Air mataku bergulir, dalam diam aku menahan tangis yang tak kuasa aku bendung lagi. Baru 2 minggu yang lalu aku mengutarakan perasaanku dan dia menyambutnya dengan gegap gempita. Dia bahagia, aku bisa merasakan hal itu. Karena aku juga mengalaminya.
Tapi di waktu yang sama kebahagiaan itu terenggut. Mengoyak hatiku dan menghancurkannya bagai buih di lautan. Menyisakan luka kepedihan yang tak kan pernah sembuh oleh waktu.
"Sayang kita pulang sekarang ya? Reno sudah menunggu di bawah," ujar Mama.
Aku mengangkat wajah, menatap Mama yang kini tengah berjongkok agar bisa melihat wajahku. "Ma, kita langsung pulang ke Surabaya ya? Senja nggak mau lagi tinggal di sini," ujarku lirih di iringi dengan air mata yang terus meleleh bagaikan es yang mencair.
"Tapi sayang...."
"Please Ma, Senja mohon..." potongku penuh harap. Ku genggam tangannya dengan erat, berharap Mama mengabulkan permintaanku tanpa syarat.
Tatapan Mama terlihat sendu, guratan kesedihan terlihat jelas di wajahnya. Sembari mengusap pipiku penuh sayang, Mama menganggukkan kepala. Pertanda bahwa Mama mengabulkan permintaanku.
35 menit kemudian kami bertiga, aku, Mama dan Kak Reno kakak sepupu aku sampai di rumah yang selama dua minggu tidak aku tempati. Kedua mataku menjelejahi setiap sudut halaman yang kini mulai ditumbuhi rumput liar. Menjadikan rumah ini seolah tak berpenghuni dan memang akan tak berpenghuni lagi setelah hari ini.
Kak Reno menurunkanku dari mobil dengan cara menggendongku yang kemudian didudukkan pada kursi roda. Kursi roda yang akan menjadi teman seumur hidupku, teman yang akan menjadi saksi ketidak berdayaanku.
Aku tersenyum getir, bagaimana tidak?
Kehidupanku sekarang akan sangat berbanding terbalik dengan kehidupanku yang dulu. Dulu aku tidak membutuhkan bantuan siapapun untuk melakukan apa yang aku inginkan, tapi sekarang? Untuk keluar dari mobil saja aku membutuhkan bantuan, karena kakiku tak lagi mau berpijak.
Perlahan Kak Reno mendorong kursi rodaku ke dalam rumah. Sesampai di ruang tamu aku melihat sesuatu yang tergeletak di atas meja. Aku memicingkan mata, lalu meminta Kak Reno untuk menghentikan dorongan kursi rodaku.
Aku mengarahkan kursi roda pada meja, sesuatu itu adalah sebuah buku diary yang berlatar menara Eifel Paris. Tiba-tiba napasku tercekat, mengingat buku diary itu sama persis dengan buku diary milikku yang telah lama hilang. Namun siapa gerangan yang telah membawa buku diary ini? Bagaimana mungkin buku diary yang bertahun-tahun hilang bisa ada di sini dengan tiba-tiba?
Berbagai pertanyaan berkeliaran dalam otakku, membuat jantungku bergemuruh begitupun dengan napasku yang semakin memburu. Sementara darahku mulai mengalir dengan deras. Membuat tubuhku memanas dan bergejolak. Ragu-ragu aku meraih buku diary yang bernuansa vintage itu di atas meja.
Air mataku bergulir bersamaan dengan keringat dingin yang mulai membasahi pipi. Aku mengambil buku diary itu dan memangkunya. Perlahan aku merabanya, lalu membuka cover diary itu. Seketika itu tatapanku tertumbuk pada coretan tinta berwarna-warna yang membentuk sebuah langit di petang hari. Aku masih ingat betul siapa yang memberi buku diary ini, dan orang itu adalah Papa. Dan ketika Papa memberinya aku langsung menggambarinya dengan pemandangan senja yang indah.
Papa memberi hadiah ini beberapa hari menjelang kepergiannya. Waktu itu Papa mengatakan bahwa buku ini akan menemaniku dan bisa menjadi teman bercerita ketika Papa pergi. Dan semua perkataannya benar, karena sepeninggal Papa satu-satunya teman untukku berbagi cerita selain Sella adalah buku diary ini.
Tesss
Air mataku jatuh membasahi lembar pertama pada buku diary yang menjadi sahabatku sejak kelas 1 SMA. Lembar demi lembar aku buka, mencoba mengenang di masa silam. Hingga entah pada lembaran ke berapa kedua mataku terpaku pada sebuah tulisan asing yang turut mengisi lembar kosong yang aku tinggalkan.
#30DWCJilid5 #Day28
Tapi di waktu yang sama kebahagiaan itu terenggut. Mengoyak hatiku dan menghancurkannya bagai buih di lautan. Menyisakan luka kepedihan yang tak kan pernah sembuh oleh waktu.
"Sayang kita pulang sekarang ya? Reno sudah menunggu di bawah," ujar Mama.
Aku mengangkat wajah, menatap Mama yang kini tengah berjongkok agar bisa melihat wajahku. "Ma, kita langsung pulang ke Surabaya ya? Senja nggak mau lagi tinggal di sini," ujarku lirih di iringi dengan air mata yang terus meleleh bagaikan es yang mencair.
"Tapi sayang...."
"Please Ma, Senja mohon..." potongku penuh harap. Ku genggam tangannya dengan erat, berharap Mama mengabulkan permintaanku tanpa syarat.
Tatapan Mama terlihat sendu, guratan kesedihan terlihat jelas di wajahnya. Sembari mengusap pipiku penuh sayang, Mama menganggukkan kepala. Pertanda bahwa Mama mengabulkan permintaanku.
35 menit kemudian kami bertiga, aku, Mama dan Kak Reno kakak sepupu aku sampai di rumah yang selama dua minggu tidak aku tempati. Kedua mataku menjelejahi setiap sudut halaman yang kini mulai ditumbuhi rumput liar. Menjadikan rumah ini seolah tak berpenghuni dan memang akan tak berpenghuni lagi setelah hari ini.
Kak Reno menurunkanku dari mobil dengan cara menggendongku yang kemudian didudukkan pada kursi roda. Kursi roda yang akan menjadi teman seumur hidupku, teman yang akan menjadi saksi ketidak berdayaanku.
Aku tersenyum getir, bagaimana tidak?
Kehidupanku sekarang akan sangat berbanding terbalik dengan kehidupanku yang dulu. Dulu aku tidak membutuhkan bantuan siapapun untuk melakukan apa yang aku inginkan, tapi sekarang? Untuk keluar dari mobil saja aku membutuhkan bantuan, karena kakiku tak lagi mau berpijak.
Perlahan Kak Reno mendorong kursi rodaku ke dalam rumah. Sesampai di ruang tamu aku melihat sesuatu yang tergeletak di atas meja. Aku memicingkan mata, lalu meminta Kak Reno untuk menghentikan dorongan kursi rodaku.
Aku mengarahkan kursi roda pada meja, sesuatu itu adalah sebuah buku diary yang berlatar menara Eifel Paris. Tiba-tiba napasku tercekat, mengingat buku diary itu sama persis dengan buku diary milikku yang telah lama hilang. Namun siapa gerangan yang telah membawa buku diary ini? Bagaimana mungkin buku diary yang bertahun-tahun hilang bisa ada di sini dengan tiba-tiba?
Berbagai pertanyaan berkeliaran dalam otakku, membuat jantungku bergemuruh begitupun dengan napasku yang semakin memburu. Sementara darahku mulai mengalir dengan deras. Membuat tubuhku memanas dan bergejolak. Ragu-ragu aku meraih buku diary yang bernuansa vintage itu di atas meja.
Air mataku bergulir bersamaan dengan keringat dingin yang mulai membasahi pipi. Aku mengambil buku diary itu dan memangkunya. Perlahan aku merabanya, lalu membuka cover diary itu. Seketika itu tatapanku tertumbuk pada coretan tinta berwarna-warna yang membentuk sebuah langit di petang hari. Aku masih ingat betul siapa yang memberi buku diary ini, dan orang itu adalah Papa. Dan ketika Papa memberinya aku langsung menggambarinya dengan pemandangan senja yang indah.
Papa memberi hadiah ini beberapa hari menjelang kepergiannya. Waktu itu Papa mengatakan bahwa buku ini akan menemaniku dan bisa menjadi teman bercerita ketika Papa pergi. Dan semua perkataannya benar, karena sepeninggal Papa satu-satunya teman untukku berbagi cerita selain Sella adalah buku diary ini.
Tesss
Air mataku jatuh membasahi lembar pertama pada buku diary yang menjadi sahabatku sejak kelas 1 SMA. Lembar demi lembar aku buka, mencoba mengenang di masa silam. Hingga entah pada lembaran ke berapa kedua mataku terpaku pada sebuah tulisan asing yang turut mengisi lembar kosong yang aku tinggalkan.
#30DWCJilid5 #Day28
Komentar
Posting Komentar