Seribu purnama


Aku menghempaskan badan di atas kasur kapuk yang mulai dimakan usia. Dengan tatapan menerawang aku menatap langit-langit yang juga mulai usang. Aku menghela napas dan kembali mengingat percakapan ku dengan Rama tiga puluh menit yang lalu di taman kompleks perumahan beberapa meter dari rumahku.

“Jangan menangis Na, kamu tahu kan aku selalu nggak bisa lihat air mata kamu,” pinta Rama ketika aku mulai meneteskan air mata.

Telapak tangannya yang besar menggenggam jemariku dengan lembut, membuat kelima jariku tenggelam di balik telapak tangan itu. Sementara tangannya yang lain mengusap air mata di pipi. Dia sedikit menggeser tubuhnya, “Na, kamu tahu kan, ini sudah jadi konsekuensi aku menjadi seorang prajurit,” ujarnya dengan suara rendah.

“Aku pergi hanya selama tujuh purnama dan di akhir purnama ke tujuh itu aku kembali lagi di sini. Di sisi kamu dan pernikahan kita akan dilaksanakan setelah itu.... Lagi pula ini bukan pertama kalinya kamu aku tinggal tugas ke luar pulau!” imbuhnya memberi pengertian.

“Aku tahu, tapi kamu tidak pergi ke tempat yang jauh dari jangkauan kapal, Rama!” tukasku cepat sembari mengangkat wajah dan berpaling ke arahnya. “Ini Lebanon, dan kamu baru ngasih tahu aku sekarang!”

Ada perasaan sesak yang menghimpit rongga dada ketika mengucap kata Lebanon yang jauhnya bermil-mil dari tempatku berpijak.

Rama menatapku. Aku menatapnya. Dan tatapan teduh yang ku dapat darinya membuat lidahku terkunci seketika. Selalu dan selalu seperti itu. Rama membelai rambutku, mengukir seulas senyuman yang membuat bibirku tetap membisu.

“Aku sayang kamu Rana, aku pergi demi masa depan kita,” katanya meyakinkan.

Getaran ponsel Nokia 2100 yang tengah aku genggam membuatku menghentikan pikiran buruk yang bersiap-siap menyerang. Ku hapus setitik air mata yang bergulir dari sudut mataku.

“Aku tahu apa yang sedang kamu lakukan saat ini Na, please don’t cry again! For me!”

Aku mengabaikan pesannya, bukan karena aku marah atau tak bisa menerima kenyataan dia akan pergi selama tujuh purnama. Aku hanya ingin sendiri, saat ini. Setidaknya untuk beberapa jam ke depan sampai aku benar-benar bisa menenangkan badai yang menyerangku.


*****


Hampir satu jam kami duduk berdampingan di bangku panjang stasiun Kota Kediri. Kereta Malioboro Ekspres yang akan membawa Rama ke kota tempatnya bertugas hari ini mengalami keterlambatan. Hening. Yang terdengar hanya gaungan dari calon penumpang yang menyesaki ruang tunggu. Serta lagu pop yang mendayu-dayu dari soundsistem milik cafetaria.

Namun tepat pada pukul 12.10 WIB aku mendengar suara petugas stasiun memberitahukan, bahwa kereta Malioboro Ekspres akan datang. Aku meremas ujung syal yang melingkar di leherku. Bersamaan dengan itu aku merasakan tangan Rama meraih tanganku dan menyusupkan jemarinya ke sela jemariku.

Dia mengajakku bangkit, lalu mengambil tas ransel bercorak sama persis dengan seragamnya yang selalu dia bawa dengan sebelah tangannya yang kosong. Kami berjalan mendekati peron tiga, membaur dengan calon penumpang lainnya. 

Ini memang bukan pertama kalinya aku turut berdesakan dengan para calon  penumpang yang menuju Jogjakarta. Karena setiap Rama pulang ke kota ini, akulah yang selalu mengantarnya. Namun entah kenapa, hari ini aku begitu berat melepas kepergian Rama. Entah kenapa aku merasa setelah hari ini aku tak bisa mengantarnya lagi di stasiun ini. 

Serda Rama Aditya... Aku masih ingat betul bagaimana rupanya ketika pertama kali keluar dari pendidikan, kurus dan dekil. Dekil? Sepertinya itu terlalu berlebihan untuk mendeskripsikannya. Tapi aku selalu mengejeknya dengan perkataan seperti itu.

Namun ejekanku justru membuatnya termotivasi untuk membentuk badannya pasca pendidikan. Di tengah padatnya kegiatan seorang prajurit, dia selalu menyempatkan waktunya untuk berolahrga.

Dan hasilnya, voila! Badannya terbentuk dengan sempurna, dia lebih tegap, ideal dan kekar. Terlebih lagi ketika dia tengah mengenakan seragam dinasnya, lengkap dengan atribut lainnya. Dia akan benar-benar terlihat, perfect.

“Kirana,” panggil Rama lirih bersamaan dengan suara peluit panjang petugas kereta api. Menyentakkan pikiranku yang sempat berkeliaran ke masa lalu. Menjelajah ruang dan waktu.

Aku mendongak, menatap kedua bola matanya yang hitam. Menilik cinta yang selalu menyembuhkan dahagaku. Mematri tatapan itu dalam ingatan selama dia pergi. 

“Jangan menangisi kepergianku, iringilah kepergianku dengan senyuman. Yakinlah bahwa cinta yang kita miliki akan selalu membuat kita dekat.”

Aku menganggukkan kepala dengan patuh, air mata memang tidak bisa membuatnya meninggalkan tugas dan bukan pula langkah yang benar untuk mengantar kepergiannya.

“Aku bangga sama kamu Sersan Rama Aditya,” ujarku lirih, sembari mencoba untuk tersenyum.

Rama mengusap lembut pipiku dengan punggung tangannya, lalu dia menggumamkan sesuatu dengan suara khasnya yang rendah dan berat.

“Aku tahu kamu adalah wanitaku yang hebat. Tetaplah menjadi wanita kebanggaanku yang akan menjadi ibu dari calon anakku. Ingatlah, bahwa aku pergi bukan untuk berpaling dari cintamu. Aku pergi demi bumi pertiwi dan aku akan kembali demi kamu. Karena kamu adalah rumah yang aku tuju ketika kakiku membawa diriku untuk pulang.”

Rama menghela napas, kedua bola matanya nampak berjelaga. Dan sebagai kekasihnya, aku tahu apa yang dia rasakan meski dia bungkam. Dia mendekatkan tubuhnya, mendekapku. Lalu dia mengecupku dan mengakhirinya dengan sebuah kata,“Jaga dirimu!”

Aku mengangguk, “Kamu akan menjaga diri untukku juga?” tanyaku. Pertanyaan itu terlontar begitu saja tanpa permisi. Yang tak aku ketahui apa alasannya.

Aku melihat Rama tersenyum, senyuman yang selalu membuatku tenang meski hatiku tengah gaduh seramai pasar.

“Kamu akan menungguku?” balas Rama mengabaikan pertanyaanku.

Aku mengangguk cepat, “Aku akan menunggumu, bahkan jika kamu memintaku untuk menunggu seribu purnama, aku akan tetap menunggumu,” ujarku mantap dengan mata berkaca-kaca.

Lagi-lagi aku melihat dia mengukir seulas senyuman. Peluit panjang dari kondektur kembali terdengar, membuatnya melirik arah pintu kereta yang sudah sepi. Karena semua penumpang sudah naik ke atas kereta, dan hanya Rama lah yang masih berdiri di peron tiga. Bersama diriku dan beberapa petugas.

“Ini saatnya aku pergi,” ujarnya lirih. Langkah kakinya membawa tubuhnya mundur ke belakang, sementara kedua matanya masih tertuju padaku.

Aku mencoba menahan air mata yang hendak menghujani pipiku dengan mengurai senyuman di bibir.

“Selamat bertugas Sersan,” kataku mengiringi kepergiannya.

Peluit panjang kembali terdengar, membuat Rama melompat naik ke atas kereta. Seperti biasa, dia berdiri di ambang pintu. Untuk menatapku yang menatap kepergiannya. Untuk melambaikan tangan ke arahku. Untuk mengukir senyuman yang membuat bibirnya melengkung dengan sempurna.



****


Senja telah lenyap beberapa waktu yang lalu. Warna langit yang sempat cerah kini mulai kelabu. Seolah merentangkan tangan untuk memeluk sang malam yang akan datang. Perlahan rembulan keluar dari peraduannya. Mengintip dengan malu-malu sebelum benar-benar menampakkan cahanya.

Di sini, di bangku panjang stasiun di peron tiga. Aku kembali duduk termangu, menungu kereta terakhir dari Jogjakarta yang tak kunjung datang. Lima ratus purnama tlah terlewati, namun aku masih tetap setia menunggu di sini, di peron tiga. Tempat yang menjadi saksi bisu deritanya hati ditinggal kekasih. Saksi tatkala hati di peluk duka nestapa. Dan saksi dimana rindu yang tak pernah terbalas.

Stasiun yang selalu hingar bingar tak mampu mengusir kesepian yang mengekang. Mungkin karena Rama tak kunjung datang. Atau sebab hatiku kini berjelaga. Aku menatap purnama, menatap peron yang sepi, lalu menatap rel kereta api yang menua. Sama sepertiku yang sudah menua. Jarum jam berputar dengan lambat, sama seperti detak jantungku yang kian lama semakin melambat.

Sebutir kristal jatuh menyusuri pipiku yang keriput, menyisakan bekas yang mengering oleh embusan angin. Malam ini penantianku kembali sia-sia. Namun aku tak jera. Purnama belum berakhir, dan aku akan kembali. Menanti kepulangan Rama, karena aku adalah satu-satunya rumah yang dia punya. Aku bangkit, namun sebelum aku benar-benar menjejakkan kakiku yang rapuh, tubuhku tumbang. Kalung identitas Rama terlepas dari cengkeraman. Aku berusaha merabanya, namun tanganku terlalu rapuh untuk meraihnya.

Seiring dengan kaburnya pandanganku, aku mendengar derap sepatu miliknya. Melangkah secara perlahan menujuku. Membelah kesunyian purnama. Mengaburkan dinginnya malam. Akhirnya penantianku berakhir sebelum aku mencapai purnama yang ke seribu. 

Dia semakin mendekat. Dengan bibir yang mengukir senyum, tangannya terjulur ke arahku. Yang segera aku sambut dengan gegap gempita. Kekasihku sudah berpulang dan sekarang dia akan membawaku bersamanya. Sekarang aku bisa tidur dengan tenang dalam pangkuan ibu pertiwi bersama dirinya. 







#30/32 #weareS9J #s9j5keepfighting #s9j5keepwritin #purnama #peron3  #stasiunkediri #rememberyou #you#myarmy #imissyou

Komentar