Jika kau ingin tahu tentang bagaimana rasanya jatuh cinta lalu di tinggalkan, tanyakanlah padaku. Karena aku lebih mengerti bagaimana rasanya.
Jika kau ingin tahu bagaimana rasanya melihat orang yang masih kau cintai bersanding dengan wanita yang seharusnya itu adalah kau. Tanyakanlah padaku. Karena aku pun tahu bagaimana rasanya.
Jika kau ingin tahu rasanya, bagaimana sakitnya di tinggalkan. Tanyakanlah pula padaku.
Jika kau ingin tahu rasanya, bagaimana persahabatanmu hancur karena kau menyukai sahabatmu itu. Tak lelah jua ku katakan padamu, tanyakanlah kepadaku.
Jangan tanya kenapa, karena sejatinya aku pernah mengalami semua drama percintaan yang ingin kau ketahui itu.
Sebelum menjawab, aku ingin memberitahu sesuatu hal padamu.
Aku pernah, berada di persimpangan jalan yang membuatku terhenti untuk beberapa saat. Aku pernah berada pada sebuah lembah duka yang tertutup kabut. Dan apakah kau ingin tahu bagaimana rasanya?
Aku harap jawabanmu adalah tidak. Karena, sungguh, rasanya teramatlah sakit. Sakit itu itu menyiksaku dari terbit fajar hingga tenggelamnya sang fajat. Bahkan kelenjar air mataku sudah terbiasa keluar tanpa permisi. Membentuk aliran sungai di wajah.
Hatiku remuk redam, harapanku hancur tak bersisa bagai buih di lautan. Namun aku tak menyerah. Sakit itu harus ku sembuhkan. Sakit itu harusnya menjadi tonggak dalam hidupku. Aku harus tetap melangkah maju meski langkah kakiku terseok tak keruan. Aku harus bangkit meski kepayahan.
Hatiku remuk redam, harapanku hancur tak bersisa bagai buih di lautan. Namun aku tak menyerah. Sakit itu harus ku sembuhkan. Sakit itu harusnya menjadi tonggak dalam hidupku. Aku harus tetap melangkah maju meski langkah kakiku terseok tak keruan. Aku harus bangkit meski kepayahan.
Komentar
Posting Komentar