Kami tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai Surya Air, karena lokasinya yang memang masih berada di Kota Kediri. Di dukung oleh kondisi jalanan yang masih lengang pagi ini. Dari pintu gerbang aku bisa melihat dan mendengarkan deru mesin helikopter serta baling-baling yang berputar dengan perlahan.
Menambah ritme kesedihan yang tengah mengoyak hatiku. Aku merasa tertekan dan tak berdaya, hingga yang ku lakukan selama perjalanan hanyalah membisu dengan kedua tangan yang saling terkepal.
Ingin rasanya aku memeluknya walau hanya untuk sesaat, untuk memastikan bahwa dia hanya akan pergi sebentar. Tapi yang terjadi aku justru menangis dalam hati. Menikmati rasa sakit dan ketakutan itu seorang diri. Aku memalingkan wajah ke luar jendela, melihat betapa indahnya gedung dan taman milik perusahaan Gudang Garam yang merupakan perusahaan rokok terbesar di Indonesia. Dan di saat itulah aku merasa tangan Bara menggenggam jemariku dengan penuh kehangatan.
Aku memutar kepala dan mendapati Bara tengah menatapku. Dengan tatapan yang teduh dia mampu meredamkan gejolak dalam hatiku. Dia berkedip pelan yang disusul dengan seulas senyuman.
"Bisa kita turun sekarang, aku nggak mau terlambat."
Suara Bara yang rendah dan berat terdengar begitu menyayat perasaanku. Aku mengangguk dan genggaman tangan Bara terlepas. Ku tatap tanganku bergantian dengan Bara yang kini tengah berjalan menuju bagasi.
Ku usap air mata yang tergenang dipelupuk mata lalu segera menyusul Bara. Aku mengedarkan pandangan, dari dulu aku selalu berharap untuk bisa masuk dalam kawasan ini. Kawasan dimana semua pesawat helikopter milik Gudang Garam disimpan dan diterbangkan. Aku melayangkan pandang nun jauh pada helikopter yang tengah di panasi.
Pedih, entah kenapa aku merasakan kepedihan itu. Seolah Bara akan pergi dari hidupku untuk selamanya. Dan tentu saja hal itu membuat akalku tidak waras.
"Nggak ada yang ketinggalan kan?"
Setelah beberapa saat membisu aku mendapati suaraku terdengar parau ketika berbicara. Bara menoleh, lalu menutup pintu bagasi dengan tangannya yang kekar. Seulas senyuman yang samat kembali terurai, membuat rasa kehilangan menyusup secara perlahan ke dalam rongga dada.
"Ada," tukasnya cepat. Sebelah matanya mengerling nakal ke arahku. "Meskipun aku pergi jauh tapi hati aku tinggal di sini bareng kamu."
Aku menatapnya tak yakin, tapi yang aku tatap justru memamerkan senyumannya. Dia memutar badan, lalu menggandengku untuk berjalan mendekati helikopter.
Ku tatap wajah Bara dari samping, wajahnya yang tampan terlihat begitu tenang. Seolah tak ada beban dalam ruang pikirnya.
"I love you Bara," ujarku lirih dengan mata yang masih tertuju padanya.
Ayunan kakinya terhenti, dia berdiam diri selama beberapa detik sebelum dia memutuskan untuk memalingkan wajah ke arahku. Kedua mata kami bertemu ketika dia sudah berhasil memutar badan. Dan disaat itulah aku melihat binar ketidak percayaan terpancar dalamnya.
"Kamu bilang apa barusan?"
Aku mengerjap dan itulah aku sadar, aku telah mengungkapkan perasaanku yang selama ini aku sanggah kepadanya.
"I love you, Bara."
Kedua bola mata Bara menatapku tidak percaya, namun kendati demikian kebahagiaan jelas terpancar dari wajahnya. Dia mencium pipiku sekilas lalu segera berlari menuju helikopter, karena yah pilot sudah menunggunya sedari tadi di kokpit. Sebelum dia benar-benar duduk dengan tenang di dalam helikopter, dia membalikkan badan.
Dia menatap ke arahku lalu di tengah kebisingan deru mesin dan baling-baling yang meraung-raung dia meneriakkan sebuah kalimat yang membuat hatiku terlonjak bahagia namun malu setengah mati.
"I love you, Senja!! I love you!!"
Tangannya melambai ke arahku sebagai tanda perpisahan dan secara perlahan sang pilot mulai menerbangkan burung baja itu. Membawa orang yang berhasil meluruhkan benteng pertahananku ke Kota Metropolitan demi tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
#30DWCJilid 5 #Day25
Menambah ritme kesedihan yang tengah mengoyak hatiku. Aku merasa tertekan dan tak berdaya, hingga yang ku lakukan selama perjalanan hanyalah membisu dengan kedua tangan yang saling terkepal.
Ingin rasanya aku memeluknya walau hanya untuk sesaat, untuk memastikan bahwa dia hanya akan pergi sebentar. Tapi yang terjadi aku justru menangis dalam hati. Menikmati rasa sakit dan ketakutan itu seorang diri. Aku memalingkan wajah ke luar jendela, melihat betapa indahnya gedung dan taman milik perusahaan Gudang Garam yang merupakan perusahaan rokok terbesar di Indonesia. Dan di saat itulah aku merasa tangan Bara menggenggam jemariku dengan penuh kehangatan.
Aku memutar kepala dan mendapati Bara tengah menatapku. Dengan tatapan yang teduh dia mampu meredamkan gejolak dalam hatiku. Dia berkedip pelan yang disusul dengan seulas senyuman.
"Bisa kita turun sekarang, aku nggak mau terlambat."
Suara Bara yang rendah dan berat terdengar begitu menyayat perasaanku. Aku mengangguk dan genggaman tangan Bara terlepas. Ku tatap tanganku bergantian dengan Bara yang kini tengah berjalan menuju bagasi.
Ku usap air mata yang tergenang dipelupuk mata lalu segera menyusul Bara. Aku mengedarkan pandangan, dari dulu aku selalu berharap untuk bisa masuk dalam kawasan ini. Kawasan dimana semua pesawat helikopter milik Gudang Garam disimpan dan diterbangkan. Aku melayangkan pandang nun jauh pada helikopter yang tengah di panasi.
Pedih, entah kenapa aku merasakan kepedihan itu. Seolah Bara akan pergi dari hidupku untuk selamanya. Dan tentu saja hal itu membuat akalku tidak waras.
"Nggak ada yang ketinggalan kan?"
Setelah beberapa saat membisu aku mendapati suaraku terdengar parau ketika berbicara. Bara menoleh, lalu menutup pintu bagasi dengan tangannya yang kekar. Seulas senyuman yang samat kembali terurai, membuat rasa kehilangan menyusup secara perlahan ke dalam rongga dada.
"Ada," tukasnya cepat. Sebelah matanya mengerling nakal ke arahku. "Meskipun aku pergi jauh tapi hati aku tinggal di sini bareng kamu."
Aku menatapnya tak yakin, tapi yang aku tatap justru memamerkan senyumannya. Dia memutar badan, lalu menggandengku untuk berjalan mendekati helikopter.
Ku tatap wajah Bara dari samping, wajahnya yang tampan terlihat begitu tenang. Seolah tak ada beban dalam ruang pikirnya.
"I love you Bara," ujarku lirih dengan mata yang masih tertuju padanya.
Ayunan kakinya terhenti, dia berdiam diri selama beberapa detik sebelum dia memutuskan untuk memalingkan wajah ke arahku. Kedua mata kami bertemu ketika dia sudah berhasil memutar badan. Dan disaat itulah aku melihat binar ketidak percayaan terpancar dalamnya.
"Kamu bilang apa barusan?"
Aku mengerjap dan itulah aku sadar, aku telah mengungkapkan perasaanku yang selama ini aku sanggah kepadanya.
"I love you, Bara."
Kedua bola mata Bara menatapku tidak percaya, namun kendati demikian kebahagiaan jelas terpancar dari wajahnya. Dia mencium pipiku sekilas lalu segera berlari menuju helikopter, karena yah pilot sudah menunggunya sedari tadi di kokpit. Sebelum dia benar-benar duduk dengan tenang di dalam helikopter, dia membalikkan badan.
Dia menatap ke arahku lalu di tengah kebisingan deru mesin dan baling-baling yang meraung-raung dia meneriakkan sebuah kalimat yang membuat hatiku terlonjak bahagia namun malu setengah mati.
"I love you, Senja!! I love you!!"
Tangannya melambai ke arahku sebagai tanda perpisahan dan secara perlahan sang pilot mulai menerbangkan burung baja itu. Membawa orang yang berhasil meluruhkan benteng pertahananku ke Kota Metropolitan demi tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
#30DWCJilid 5 #Day25
Komentar
Posting Komentar