Aku terperangah, benar-benar terperangah. Hingga tanpa terasa sekumpulan air bening memenuhi kelopak mataku. Seulas senyuman terukir dari bibirku yang sepanjang jalan mogok bicara pada Bara.
Ku tatap cakrawala yang membentang luas di depan mataku. Dengan mata telanjang aku mampu melihat surga dunia yang begitu indah. Langit di atasku dipenuhi dengan warna biru, orange kekuningan dan sedikit warna violet yang membentang luas di ufuk timur. Terpana? Tentu saja, bagaimana tidak? Sunrise dan pantai adalah salah satu hal yang paling aku suka setelah senja. Terlebih pantai yang kami datangi adalah pantai yang masih bersih dan sepi pengunjung.
"Bara ini keren banget!" kataku dengan wajah berbinar menatap pantai Sanggar yang dipenuhi dengan batu karang dan tebing pada sisi kanan dan kirinya. Deburan ombak menghantam batu karang dan dinding tebing itu yang menjadikan tempat ini terlihat begitu eksotis.
"Gimana? Udah sesuai dengan harapan kamu belum?" tanya Bara yang sekarang sudah berdiri di sampingku.
Lagi-lagi rasa terkejut kembali menggelayutiku. Aku berpaling, menatap wajahnya yang juga tersenyum cerah ke arah matahari yang masih bersembunyi di balik awan.
Aku terdiam, senyuman di bibirku perlahan memudar berganti rasa heran dan berjuta pertanyaan dalam angan. Ku tatap wajah Bara dengan saksama, banyak yang tidak aku ketahui tentangnya. Tapi entah dari mana dia hampir mengetahui semua perihal tentang ku. Padahal dalam sepanjang ingatanku selama kami bersama, aku tak pernah menceritakan tentang apa yang aku suka dan tidak aku suka. Aku hanya berbagi kenangan pahitku dan tidak yang lainnya.
"Bara, dari mana kamu tahu tentang sunrise dan pantai yang bertebing ini?" tanyaku pada akhirnya.
Bara memutar kepala, menatap ke arahku dan tersenyum simpul. Kemudian dia menggumamkan sebuah kalimat yang memaksa otakku untuk bekerja keras untuk mencernanya.
"Melalui angin, alam semesta membisikkan tentang dirimu. Bulan dan bintang pun turut bercerita tentangmu, daun-daun yang bergesekan selalu menyebut tentang anganmu. Dan aku selalu mendengar apa yang mereka sampaikan tentangmu kepadaku, jadi kamu jangan merasa heran jika aku mengetahui banyak hal tentangmu," katanya mengakhiri jawaban dari pertanyaanku.
Seulas senyuman merekah dari bibirnya, memamerkan barisan giginya yang berjajar rapi. Kebingunganku belum terjawab namun dia sudah mau bergegas pergi ke tepi pantai dan meninggalkanku sendiri di ujung bibir pantai. Tapi ternyata dugaanku salah. Dia menoleh kebelakang, dengan tangan yang terulur ke arahku. Aku bisa melihat dia tengah tersenyum kepadaku, meskipun wajahnya tidak begitu kentara karena posisi kepala yang menutupi sang surya.
Aku menatap tangan itu lalu berganti pada wajah Bara, dengan body languagenya dia memintaku untuk menerima uluran tangan itu. Awalnya aku merasa ragu, tapi sesaat kemudian aku menerima uluran tangannya. Dia tersenyum lebih lebar dan wajah yang berbinar menatap ke arahku, tangannya menggenggam erat tanganku dan kemudian dia mengajakku berlari.
Ya, kami berlari menuju tepi pantai. Akan tetapi ayunan kaki Bara yang lebar membuat posisiku berada di belakangnya, sehingga dengan leluasa aku bisa menatap wajah Bara. Sinar mentari pagi yang menyinarinya membuat Bara terlihat seperti seorang pangeran. Seorang pangeran dari negeri dongeng yang tak sabar menjemput kekasih hatinya.
Tanpa aku sadari seulas senyuman terukir dari bibirku. Aku berpaling dari wajah Bara, menatap cakrawala yang membentang luas di hadapan kami dengan segala pesona yang dimilikinya.
***
Pantai dan segala keindahannya membuat kami melupakan angka jarum jam yang ternyata terus berputar, hingga tanpa kami sadari matahari sudah mulai kembali pada peraduannya. Semburat warna orange dan kuning kemerahan mulai menghiasi cakrawala. Memamerkan kecantikan yang dimilikinya kepada kami.
Deburan ombak yang menggulung pantai turut menemani perjalanan matahari ke ufuk barat. Menciptakan sebuah harmoni alam yang indah dan menakjubkan. Matahari mulai tenggelam, sementara langit semakin gencar memamerkan pesonanya.
Lembayung senja mulai merayap secara perlahan berusaha menggantikan semburat kemerahan dilangit. Aku mendesah, karena dengan hadirnya lembayung senja menjadi sebuah pertanda bahwa malam akan segera datang.
"Mau pulang sekarang?"
Kata Bara dengan suara rendah, memecah kesunyian yang entah sudah berapa lama tercipta. Merasa di perhatikan, akupun menoleh ke arahnya. Kedua mata kami bertemu dan untuk sesaat kami saling bertatapan.
"Kenapa kamu tetap baik sama aku Bara?" tanyaku tiba-tiba.
Bara tak kunjung menyahut dan hal itu membuat aku sedikit menyesal karena telah melontarkan pertanyaan yang belum aku pikirkan dengan matang.
"Haruskah ada alasan untuk tetap bersikap baik sama kamu?" balasnya dengan irama yang tak berubah. Justru sekarang dia menatapku lebih intens.
"Tapi aku menggantungkan perasaan kamu," ujarku dengan nada bersalah.
"Dan aku tidak merasa demikian. Aku jatuh cinta sama kamu tanpa alasan Senja. Bahkan aku sudah jatuh cinta pada kamu jauh sebelum kita bertemu. Lalu, disaat Tuhan mempertemukan dan membuat kita lebih dekat, kenapa aku harus menolaknya dengan bersikap buruk kepadamu?"
Kalimat yang baru terucap dari bibir Bara membuat aku berdiri statis. Aku dapat melihat kesungguhan di dalam bola matanya ketika mengatakan hal itu, dan aku yakin apa yang ditunjukkan bola mata itu bukanlah sebuah kebohongan.
"Tak apa jika kamu belum bisa membalas perasaanku, aku akan bersabar menunggu. Bahkan aku akan tetap menunggu meski ratusan purnama berlalu," ujar Bara dengan lirih.
#30DWCJilid5 #Day19
#keeponfire
#challenge
Komentar
Posting Komentar