"Kamu nggak perlu jelasin apa-apa lagi Senja," katanya lirih. "Aku sudah tahu jawabannya," imbuhnya.
Dia menjauhkan tubuhnya, namun matanya masih tertuju ke arahku. Aku memalingkan wajah, lalu meminta Kak Reno untuk segera bergegas mengemudikan mobil. Kak Reno menurut, secara perlahan Kak Reno melajukan mobil. Meninggalkan pelataran parkir rumah sakit dan meninggalkan Bara yang dihantam badai nestapa.
Air mataku bergulir seiring dengan hilangnya bayangan Bara dari kaca spion. Akhirnya tangis yang sedari tadi aku tahan meledak. Dan Kak Reno adalah saksi betapa tidak berdayanya diriku memperjuangkan cintaku pada Bara.
Kak Reno menggenggam tanganku yang membuatku berpaling menatapnya.
"Semuanya akan berlalu Senja, Kakak yakin kamu akan berhasil mengakhiri ujian hidup kamu," ucapnya berusaha meyakinkan diriku yang mulai lelah menghadapi ujian yang selalu singgah di hidupku.
*****
Sore ini senja kembali menampakkan pesonanya, semburat jingga bercampur merah dan violet menyatu dengan sempurna. Angin berembus menambah keindahan simfoni alam pada rumahku yang terletak jauh dari pinggiran kota. Namun semua keindahan itu tak lekas membuatku terkagum seperti dulu. Semuanya terasa hampa sekarang, mungkin karena cinta benar-benar hilang dari diriku.
"Pada akhirnya semua duka akan berlalu, berganti dengan sebuah senyuman yang akan kekal dan tak lekang oleh waktu. Pada akhirnya yang hilang akan digantikan dan yang sakit akan disembuhkan..."
Aku memutar tuas kursi roda begitu mendengar suara yang begitu aku kenal. Dan aku melihatnya, berdiri tak jauh dari tempatku dengan buku diary milikku ditangannya. Badannya sedikit kurus, dan wajahnya terlihat sendu.
"Bara..." panggilku lirih.
Dia mengangkat wajahnya, lalu menutup buku diary yang dia pegang dan berjalan menghampiriku.
"Lihat ini? Apa ini? Kenapa kamu mau menyembunyikan ini dan menghukum kita seumur hidup kamu? Apa kamu pikir kamu itu wonder woman? Apa kamu pikir selama ini aku hanya mencintai kamu karena fisik yang kamu miliki?" rentetan pertanyaan terlontar dari bibir Bara yang membuatku terisak saat itu juga.
"Tapi Bara, aku...."
"Pssssttt........ Aku cinta sama kamu, dan cinta aku nggak mandang bagaimana fisik kamu. Bahkan jika kecelakaan itu merenggut tangan dan wajah cantik kamu, aku akan tetap cinta sama kamu. Karena dari awal aku sudah memberikan seluruh cintaku ke kamu dan cinta itu tak akan pernah berkurang," tegas Bara memotong kalimatku. Bara mengusap air mata di pipiku sembari menggumamkan sesuatu.
"Berjanjilah kamu nggak akan pernah ninggalin aku apapun yang akan terjadi di hari esok!" ujar Bara dengan sungguh-sungguh.
Aku mengangguk yang membuat sinar kebahagiaan terpancar dari bola matanya yang kecil. Senyumnya terurai meskipun itu hanya senyuman simpul, kemudian dia merengkuhku dalam pelukannya sembari membisikan 3 kata yang dulu pernah dia ucapkan.
Tiga kata yang membuatku mengakhiri ujian kehidupan dan menatap masa depan dengan penuh semangat dan rasa syukur yang tiada henti.
Akhirnya hari ini, aku mendapatkan semua kebahagiaan yang sesungguhnya dalam hidup. Tak hanya kebahagiaan, namun aku juga mendapat pengalaman yang begitu berharga dalam kehidupanku.
Dia menjauhkan tubuhnya, namun matanya masih tertuju ke arahku. Aku memalingkan wajah, lalu meminta Kak Reno untuk segera bergegas mengemudikan mobil. Kak Reno menurut, secara perlahan Kak Reno melajukan mobil. Meninggalkan pelataran parkir rumah sakit dan meninggalkan Bara yang dihantam badai nestapa.
Air mataku bergulir seiring dengan hilangnya bayangan Bara dari kaca spion. Akhirnya tangis yang sedari tadi aku tahan meledak. Dan Kak Reno adalah saksi betapa tidak berdayanya diriku memperjuangkan cintaku pada Bara.
Kak Reno menggenggam tanganku yang membuatku berpaling menatapnya.
"Semuanya akan berlalu Senja, Kakak yakin kamu akan berhasil mengakhiri ujian hidup kamu," ucapnya berusaha meyakinkan diriku yang mulai lelah menghadapi ujian yang selalu singgah di hidupku.
*****
Sore ini senja kembali menampakkan pesonanya, semburat jingga bercampur merah dan violet menyatu dengan sempurna. Angin berembus menambah keindahan simfoni alam pada rumahku yang terletak jauh dari pinggiran kota. Namun semua keindahan itu tak lekas membuatku terkagum seperti dulu. Semuanya terasa hampa sekarang, mungkin karena cinta benar-benar hilang dari diriku.
"Pada akhirnya semua duka akan berlalu, berganti dengan sebuah senyuman yang akan kekal dan tak lekang oleh waktu. Pada akhirnya yang hilang akan digantikan dan yang sakit akan disembuhkan..."
Aku memutar tuas kursi roda begitu mendengar suara yang begitu aku kenal. Dan aku melihatnya, berdiri tak jauh dari tempatku dengan buku diary milikku ditangannya. Badannya sedikit kurus, dan wajahnya terlihat sendu.
"Bara..." panggilku lirih.
Dia mengangkat wajahnya, lalu menutup buku diary yang dia pegang dan berjalan menghampiriku.
"Lihat ini? Apa ini? Kenapa kamu mau menyembunyikan ini dan menghukum kita seumur hidup kamu? Apa kamu pikir kamu itu wonder woman? Apa kamu pikir selama ini aku hanya mencintai kamu karena fisik yang kamu miliki?" rentetan pertanyaan terlontar dari bibir Bara yang membuatku terisak saat itu juga.
"Tapi Bara, aku...."
"Pssssttt........ Aku cinta sama kamu, dan cinta aku nggak mandang bagaimana fisik kamu. Bahkan jika kecelakaan itu merenggut tangan dan wajah cantik kamu, aku akan tetap cinta sama kamu. Karena dari awal aku sudah memberikan seluruh cintaku ke kamu dan cinta itu tak akan pernah berkurang," tegas Bara memotong kalimatku. Bara mengusap air mata di pipiku sembari menggumamkan sesuatu.
"Berjanjilah kamu nggak akan pernah ninggalin aku apapun yang akan terjadi di hari esok!" ujar Bara dengan sungguh-sungguh.
Aku mengangguk yang membuat sinar kebahagiaan terpancar dari bola matanya yang kecil. Senyumnya terurai meskipun itu hanya senyuman simpul, kemudian dia merengkuhku dalam pelukannya sembari membisikan 3 kata yang dulu pernah dia ucapkan.
Tiga kata yang membuatku mengakhiri ujian kehidupan dan menatap masa depan dengan penuh semangat dan rasa syukur yang tiada henti.
Akhirnya hari ini, aku mendapatkan semua kebahagiaan yang sesungguhnya dalam hidup. Tak hanya kebahagiaan, namun aku juga mendapat pengalaman yang begitu berharga dalam kehidupanku.
#30DWCJilid5 #Day30 #akhir
Komentar
Posting Komentar