Masalah itu Ujian Untuk Mendewasakan Kita, Bukan Untuk Menjatuhkan Mental


Bagiku setiap masalah yang datang dalam hidupku adalah sebuah ujian. Sebuah ujian untuk memproses kedewasaanku. Sebuah ujian untuk menguji seberapa tangguh aku bertahan. Dan beruntunglah pola pikir mereka, khususnya aku yang kedewasaannya bertambah seiring dengan masalah yang berhasil di lewati.


6 November 2016, seharusnya itu adalah menjadi hari yang membahagiakan untukku. Karena hari itu adalah hari dimana aku akan mengakhiri masa lajangku. Hari dimana aku memulai kehidupan berumah tangga yang diimpikan semua orang.


Bahagia? Tentu saja. Bagaimana tidak? Setelah mengalami kegagalan dengan hubungan yang aku pertahankan selama tiga tahun, Tuhan mengirimkan sesosok malaikat yang mengusir sepi dan duka laraku. Meskipun kami belum terlalu lama saling mengenal, tapi dia sudah menunjukkan keseriusannya. Dia melamarku, melamar di hadapan kedua orang tuaku dengan membawa serta anggota keluarganya. Semua anggota keluarga setuju dan bahagia, bahkan hampir semua keluarga pula memuji kami berdua. Mereka bilang calon suamiku tampan dan aku cantik, pasti anaknya nanti lebih cakep dari orang tuanya. Dan aku hanya tersipu malu menanggapi kelakar mereka.


Tapi, ternyata Tuhan berkata lain. Pernikahan yang tinggal menghitung hari itu terpaksa di batalkan. Meninggalkan jejak kenangan dalam untaian takdir dariNya. Menambah pengalaman berharga dalam perjalanan hidup yang tak semua orang mampu untuk memilikinya. Ditinggal menikah dan rencana pernikahan yang batal merupakan pengalam hidup yang tak akan pernah bisa dilupakan.


Sedih? Tentu saja. Karena bukan hal yang mudah bagi setiap wanita untuk langsung menerima sosok baru ketika hubungannya baru kandas, terlebih lagi kandasnya hubungan disebabkan oleh sebuah perjodohan yang dilakukan oleh orang tua.


Lalu bagaimana mungkin aku tidak merasa sedih? Ditinggal menikah oleh orang yang masih sangat dicintai dan di lain hari pernikahanku sendiri dibatalkan. Aku merasa terpuruk, bukan karena pernikahanku batal. Tapi lebih pada usahaku untuk lepas dari masa laluku gagal.


Karena sebelumnya aku berpikir, dengan pernikahan itu aku akan benar-benar membuka lembaran baru dalam hidupku. Karena sebelumnya aku berharap, dengan keberadaannya aku bisa melepas cintaku yang kini menjadi milik orang. Karena sebelum aku memutuskan menerima lamaran itu aku menghabiskan separuh malamku untuk menangis dalam sujudNya dan bergelut dengan kisah lamaku.


Tapi aku tidak marah, aku juga tidak terpuruk hingga harus mendapat belas kasihan orang lain. Lagi pula untuk apa aku marah? Kalaupun marah, harus dengan siapa aku lampiaskan amarahku ? Ini bukan salah mantan kekasihku, bukan salah mantan tunanganku dan bukan pula salahku.


Ini adalah suratan takdir dariNya, yang akan menjadi hikmah untuk kami bertiga, terutama untukku sendiri. Setidaknya dengan ujian yang aku terima dalam waktu yang relatif singkat itu, membuat aku menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih mandiri, dan lebih dewasa lagi.


Namun terkadang, aku melihat pada beberapa wanita di luar sana tak mampu untuk melewati ujian yang seperti aku alami. Dan terkadang mereka memilih jalan yang salah sebagai solusi. Padahal jika kita mampu berpikir lebih dalam, kita adalah wanita yang paling beruntung. Karena dengan seizin Tuhan kita mendapat ujian yang jarang didapatkan orang lain. Dan karena seizin Tuhan kita mendapat pengalaman paling berharga dalam hidup kita. Sebuah pengalaman yang menjadi bekal kita untuk menatap masa depan. Sebuah pengalaman yang bisa menjadi penuntun kita untuk menunjukkan pada putra putri kita kelak, bahwa hidup tak selalu berjalan dengan sesuai harapan kita. Bahwa roda kehidupan senantiasa berputar dan tak selamanya kemudahan mengiringi perjalanan hidup kita.



#30DWCJilid5 #Day21

Komentar