Hari ini, seperti biasa kita menghabiskan waktu makan siang bersama. Tak ada yang berubah selama dua tahun kita bersama. Kebiasaanmu membaca buku di akhir makan siang, masih kau ritualkan. Dan aku dengan payahnya selalu menemani.
Bukan karena aku tak punya pekerjaan, melainkan ada sebab tertentu yang membuatku demikian. Dan sebab itu bermula pada hari pertama kita bertemu.
Pada siang itu, cuaca sangat panas. Aku yang baru melakukan pekerjaan lapangan merasa butuh sesuatu untuk mendinginkan otakku. Aku pun memutuskan untuk pergi ke kedai kopi Lazatta. Kedai kopi yang akhir-akhir ini menghipnotis kaum muda mudi untuk sekedar duduk seraya menegak racikan kopi atau minuman dingin lainnya.
Bukan karena aku tak punya pekerjaan, melainkan ada sebab tertentu yang membuatku demikian. Dan sebab itu bermula pada hari pertama kita bertemu.
Pada siang itu, cuaca sangat panas. Aku yang baru melakukan pekerjaan lapangan merasa butuh sesuatu untuk mendinginkan otakku. Aku pun memutuskan untuk pergi ke kedai kopi Lazatta. Kedai kopi yang akhir-akhir ini menghipnotis kaum muda mudi untuk sekedar duduk seraya menegak racikan kopi atau minuman dingin lainnya.
Aku pun melenggang masuk ke dalam. Namun sialnya kedai itu sudah penuh, dan tak ada bangku kosong yang tersisa. Aku memicingkan mata, mencari-cari satu bangku yang tersisa di luar. Dan aku menemukannya. Di bawah pohon rindang di bagian samping kedai.
Tanpa membuang waktu lagi aku pun ke sana. Namun tiba-tiba kau datang dari arah yang berbeda. Kau terkejut, begitupun dengan aku. Dan perdebatan kecil tentang siapa yang menemukan meja itu akhirnya keluar dari bibir kita.
Kau tak mau mengalah waktu itu, begitu pula aku.
"Maaf, kalau saya lancang. Apa kalian berdua sedang melakukan pertemuan di sini?" kata seorang pria yang entah dari mana datangnya.
Alisku berkerut, untuk beberapa saat aku menelisik pria yang aku pikir seusiaku. Hanya saja pakaiannya lebih rapi dan terlihat elegan. Tidak sepertiku maupun wanita di depanku ini.
"Tidak..." kataku bersamaan denganmu.
"Kalau begitu jika Mba dan Mas tidak keberatan, alangkah baiknya jika kalian berdua bersedia untuk berbagi tempat duduk. Mungkin ini tidak nyaman, tapi untuk saat ini saya meminta kemakluman kalian."
Aku menghela napas, "Tidak masalah," ujarku pendek. Dan aku menerima senyuman puas dari pria yang aku rasa menjabat sebagai manager kedai ini.
Kau memasang wajah yang datar, begitupun denganku. Karena yang aku hanya menginginkan satu minuman dingin dan setelah itu aku pergi. Jadi aku rasa tak apa jika aku berbagi duduk barang sebentar denganmu.
Tapi nampaknya, kau tak sependapat.
"Kalau begini orang akan mengira kita pacaran," ujarmu ketus.
Kau mengeluarkan buku tebal dari dalam tas tangan berwarna cokelat yang sedari tadi kau jinjing.
"Kita menjalani hidup masing-masing, lantas kenapa kau memikirkan apa perkataan orang tentangmu?" kataku.
Kau mengangkat wajah, menatapku. Dan aku bisa menangkap bahwa kau akan membalas perkataanku jika saja seorang pelayan tak datang dengan dua gelas minuman dingin pesanan kita, es surga untukmu lemon tea dingin untukku.
Bibirmu yang merah alami, menggumamkan ucapan terimakasih. Lalu, detik berikutnya kau tenggelam dalam buku tebalmu itu.
Dalam kediamanmu itu, diam-diam aku menelesikmu. Memerhatikanmu lekat-lekat dan mencoba menerka bagaimana kepribadianmu. Semakin aku memerhatikanmu, aku merasa bahwa kau adalah wanita yang berbeda.
Tahukah kau, sebenarnya aku sudah jatuh cinta padamu. Pada hari itu, saat kali pertama melihat seseorang sepertimu membaca buku di tengah hari yang terik. Padahal, untuk gadis cantik sepertimu kau bisa menghabiskan waktu di tempat yang lebih elite ketimbang kafe di pinggiran kota.
17-18.09.2017
Kau memasang wajah yang datar, begitupun denganku. Karena yang aku hanya menginginkan satu minuman dingin dan setelah itu aku pergi. Jadi aku rasa tak apa jika aku berbagi duduk barang sebentar denganmu.
Tapi nampaknya, kau tak sependapat.
"Kalau begini orang akan mengira kita pacaran," ujarmu ketus.
Kau mengeluarkan buku tebal dari dalam tas tangan berwarna cokelat yang sedari tadi kau jinjing.
"Kita menjalani hidup masing-masing, lantas kenapa kau memikirkan apa perkataan orang tentangmu?" kataku.
Kau mengangkat wajah, menatapku. Dan aku bisa menangkap bahwa kau akan membalas perkataanku jika saja seorang pelayan tak datang dengan dua gelas minuman dingin pesanan kita, es surga untukmu lemon tea dingin untukku.
Bibirmu yang merah alami, menggumamkan ucapan terimakasih. Lalu, detik berikutnya kau tenggelam dalam buku tebalmu itu.
Dalam kediamanmu itu, diam-diam aku menelesikmu. Memerhatikanmu lekat-lekat dan mencoba menerka bagaimana kepribadianmu. Semakin aku memerhatikanmu, aku merasa bahwa kau adalah wanita yang berbeda.
Tahukah kau, sebenarnya aku sudah jatuh cinta padamu. Pada hari itu, saat kali pertama melihat seseorang sepertimu membaca buku di tengah hari yang terik. Padahal, untuk gadis cantik sepertimu kau bisa menghabiskan waktu di tempat yang lebih elite ketimbang kafe di pinggiran kota.
17-18.09.2017
Komentar
Posting Komentar