BAYU
Sahabat itu seperti bintang. Kau tak selalu dapat melihat mereka, tetapi kau tahu mereka selalu ada untukmu.
Indianchild
***
Sasha Wijaya berlari keluar rumah. Dia menangis sesenggukan. Rambut yang dikuncir kuda mengayun-ayun seiring dengan lebar langkah kakinya. Dari kejauhan ku dengar suara wanita yang ku kenal sebagai Ibunya berteriak. Memintanya untuk pulang. Tapi tak dihiraukan. Alih-alih pulang, dia justru memilih duduk di bawah pohon tak jauh dari tempat ku saat ini.
Kerasnya tangisan Shasa bertolak belakang dengan tampilan fisiknya. Dalam pandanganku dia gadis manja, memiliki mata yang lebar dan berbinar. Berkulit putih bersih, serta berambut lurus panjang.
Kututup komik Detektif Conan yang tengah ku baca, lalu mengubah posisi seraya menggerutu pelan. Terganggu dengan tangisan Shasa. Hampir saja aku keceplosan memarahinya jika saja lidahku tak terkunci dengan tiba-tiba. Alih-alih mengomel aku justru mengamatinya dari atas.
Wajah gadis itu kini terlihat memerah. Semerah udang rebus dengan air mata membasahi wajah. Anakan rambut yang liar menempel di sekitar wajah dan leher, akibat air mata bercampur keringat membasahi kulit.
Kemudian pandanganku beralih pada rumah bercat hijau muda yang berada tepat di sebelah rumah keluargaku, rumah itu nampak sepi. Tante Syafa begitu caraku memanggil Mama Shasa tak lagi meneriakkan namanya, begitupun dengan Om Guntur, Papa Shasa.
Perhatianku kembali pada Shasa. Selama satu tahun sejak kami bertetangga, tak sekalipun kami bermain bersama meski kami sebaya dan sekelas. Dunia kami berbeda. Aku dengan duniaku dan dia dengan dunia anak perempuannya, yang tak jauh dari boneka serta hal lainnya yang menurutku membosankan.
Jikapun dia diajak Tante Syafa ke rumah, maka, Kak Mario-lah yang akan mengajaknya bermain. Alasannya sederhana, karena Kak Mario menginginkan adik perempuan dan dengan hadiranya Shasa, keinginan Kak Mario terpenuhi. Karena bagiku Sasha adalah seorang anak manja yang membosankan. Meskipun dia sosok yang selalu ceria tapi itu tak pernah menggerakkan hatiku untuk bermain bersamanya. Namun entah kenapa saat ini aku merasa iba padanya.
“Kamu kenapa?” tanyaku setelah mengenyahkan keraguan yang bergumul dalam benakku.
Dan dari tempatku, aku bisa melihat dia mencari-cari suaraku. Aku merasa geli dicari seperti itu, seolah aku adalah makhluk yang tak kasat mata.
“Aku di sini! Di atas pohon!” kataku yang kemudian diikuti oleh gerakan kepala Sasha yang berkuncir kuda.
Dia menatap ke arahku dengan mata memerah dan sembap. Dan itu membuatnya terlihat sangat menggemaskan. Ets, menggemaskan? Tarik lagi dah, dia tak terlihat menggemaskan, namun menyedihkan.
“Bayu?” panggilnya memastikan dengan nada yang terdengar bingung dan kaget bercampur menjadi satu. Sementara aku hanya menatapnya tanpa ekspresi lalu turun secara perlahan dari atas pohon.
Bukk
Suara kakiku berdebam begitu menyentuh tanah hasil lompatanku. Sembari membersihkan tangan, ku memutar badan. Menghadap Shasa.
“Kenapa sih pake nangis? Cengeng banget! Berisik tahu!”
Shasa terdiam, cuping hidungnya yang memerah kembang kempis. Air mata juga masih mengucur dari mata lebarnya itu. Dia menatapku.
“Sssttttt! Jangan nangis lagi. Kalo nangis aku panggilin Stupfy, biar dia bisa gigit kaki kamu.”
Aku menempelkan jariku di bibir agar terlihat lebih meyakinkan. Mendengar itu Shasa terdiam.
Shasa memang takut Stupfy si anjing hitam milik tetangga kami yang bernama Pak Tony. Mungkin karena itulah dia menuruti apa kataku. Namun sebenarnya bukan dia saja yang takut, tapi aku juga. Namun sepertinya aku salah berucap, karena kini Shasa nampak ketakutan. Dan itu membuatku merasa bersalah.
“Sudah jangan takut. Dan jangan nangis,” kataku sembari menepuk pundaknya pelan lalu menurunkannya kembali.
Shasa menatap wajahku dengan mata bak sungai kebanjiran, meski tak bersuara.
“Aku gak manggil Stupfy kok, tapi kamu harus bilang kenapa kamu bisa nangis dan kabur ke sini?” kataku meminta penjelasan. Tentu saja dengan suara yang terdengar ramah, agar dia tak merasa takut lagi.
Shasa menatapku dengan ragu, lalu menundukkan wajah. Memilih memainkan ujung kaus bergambar barbie-nya yang berwarna merah muda, ketimbang melihatku.
“Pa-pa, Papa mau pergi,” katanya terbata. Lalu dia kembali terisak kemudian mengulang kalimatnya.
“Papa mau pergi, aku gak mau ditinggal Papa. Aku mau ikut Papa, aku mau ikut Papa,” katanya lagi dengan suara parau.
Aku terdiam sesaat. Bingung, dengan apa ku harus menghibur anak SD berusia 9 tahun yang merupakan teman sekelas namun tak pernah benar-benar menjadi seorang teman.
“Kenapa? Kenapa gak mau ditinggal? Kalo ditinggal itu justru enak lagi. Kita bisa bebas bermain dan gak ada yang ngelarang,” kataku pada akhirnya.
Dia mengangkat wajah.
“Tapi Papaku gak galak! Papa sayang aku! Aku gak mau Papa pergi, tapi Papa ngotot pergi!” balas Shasa seraya menggelengkan kepala yang membuat ekor kudanya kembali berayun-ayun.
“Iya, semua Papa itu pasti baik kalo kita masih kecil. Tapi kalo udah gede, Papa adalah orang pertama yang akan memarahi kita. Jadi kalo Papa kamu kerja jauh itu patut disyukuri,” tukasku masih berusaha terdengar meyakinkan.
Karena hanya itu yang bisa ku lakukan untuk menghiburnya, yah walau sebenarnya aku gak tahu kebenarannya. Tapi sepertinya Shasa cukup percaya dengan yang ku katakan dan itu terlihat dari gerak tubuh dan juga raut mukanya.
“Tapi kalau Papa pergi aku main sama siapa?” gumamnya pendek.
Dia kembali menundukkan wajah, mengusap air matanya dengan jari-jemarinya. Mendengar itu aku terhenyak untuk sesaat. Tak tahu apa yang harus ku perbuat, hingga akhirnya ku memutuskan sesuatu yang tak pernah terlintas dalam benakku.
“Aku! Aku akan main sama kamu mulai saat ini, dan aku akan menjadi sahabat kamu. Sahabat yang kan selalu bersama, sampai bulan dan bintang tak lagi mampu temani malam.”
Sasha mengangkat wajah, menatapku dengan tatapan berbinar sekaligus tak percaya.
“Sahabat?” ulangnya tak percaya.
“Ya, sahabat. Sampai kapanpun aku gak akan ninggalin kamu, dan kamu juga gak akan ninggalin aku. Seperti bulan dan bintang yang selalu setia menemani malam,” kataku sembari mengangkat jari kelingking ke udara.
Aku melihat keraguan di wajah Sasha, namun sesaat setelah itu dia tersenyum lebar lantas mengaitkan jari kelingkingnya.
“Sahabat,” katanya mantap.
Kami berdua tersenyum. Tersenyum untuk pertama kalinya setelah kami bertetangga.
***
Sejak hari itu kami menjadi sepasang sahabat, sahabat yang tak pernah terpisahkan. Karena kemanapun kami pergi, kami selalu bersama. Kecuali kamar mandi. Dulu, aku sempat menyesal mengapa aku mengambil keputusan untuk mau menjadi sahabatnya. Karena yeah, sifat dan hobi kami sangat bertolak belakang.
Tapi pada akhirnya seiring dengan berjalannya waktu, kami saling melengkapi satu sama lain. Bahkan jika ada satu di antara kami yang menghilang, kami pun akan merasa kehilangan.
“Dapet salam tuh,” tukas Shasa tiba-tiba dari belakang dan langsung menyusulku duduk di lantai semen lapangan sekolah.
Aku meliriknya sekilas, lalu kembali fokus pada anak-anak basket yang sedang latihan di tengah lapangan. “Dari siapa?”
“Dari dia,” sahutnya pendek lalu menjejalkan cokelat silver quen ke dalam mulutnya.
Aku hanya mengohkan jawaban Shasa karena aku tak tertarik dengan orang yang dibicarakan Shasa.
“Lo kenapa sih cuek gitu sama dia? Dia kan cantik! Populer lagi,” papar Shasa dengan nada menggebu seperti biasa. Dengan mulut yang terus mengunyah cokelat tanpa henti, kedua matanya menatap bola basket yang menari-nari di lapangan.
“Bagi gue sama aja tuh.”
Dia, dia yang dimaksud dalam obrolan kami adalah Allicia. Cewek yang katanya paling cantik di sekolah. Dia seorang ketua tim cheers di sekolah SMU Kejora yang merupakan tempatku dan Shasa bersekolah. Selain itu, dia juga menjadi seorang model di sebuah majalah remaja.
“Lo normal kan, Bay?” tanya Shasa yang cukup mampu membuatku tersedak dengan air mineral yang tengah ku tegak.
“Menurut lo?”
“Enggak!” cetusnya cepat.
Seketika itu aku memuntahkan air mineral yang ada dalam mulut, lalu melotot ke arahnya.
“Emang di wajah gue ada tulisan kalo gue gak normal?” Aku sengaja memberi penekanan pada kata gak normal, tapi Shasa nampak tak acuh.
Dia mengangkat bahu acuh tak acuh kemudian menoleh ke arahku, “Kalo gak normal terus mau dibilang apa lagi coba? Yang kita omongin tuh Allicia, Allicia, Bayu! Allicia yang cantiknya di akui seluruh remaja Jakarta dan cuma lo yang gak mengakuinya!” tukasnya berapi-api.
Aku menangkup wajahnya dengan kedua tangan, sedikit menekannya sehingga membuat pipinya terlihat chuby. Sementara hidungnya yang pesek tenggelam tertelan lemak di pipi. Kedua matanya menyipit sehingga membuat wajahnya semakin terlihat cute dengan poni depan yang membingkai wajahnya.
“Definisi cantik itu relatif Shasa. Dan walaupun gue berpendapat kalo Allicia itu biasa aja bukan berarti kalo gue gak normal!”
Jujur, sebenarnya aku juga berpendapat bahwa Allicia memang cantik. Tapi, aku gak tertarik.
Mendengar itu, Shasa mengerjapkan mata dan beberapa detik kemudian bibirnya mengerucut.
“Mmmmm .... Tapi....”
“Shasa, lo dicariin, Pak Bram....!”
Kami berdua menoleh bersamaan ketika mendengar suara Alexa yang melengking meneriakkan nama Shasa, dari ujung lapangan dari sisi barat. Bersamaan dengan itu tanganku terlepas dari wajah Shasa. Shasa menepuk keningnya, membuat beberapa anak poninya mencuat.
“Ya ampun Bay, gue lupa tadi disuruh, Pak Bram!” gumamnya terlihat mulai panik. Kemudian ia bergegas bangkit dan berlari menghampiri Alexa.
Ku tatap punggung Shasa yang menjauh, dan hal itu membuatku tersenyum geli. Bersahabat dengannya semenjak usia 9 tahun sudah pasti membuatku khatam dengan segala tindak tanduk sahabatku itu.
Shasa, satu-satunya hal yang membuatnya menepuk kening adalah ketika dia melupakan sesuatu dan itu sangat sering terjadi. Tapi kebiasaan Shasa tak hanya itu saja, dia masih mempunyai banyak kebiasaan-kebiasaan buruk yang selalu sukses membuatku gemas. Dan salah satunya adalah kebiasaan tidur yang dimilikinya.
Tak hanya aku saja yang dibuat gemas dengan kebiasaannya, tapi Alexa teman sebangkunya pun juga selalu dibuat gemas.
Sahabat itu seperti bintang. Kau tak selalu dapat melihat mereka, tetapi kau tahu mereka selalu ada untukmu.
Indianchild
***
Sasha Wijaya berlari keluar rumah. Dia menangis sesenggukan. Rambut yang dikuncir kuda mengayun-ayun seiring dengan lebar langkah kakinya. Dari kejauhan ku dengar suara wanita yang ku kenal sebagai Ibunya berteriak. Memintanya untuk pulang. Tapi tak dihiraukan. Alih-alih pulang, dia justru memilih duduk di bawah pohon tak jauh dari tempat ku saat ini.
Kerasnya tangisan Shasa bertolak belakang dengan tampilan fisiknya. Dalam pandanganku dia gadis manja, memiliki mata yang lebar dan berbinar. Berkulit putih bersih, serta berambut lurus panjang.
Kututup komik Detektif Conan yang tengah ku baca, lalu mengubah posisi seraya menggerutu pelan. Terganggu dengan tangisan Shasa. Hampir saja aku keceplosan memarahinya jika saja lidahku tak terkunci dengan tiba-tiba. Alih-alih mengomel aku justru mengamatinya dari atas.
Wajah gadis itu kini terlihat memerah. Semerah udang rebus dengan air mata membasahi wajah. Anakan rambut yang liar menempel di sekitar wajah dan leher, akibat air mata bercampur keringat membasahi kulit.
Kemudian pandanganku beralih pada rumah bercat hijau muda yang berada tepat di sebelah rumah keluargaku, rumah itu nampak sepi. Tante Syafa begitu caraku memanggil Mama Shasa tak lagi meneriakkan namanya, begitupun dengan Om Guntur, Papa Shasa.
Perhatianku kembali pada Shasa. Selama satu tahun sejak kami bertetangga, tak sekalipun kami bermain bersama meski kami sebaya dan sekelas. Dunia kami berbeda. Aku dengan duniaku dan dia dengan dunia anak perempuannya, yang tak jauh dari boneka serta hal lainnya yang menurutku membosankan.
Jikapun dia diajak Tante Syafa ke rumah, maka, Kak Mario-lah yang akan mengajaknya bermain. Alasannya sederhana, karena Kak Mario menginginkan adik perempuan dan dengan hadiranya Shasa, keinginan Kak Mario terpenuhi. Karena bagiku Sasha adalah seorang anak manja yang membosankan. Meskipun dia sosok yang selalu ceria tapi itu tak pernah menggerakkan hatiku untuk bermain bersamanya. Namun entah kenapa saat ini aku merasa iba padanya.
“Kamu kenapa?” tanyaku setelah mengenyahkan keraguan yang bergumul dalam benakku.
Dan dari tempatku, aku bisa melihat dia mencari-cari suaraku. Aku merasa geli dicari seperti itu, seolah aku adalah makhluk yang tak kasat mata.
“Aku di sini! Di atas pohon!” kataku yang kemudian diikuti oleh gerakan kepala Sasha yang berkuncir kuda.
Dia menatap ke arahku dengan mata memerah dan sembap. Dan itu membuatnya terlihat sangat menggemaskan. Ets, menggemaskan? Tarik lagi dah, dia tak terlihat menggemaskan, namun menyedihkan.
“Bayu?” panggilnya memastikan dengan nada yang terdengar bingung dan kaget bercampur menjadi satu. Sementara aku hanya menatapnya tanpa ekspresi lalu turun secara perlahan dari atas pohon.
Bukk
Suara kakiku berdebam begitu menyentuh tanah hasil lompatanku. Sembari membersihkan tangan, ku memutar badan. Menghadap Shasa.
“Kenapa sih pake nangis? Cengeng banget! Berisik tahu!”
Shasa terdiam, cuping hidungnya yang memerah kembang kempis. Air mata juga masih mengucur dari mata lebarnya itu. Dia menatapku.
“Sssttttt! Jangan nangis lagi. Kalo nangis aku panggilin Stupfy, biar dia bisa gigit kaki kamu.”
Aku menempelkan jariku di bibir agar terlihat lebih meyakinkan. Mendengar itu Shasa terdiam.
Shasa memang takut Stupfy si anjing hitam milik tetangga kami yang bernama Pak Tony. Mungkin karena itulah dia menuruti apa kataku. Namun sebenarnya bukan dia saja yang takut, tapi aku juga. Namun sepertinya aku salah berucap, karena kini Shasa nampak ketakutan. Dan itu membuatku merasa bersalah.
“Sudah jangan takut. Dan jangan nangis,” kataku sembari menepuk pundaknya pelan lalu menurunkannya kembali.
Shasa menatap wajahku dengan mata bak sungai kebanjiran, meski tak bersuara.
“Aku gak manggil Stupfy kok, tapi kamu harus bilang kenapa kamu bisa nangis dan kabur ke sini?” kataku meminta penjelasan. Tentu saja dengan suara yang terdengar ramah, agar dia tak merasa takut lagi.
Shasa menatapku dengan ragu, lalu menundukkan wajah. Memilih memainkan ujung kaus bergambar barbie-nya yang berwarna merah muda, ketimbang melihatku.
“Pa-pa, Papa mau pergi,” katanya terbata. Lalu dia kembali terisak kemudian mengulang kalimatnya.
“Papa mau pergi, aku gak mau ditinggal Papa. Aku mau ikut Papa, aku mau ikut Papa,” katanya lagi dengan suara parau.
Aku terdiam sesaat. Bingung, dengan apa ku harus menghibur anak SD berusia 9 tahun yang merupakan teman sekelas namun tak pernah benar-benar menjadi seorang teman.
“Kenapa? Kenapa gak mau ditinggal? Kalo ditinggal itu justru enak lagi. Kita bisa bebas bermain dan gak ada yang ngelarang,” kataku pada akhirnya.
Dia mengangkat wajah.
“Tapi Papaku gak galak! Papa sayang aku! Aku gak mau Papa pergi, tapi Papa ngotot pergi!” balas Shasa seraya menggelengkan kepala yang membuat ekor kudanya kembali berayun-ayun.
“Iya, semua Papa itu pasti baik kalo kita masih kecil. Tapi kalo udah gede, Papa adalah orang pertama yang akan memarahi kita. Jadi kalo Papa kamu kerja jauh itu patut disyukuri,” tukasku masih berusaha terdengar meyakinkan.
Karena hanya itu yang bisa ku lakukan untuk menghiburnya, yah walau sebenarnya aku gak tahu kebenarannya. Tapi sepertinya Shasa cukup percaya dengan yang ku katakan dan itu terlihat dari gerak tubuh dan juga raut mukanya.
“Tapi kalau Papa pergi aku main sama siapa?” gumamnya pendek.
Dia kembali menundukkan wajah, mengusap air matanya dengan jari-jemarinya. Mendengar itu aku terhenyak untuk sesaat. Tak tahu apa yang harus ku perbuat, hingga akhirnya ku memutuskan sesuatu yang tak pernah terlintas dalam benakku.
“Aku! Aku akan main sama kamu mulai saat ini, dan aku akan menjadi sahabat kamu. Sahabat yang kan selalu bersama, sampai bulan dan bintang tak lagi mampu temani malam.”
Sasha mengangkat wajah, menatapku dengan tatapan berbinar sekaligus tak percaya.
“Sahabat?” ulangnya tak percaya.
“Ya, sahabat. Sampai kapanpun aku gak akan ninggalin kamu, dan kamu juga gak akan ninggalin aku. Seperti bulan dan bintang yang selalu setia menemani malam,” kataku sembari mengangkat jari kelingking ke udara.
Aku melihat keraguan di wajah Sasha, namun sesaat setelah itu dia tersenyum lebar lantas mengaitkan jari kelingkingnya.
“Sahabat,” katanya mantap.
Kami berdua tersenyum. Tersenyum untuk pertama kalinya setelah kami bertetangga.
***
Sejak hari itu kami menjadi sepasang sahabat, sahabat yang tak pernah terpisahkan. Karena kemanapun kami pergi, kami selalu bersama. Kecuali kamar mandi. Dulu, aku sempat menyesal mengapa aku mengambil keputusan untuk mau menjadi sahabatnya. Karena yeah, sifat dan hobi kami sangat bertolak belakang.
Tapi pada akhirnya seiring dengan berjalannya waktu, kami saling melengkapi satu sama lain. Bahkan jika ada satu di antara kami yang menghilang, kami pun akan merasa kehilangan.
“Dapet salam tuh,” tukas Shasa tiba-tiba dari belakang dan langsung menyusulku duduk di lantai semen lapangan sekolah.
Aku meliriknya sekilas, lalu kembali fokus pada anak-anak basket yang sedang latihan di tengah lapangan. “Dari siapa?”
“Dari dia,” sahutnya pendek lalu menjejalkan cokelat silver quen ke dalam mulutnya.
Aku hanya mengohkan jawaban Shasa karena aku tak tertarik dengan orang yang dibicarakan Shasa.
“Lo kenapa sih cuek gitu sama dia? Dia kan cantik! Populer lagi,” papar Shasa dengan nada menggebu seperti biasa. Dengan mulut yang terus mengunyah cokelat tanpa henti, kedua matanya menatap bola basket yang menari-nari di lapangan.
“Bagi gue sama aja tuh.”
Dia, dia yang dimaksud dalam obrolan kami adalah Allicia. Cewek yang katanya paling cantik di sekolah. Dia seorang ketua tim cheers di sekolah SMU Kejora yang merupakan tempatku dan Shasa bersekolah. Selain itu, dia juga menjadi seorang model di sebuah majalah remaja.
“Lo normal kan, Bay?” tanya Shasa yang cukup mampu membuatku tersedak dengan air mineral yang tengah ku tegak.
“Menurut lo?”
“Enggak!” cetusnya cepat.
Seketika itu aku memuntahkan air mineral yang ada dalam mulut, lalu melotot ke arahnya.
“Emang di wajah gue ada tulisan kalo gue gak normal?” Aku sengaja memberi penekanan pada kata gak normal, tapi Shasa nampak tak acuh.
Dia mengangkat bahu acuh tak acuh kemudian menoleh ke arahku, “Kalo gak normal terus mau dibilang apa lagi coba? Yang kita omongin tuh Allicia, Allicia, Bayu! Allicia yang cantiknya di akui seluruh remaja Jakarta dan cuma lo yang gak mengakuinya!” tukasnya berapi-api.
Aku menangkup wajahnya dengan kedua tangan, sedikit menekannya sehingga membuat pipinya terlihat chuby. Sementara hidungnya yang pesek tenggelam tertelan lemak di pipi. Kedua matanya menyipit sehingga membuat wajahnya semakin terlihat cute dengan poni depan yang membingkai wajahnya.
“Definisi cantik itu relatif Shasa. Dan walaupun gue berpendapat kalo Allicia itu biasa aja bukan berarti kalo gue gak normal!”
Jujur, sebenarnya aku juga berpendapat bahwa Allicia memang cantik. Tapi, aku gak tertarik.
Mendengar itu, Shasa mengerjapkan mata dan beberapa detik kemudian bibirnya mengerucut.
“Mmmmm .... Tapi....”
“Shasa, lo dicariin, Pak Bram....!”
Kami berdua menoleh bersamaan ketika mendengar suara Alexa yang melengking meneriakkan nama Shasa, dari ujung lapangan dari sisi barat. Bersamaan dengan itu tanganku terlepas dari wajah Shasa. Shasa menepuk keningnya, membuat beberapa anak poninya mencuat.
“Ya ampun Bay, gue lupa tadi disuruh, Pak Bram!” gumamnya terlihat mulai panik. Kemudian ia bergegas bangkit dan berlari menghampiri Alexa.
Ku tatap punggung Shasa yang menjauh, dan hal itu membuatku tersenyum geli. Bersahabat dengannya semenjak usia 9 tahun sudah pasti membuatku khatam dengan segala tindak tanduk sahabatku itu.
Shasa, satu-satunya hal yang membuatnya menepuk kening adalah ketika dia melupakan sesuatu dan itu sangat sering terjadi. Tapi kebiasaan Shasa tak hanya itu saja, dia masih mempunyai banyak kebiasaan-kebiasaan buruk yang selalu sukses membuatku gemas. Dan salah satunya adalah kebiasaan tidur yang dimilikinya.
Tak hanya aku saja yang dibuat gemas dengan kebiasaannya, tapi Alexa teman sebangkunya pun juga selalu dibuat gemas.
Komentar
Posting Komentar