Teruntuk sebingkai wajah seterang dua rembulan
Ya, sahabat, itu kamu ...
Tak terasa, waktu bergulir begitu derasnya
Pasti telah banyak goresan kisah yang kita jarah
Bahkan di antaranya mungkin telah lebur tak bersisa
Walau hanya untuk menjadi sekadar deretan sejarah
Tapi ... masihkah kau ingat
Akan sepenggal cerita, setautan hati
Yang tiap sudutnya beraksarakan gurau canda kita?
Pernah di suatu masa
Sang Maha Cinta menorehkan garis takdir tersurat
Yang di dalamnya, ada namamu, dan tertulis pula namaku
Menjalani kisah hidup selajur suka dan duka
Kadang sekilas pisah, kadang seuntai temu
Dan teretaslah kisah antara kau dan aku
Kita berdua, menapaki jalan yang pernah sama
Tak selalu manis, tak terus berhias tawa
Ada pula, kumparan cerita pedih yang menggoreskan gurat luka
Tapi bagiku ... bagi rasaku ...
Kuharap begitu pun bagimu
Manis pahit yang terkecap sepanjang jalan itu
Mencipta kesempurnaan tutur kisahmu, kisahku
Ingin dan cita kita ...
Ego kita berdua dalam mencipta ikatan tali jiwa
Meretas satu-satu perbedaan, menjadi sejalur napas dan hirupan udara yang sama
Ya, meski di tiap jengkalnya
Jejak yang terekam tak selalu utuh, mulus ...
Di antara derapnya terselip duri dan juga noda
Terkadang tentang cerita itu begitu indah Namun tak jarang pula berurai isak dan air mata
Ya, sahabat
Kau dan aku tahu
Kita, bukanlah makhluk sempurna
Aku, kamu, bukanlah ciptaan yang tak bercacat, berdosa
Tapi, tolong dengar pintaku ini
Permohonan menghiba yang mengetuk pintumu sepenuh hati
Duhai sahabatku
Sang pemilik wajah seterang dua rembulan
Berkenankah kau sambut uluran tanganku?
Sang fakir aksara ini menawarkan hatinya padamu
Ini, adalah sebentuk persahabatan tulus yang bernilai selamanya
Sudikah kamu, menjadi sahabatku,
Sehidup, sesyurga?
Created by. Umie Purwanti
Komentar
Posting Komentar