12 April 2017
Senja
Aku tak pernah menyangka bahwa aku akan menemukanmu di kota kecil tempatku bertugas. Sebuah kebetulan yang aneh namun menggembirakan. Bagaimana tidak? Bertahun-tahun lalu sejak menemukan buku diary ini di kursi bandara, anganku hanya tertuju pada sang pemilik buku ini.
Jangan tanyakan kenapa, karena aku tak bisa mengatakan alasannya. Yang aku ingat, aku telah jatuh cinta sejak membaca tulisan pertamamu.
Mungkin itu sangat naif, tapi yang terjadi sesungguhnya memanglah demikian adanya.
Aku jatuh cinta pada namamu yang ternyata secantik orangnya, pada setiap cerita yang kau torehkan dalam aksara sederhana namun penuh makna. Dan pada rasa sakit yang kau rasakan ketika Papa-mu pergi ke rumah Allah SWT.
Senja, tahukah kau bahwa aku jatuh cinta padamu? Jatuh sedalam-dalamnya hingga aku tak bisa keluar dari lubang yang tanpa sengaja kau tanamkan.
Senja, aku mencintaimu tanpa berkesudahan. Bahkan cinta itu mengganda berkali-kali lipat setiap melihat senyum yang merekah dari bibir yang selalu kau pulas dengan lipstik tipis.
Hari ini, pada detik ini, semua tanda tanya besar dalam otakku terjawab sudah. Bara bukan dengan sengaja mencari tahu segala hal tentangku, tapi buku diary inilah yang memilih Bara untuk menjadi pemilik sementara. Karena mungkin, jika orang lain yang menemukannya waktu itu, buku ini akan berakhir pada tong sampah di sudut bandara Soekarno Hatta. Air mengusap air mataku yang tak lagi bisa aku tahan, lalu membuka lembar berikutnya hingga semua lembaran yang terisi oleh goresan tintanya terbaca olehku.
13 April 2017
Senja, pagi ini kita bertemu lagi. Pertemuan itu bukanlah sebuah kebetulan, karena sejak aku dengan tanpa sengaja menemukanmu aku berniat untuk menemuimu. Bukan untuk merayu atau menggodamu! Aku datang hanya ingin melihat rona di wajahmu, senyuman dan juga mata pemilik raga wanita yang mencuri hatiku sejak bertahun-tahun lalu. Karena itu aku datang pagi-pagi hanya untuk menunggu kedatanganmu.
Jujur, aku sudah berdiri selama satu jam hanya untuk menunggumu. Dan semua itu aku lakukan karena aku tak ingin menghilangkan kesempatan untuk mengenalmu. Dan alam merestui niatanku, secara tiba-tiba arus listrik di kompleks ruko milikmu padam. Yang membuat gunting listrikmu atau lebih dikenal dengan istilah clipper tidak bisa berfungsi dengan sebagaimana mestinya.
Dalam hati aku bersorak, karena pekerjaanmu tertunda dan itu artinya aku mempunyai waktu lebih lama untuk bercengkerama denganmu.
20 April 2017
Tanggal 20 April 2017 pukul 21.45 WIB tanpa sadar aku mengucapkan tiga kata yang membuatmu terkejut.
"I love you," kataku dengan tiba-tiba.
Maaf, aku tak bermaksud ingin mengejutkanmu atau menambah masalah dalam hidupmu dengan mengungkapkan perasaanku. Hanya saja, setelah mendengar perjalanan cintamu aku tak bisa menahan lebih lama lagi untuk mengungkapkannya. Terlebih lagi untuk pertama kalinya aku melihat butiran bening dari kedua mata sipitmu menuruni pipi yang selalu merona tatkala kau tersenyum.
Karena itu aku memilih mengungkapkannya, dan hal itu aku lakukan agar kau bisa melihat bahwa ada seorang lelaki yang mencintaimu tanpa pamrih. Bahwa selain Dion, ada seorang lelaki yang menatap dan menantikanmu sejak bertahun-tahun lamanya. Dan lelaki itu adalah aku, Bara Haditama.
Selain itu aku ingin agar kau bisa memahami dan mengerti bahwa kau tak layak berteman dengan luka yang tiada bertepi akibat perbuatan sahabat dan mantan kekasihmu itu.
Kau tak layak merajut luka yang pada akhirnya membuat hatimu berjelaga!
24 April 2017
Hari ini aku melihat dua senja di depan mataku, keduanya sangat cantik dan menawan. Namun hanya satu senja yang mampu menghipnotisku. Dan senja yang ku maksud itu adalah kamu Senja, Senja Kumala Dewi. Gadis cantik yang selama bertahun-tahun menjadi penghuni dalam hatiku.
Ya, hari ini kau telah menghipnotisku dengan segala sesuatu yang kau miliki. Aku akan mengambil satu hal dari banyaknya hal yang kau miliki untuk aku ceritakan.
Hari ini kau tertawa lepas, tawa yang tak pernah aku dengar dan lihat selama kita bersama. Dan tawa itu membuatku semakin jatuh cinta padamu. Bagaimana tidak? Ketika kau tertawa, kecantikanmu bertambah berpuluh-puluh kali lipat.
Senja, aku tidak akan memaksamu untuk segera membalas perasaanku. Lagi pula apa gunanya memiliki cinta yang tergesa-gesa bila akhirnya kandas sebelum cinta yang sebenarnya mekar?
Tak apa jika aku belum atau bahkan tidak menjadi tuan rumah di hatimu, karena aku tahu semua itu butuh proses. Dan aku akan menikmati semua prosesnya. Seperti pada hari ini, menemanimu bermain di pantai yang berlanjut menikmati indahnya senja adalah sebagian kecil dari proses itu.
30 April 2017
Selamat malam Senja,
bersama buku diary ini izinkan aku tuk menitipkan rindu yang tak pernah berujung ini padamu.
Semoga rasa rindu itu segera terbalas oleh rindumu,
dan menyatu seperti senandung lagu cinta yang kerap di nyanyikan oleh mereka yang bersuara emas.
〰〰〰〰〰〰〰〰〰
Besok buku diary ini akan kembali pada sang pemiliknya. Berat memang melepas sesuatu yang sudah menjadi bagian dalam hidupku, tapi entah kenapa aku merasa harus mengembalikan buku ini pada pemilik yang sebenarnya.
Aku hanya berharap selepas kepergianku, kau akan membaca setiap kata yang aku bubuhkan dengan segenap hati untukmu.
Maaf karena aku turut mengisi lembaran kosong yang telah lama tak kau singgahi. Dan maaf karena aku telah membaca semua yang kau tulis tentang dirimu yang membuatku tahu segala hal tentangmu yang tak diketahui oleh orang lain bahkan Dion sekalipun..
Aku terisak pilu, lalu mendekap buku diary yang ditinggalkan Bara dengan erat seakan-akan bahwa buku itu adalah Bara. Bahuku berguncang hebat seiring dengan tangisku yang semakin dalam dan terdengar menyayat hati.
Surabaya, 27 Mei 2017
Embusan angin membelai wajahku tatkala aku menyusuri koridor RSUD dr. Soetomo. Aku merapatkan sweater yang aku kenakan, karena angin itu membuat tubuhku meremang dan merasa kedinginan. Mungkin karena langit tengah bersembunyi di balik awan, oleh sebab itu angin yang berembus terasa dingin.
"Kak, aku mau nyoba berdiri," ujarku pada Kak Reno yang sudah hampir 2 pekan selalu mengantar kemanapun aku pergi. Karena dia adalah satu-satunya sepupu cowok yang aku punya.
"Tapi kaki kamu belum kuat, Senja!" tegas Kak Reno dengan nada lirih. Kak Reno melepas pegangan kursi roda, lalu berdiri di hadapanku.
"Aku mau nyoba Kak, please!" pintaku sekali lagi.
"Oke, hanya sekali. Kalau nggak bisa Kakak gendong kamu seperti biasa, dan kamu nggak boleh ngeyel!" tegas Kak Reno penuh perhatian.
Aku tersenyum sembari mengangguk mengiyakan, lalu Kak Reno membuka pintu mobil dan membantuku untuk berdiri. Tapi ternyata nihil, aku kembali terjatuh dan itu membuatku terluka.
Kak Reno berjongkok, mengangkat wajahku dan mengusap air mataku. "Apa yang dikatakan dokter itu benar Kak? Bahwa aku akan tetap seperti ini sepanjang hidup aku?" tanyaku dengan suara parau.
Kak Reno menggeleng, "Suatu saat nanti Kakak yakin kamu bisa jalan lagi dan bahkan berlari. Jadi, jangan pernah hadirkan kata menyerah dalam hidup kamu. Ok?"
Dan seperti biasa, suntikan semangat yang diberikan Kak Reno selalu berhasil membuat perasaanku lebih baik.
"Kita pergi sekarang?" tanyanya dan aku jawab dengan anggukan pelan.
Beberapa menit kemudian, setelah aku duduk pada kursi penumpang dan setelah kursi roda itu mencapai bagasi, ada seseorang yang menghampiriku. Entah dari mana dari dia datang aku tidak tahu. Dia memanggil namaku dengan nada yang membuat ulu hatiku terasa sakit.
Dia sedikit berjongkok dan menundukkan wajah untuk bisa melihatku, tapi aku hanya bisa menatapnya sekilas.
Akhirnya hal yang ku takutkan terjadi, ku remas ujung sweater dengan erat. Aku tidak berani membalas tatapannya, karena jika aku membalasnya aku takut kalau aku tidak bisa menyembunyikan fakta tentang diriku.
"Senja kenapa kamu pergi?" tanyanya dengan nada putus asa.
"Kenapa kamu pergi tinggalin aku Senja? Kenapa kamu pergi bahkan sebelum aku kembali?" tanyanya lagi yang membuat napasku memburu menahan takut dan kepedihan dalam waktu yang bersamaan.
Hening, aku tak menyahut perkataannya. Aku mengerjap, berusaha untuk tidak meneteskan air mata yang sudah tergenang di pelupuk mata. Namun pertanyaan berikutnya sukses membuatku berpaling. Kedua mata kami bertemu untuk sepersekian detik yang semakin membuat napasku tercekat.
"Katakan apa alasannya senja?" ulangnya menuntut penjelasan.
"Semuanya udah aku katakan Bara!" ucapku lirih nyaris terdengar sebuah bisikan.
Bara menggeleng pelan, kemudian kedua matanya terpaku pada pintu kemudi yang terbuka. Aku mengikuti arah matanya dan menemukan Kak Reno duduk di kursi kemudi tanpa menyadari kehadiran Bara.
Perlahan cengkeraman tangan Bara pada jendela mobil mengendur. Sorot matanya menyiratkan luka yang baru tertoreh di hatinya, aku juga melihat kedua bola matanya mulai berkaca-kaca. Dia menatapku dengan tatapan pedih dan seulas senyuman yang di paksakan. Sementara aku tetap mencoba menahan tangis yang siap meledak kapanpun juga.
#30DWCJilid5 #Day29
Komentar
Posting Komentar