankan kata sedikit itu body language yang cukup mampu membuat orang tersenyum.

"Jadi, aku minta maaf karena aku kembali menunda acara makan bersama," ujarnya dengan raut muka bersalah dan menyesal. Dan seharusnya dia tidak perlu menyesal dan merasa bersalah, karena dia memang tidak bersalah. Jadi untuk apa dia merasa bersalah?

"Tapi, aku janji. Secepatnya memenuhi undangan makan dari Mama kamu," imbuh Bara cepat-cepat seolah dia takut kalau aku akan marah padanya.


Padahal sebelum dia menampakkan batang hidungnya, akulah yang di hantui rasa bersalah karena takut dia marah. Dan pikiran itu disebabkan oleh pengakuan cintanya yang belum bisa aku balas di malam itu.


"Santai aja lagi Bar, di meja makan aku tetep ada kursi yang kosong kok meskipun kamu datang tiba-tiba," ujarku ringan. Berusaha untuk menepiskan rasa bersalahnya.


Bara tersenyum lebar sembari menggaruk-garuk kepalanya, entah karena gatal atau dia tengah merasa malu. Yang pasti dia mengerti maksudku karena dia menunjukkan persetujuannya dengan body languagenya.


"Salam buat Mama kamu ya," katanya pendek. Lalu dia beringsut menjauh dariku, memutari mobil dari belakang dan akhirnya masuk ke dalam mobil. Dan aku sendiri juga secara reflek sedikit mundur ke belakang.


Dia memundurkan mobil dengan sukses tanpa kendala, padahal pintu pagar itu di desain dengan ukuran yang pas-pasan. Dia menurunkan kaca jendela, melambaikan tangan ke arahku sebelum akhirnya menghilang bersama mobil yang berlalu lalang di depan rumah.


#30DWCJilid5 #Day15

Komentar