Kent & Aretha (Tamu Tak Diundang)

Hujan datang lagi pagi ini. Mengguyur kota Blitar dengan derasnya. Aku benci hujan. Sama seperti aku membenci Ayah. Kutatap langit yang entah kapan akan menyudahi drama pagi ini. Ku dekatkan wajah pada kaca jendela guna memudahkanku mengintip langit. Belum sempat mengintip, ku dengar petir menggelegar hingga jendelaku bergetar. Aku menjauhkan diri, lalu menghela napas dengan berat, nampaknya langit ingin meledekku. Bukannya mereda, hujan justru memperlihatkan keganasannya.

Tepat ketika suara petir itu menghilang, aku mendengar suara pintu kayu dibelakangku berderit, pertanda seseorang tengah membukanya. Aku pun berbalik. Di sana, atau lebih tepatnya di ambang pintu, seorang wanita paruh baya berdiri menatapku.

“Kamu tetap sekolahkan, Sayang?” kata wanita itu yang tak lain adalah ibuku.

Beliau berjalan mendekatiku yang berdiri dekat jendela kaca tak jauh dari kasur. Baju daster kesukaannya yang mulai lusuh terlihat kebesaran ditubuh ringkihya. Entah apa yang membuatnya ringkih aku tak begitu memahami. Faktor usia ataukah hal lainnya. Tapi menurutku, usia mungkin bukanlah sebab utama atas keringkihan Ibu. Karena sepengetahuanku, Ibu begitu tertekan semenjak kepergian Ayah.

“Aretha?” panggil Ibu dengan nada bertanya. Mata cokelat gelap yang senantiasa meneduhkanku menatapku lembut. Memaksaku untuk tersenyum meski hanya sedikit.

Kuraih tangannya dan menggenggamnya dengan erat. “Aretha sekolah kok, Bu. Hari ini ada pembagian tugas,” kataku menenangkannya.

Ibu tersenyum, membuat garis halus yang menghiasi wajahnya terlihat berkerut dan semakin jelas terlihat.

“Pake payung ya? Jangan gak pake payung, nanti seragam kamu basah, trus kamu sakit,” ujarnya menasehati.

Aku menganggukkan kepala sebagai jawaban, lantas bergegas ke kamar mandi yang terletak di samping kamar.



***


Bel berdenting tepat ketika kakiku masuk ke halaman sekolah. Pak Agus, satpam sekolah menyapaku.

“Tumben Mbak Aretha sekolah meski hujan?” tanyanya. Dari caranya menatapku, aku mengerti bahwa Pak Agus menyimpan sejuta pertanyaan yang ingin diajukan. Tapi nampaknya Pak Agus memilih pertanyaan yang dirasa cukup mewakili penasarannya.

“Iya Pak, ada tugas,” jawabku pendek.

“Ooh begitu,” sahutnya manggut-manggut.

“Aretha masuk dulu ya, Pak,” pamitku sopan.

“Iya, Mba. Selamat belajar,” tukas Pak Agus.

Pak Agus adalah satu-satunya orang selain guru tentunya, yang sudi melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang ku anggap sebagai bentuk perhatian yang diberikan padaku. Sebab, sebagian besar siswa siswi di sini menganggapku sebagai seseorang yang, aneh.

Sosok Pak Agus yang bertubuh tambun dan sedikit berkumis membuatku selalu merasa dekat dengan Pak Handoko, tukang kebun keluargaku dulu sewaktu di Jakarta. Perangai Pak Agus pun juga mirip dengan Pak Handoko. Ramah dan hangat.

“Pagi, Bu Silvia” sapaku pada guru TIK yang kebetulan berpapasan denganku.

Beliau mengangguk lantas tersenyum. Di belakang Bu Silvia, ku lihat Bu Dewi berjalan dengan beberapa buku yang dibawa tangan. Berlandaskan etika yang kumiliki, aku membiarkan Bu Dewi berjalan mendahului. Dan sebagai murid yang baik, aku pun menawarkan bantuan. Bukan berniat menjilat, tapi ku merasa sebagai manusia kita haruslah tolong menolong. Terlebih lagi, Bu Dewi akan menuju kelasku.

Sesampai di kelas ku letakkan buku-buku ke atas meja, lalu beranjak ke kursiku. Seisi kelas menatapku seraya berbisik, entah apa yang mereka bisikkan aku tak pernah mau memikirkannya.


                                                        ***

Hari ini, Bu Dewi menunda pengumuman tugas karena materi minggu lalu belum beres. Dalam hati aku merutuk keputusan Bu Dewi. Karena jika tahu begini, aku lebih memilih tidak masuk sekolah. Sebab itulah yang selalu ku lakukan bila hujan datang selama 2,5 tahun di sini.

Bukan tanpa alasan ku menghindar dari hujan, justru aku memiliki alasan kuat di balik tindakanku.

Hujan tak pernah ku harapkan datang ketika mataku terbuka, sebab hujan hanya menjadi tamu yang tak di undang. Meskipun hujan membawa berkah bagi petani, tapi dia justru menjadi petaka bagiku.

Aku membenci hujan. Aroma petrichor yang menusuk hidung, membuatku muak dengan alam yang datang mengejekku dengan membawa kisah pilu di masa lalu. Tanah beceknya membuat semua hal harus kulakukan dengan ekstra hati-hati. Sebab, kondisi tanah lumpur yang licin bisa membuatku tergelincir sewaktu-waktu. Dan bila itu terjadi aku yakin, tak kan ada yang sudi menolongku karena status ‘aneh’ yang ku sandang sejak pertama kali pindah ke kota ini.

Tapi hari ini, untuk pertama kalinya aku harus menghadapi hujan. Dan itu tidak terlalu buruk, setidaknya ini menjadi awal yang baik.

“Anak-anak, hari ini Ibu akan mengadakan ujian harian. Jadi tolong, bersihkan meja kalian dan siapkan selembar kertas kosong.”

Suara Bu Ning yang terkenal cempreng menjadi pematik keriuhan anak-anak sains 3. Ujian dadakan yang menjadi ciri khas Bu Ning selaku guru Biologi memang selalu sukses membuat seisi kelas heboh. Terutama kelasku, yang terkenal suka paling ramai sendiri.

Bu Ning berdeham, untuk menghentikan keriuhan itu. Dan usahanya berhasil, seketika itu kelas hening. Yang terdengar hanya bunyi kertas soal yang saling bergesekan serta sepatu hak tinggi Bu Ning.


#fiksiremaja #teenlit #keluarga #sihir #misteri  

Komentar