Semuanya menjadi gelap dan berkelabu, mimpi yang indah terhempas sebelum diwujudkan. Aku merasa dunia ini runtuh tepat di tempat aku berpijak. Sakit ini, penderitaan ini rupanya masih enggan meninggalkanku dan justru hadir di tengah Bara dan aku.
"Kecelakaan itu rupanya berakibat fatal. Dengan berat hati saya menyampaikan bahwa putri Ibu, Nona Senja mengalami kelumpuhan permanen."
Begitulah ucap dokter yang menanganiku di RS Baptis. Ucapan itu terdengar bagai petir yang menggelegar dengan begitu dasyatnya. Merenggut paksa kebahagiaan yang tengah aku rasakan. Bahkan aku belum sempat mencium aroma kebahagiaan yang sebenarnya bersama Bara.
"Nggak mungkin! Ini nggak mungkin terjadi sama aku!" sanggahku menggelengkan kepala berusaha menyangkal di tengah fakta yang ada.
"Ini pasti kesalahan! Dokter pasti ngelakuin kesalahan!" ucapku lagi dengan nada yang meninggi. Air mata meleleh tanpa bisa aku tahan.
Dibantu oleh perawat Mama berusaha menenangkanku, namun aku memberontak. Aku melepas pegangan mereka berdua dan berusaha turun dari ranjang, tapi sayangnya aku terjerembab jatuh ke bawah. Aku menggerakkan kakiku, tapi tetap tak bisa dan hal itu membuat tangisku pecah.
Aku memukul lantai porselen RS yang berwarna putih sampai pelukan dan belaian Mama menghentikanku untuk melakukan hal itu. Dalam pelukan Mama aku menumpahkan semua kesedihan dan penderitaan yang menderaku.
Penderitaan yang teramat dalam dan besar, karena kelumpuhan ini tak hanya membuatku kehilangan kebebasan untuk bergerak. Namun juga merenggut karir dan keindahan cinta yang belum aku cicipi.
*****
"Senja, ponsel kamu berdering sayang. Kamu nggak mau angkat?" tegur Mama yang mendengar ponsel smartphone kepunyaanku kembali meraung entah yang keberapa kalinya.
Aku tak mengacuhkannya, karena aku tahu. Panggilan itu berasal dari Bara. Dan saat ini aku benar-benar tak sanggup berbicara dengannya. Bahkan walau hanya sekedar untuk mengatakan selamat siang.
Namun kemudian aku berubah pikiran, semuanya harus berakhir sekarang. Kataku dalam hati. Ku raih ponsel yang tergeletak di tepi ranjang untuk mengangkat panggilan dari Bara. Dan seketika itu aku merasa kepedihan begitu menyayat hati. Secara spontan aku membekap mulutku yang hampir menyuarakan isak tangis yang mulai pecah.
"Ya Tuhan Senja, kamu kemana saja? Berhari-hari aku mencoba menghubungi kamu, tapi ponsel kamu nggak aktif?" cecar Bara di ujung seberang.
"Senja, kamu masih di sana?" tanya Bara yang tak menerima jawaban apapun dariku.
Ku usap air mata dan ku coba untuk menenangkan hati untuk beberapa saat.
"Aku masih di sini Bara," sahutku kemudian. Aku tahu Bara pasti menyadari perubahan suaraku. Karena ku akui, aku gagal menyembunyikan suaraku yang parau.
"Senja kamu baik-baik saja kan?"
Aku menangkap perubahan suaranya dan aku yakin di sana, dia mulai mengkhawatirkan aku.
"Aku baik-baik aja Bar," ujarku pendek.
"Syukurlah kalau begitu," sahutnya terdengar lega.
"Bara aku mau pergi selamanya dari sini, dari kota ini dan juga dari hidup kamu."
"Senja apa maksud kamu?" suara di seberang terdengar terkejut sekaligus bingung yang membuatku semakin terluka.
"Aku udah nemuin duniaku, dan di dalam dunia itu nggak ada kamu. Jadi aku mohon sama kamu berhenti ganggu hidup aku dan jngan pernah hubungi aku lagi."
"Tapi Senja, kamu bilang kamu cinta sama aku?" timpalnya dengan suara berat.
"Itu kesalahan yang seharusnya tak aku ucapkan."
#30DWCJilid5 #Day27
"Kecelakaan itu rupanya berakibat fatal. Dengan berat hati saya menyampaikan bahwa putri Ibu, Nona Senja mengalami kelumpuhan permanen."
Begitulah ucap dokter yang menanganiku di RS Baptis. Ucapan itu terdengar bagai petir yang menggelegar dengan begitu dasyatnya. Merenggut paksa kebahagiaan yang tengah aku rasakan. Bahkan aku belum sempat mencium aroma kebahagiaan yang sebenarnya bersama Bara.
"Nggak mungkin! Ini nggak mungkin terjadi sama aku!" sanggahku menggelengkan kepala berusaha menyangkal di tengah fakta yang ada.
"Ini pasti kesalahan! Dokter pasti ngelakuin kesalahan!" ucapku lagi dengan nada yang meninggi. Air mata meleleh tanpa bisa aku tahan.
Dibantu oleh perawat Mama berusaha menenangkanku, namun aku memberontak. Aku melepas pegangan mereka berdua dan berusaha turun dari ranjang, tapi sayangnya aku terjerembab jatuh ke bawah. Aku menggerakkan kakiku, tapi tetap tak bisa dan hal itu membuat tangisku pecah.
Aku memukul lantai porselen RS yang berwarna putih sampai pelukan dan belaian Mama menghentikanku untuk melakukan hal itu. Dalam pelukan Mama aku menumpahkan semua kesedihan dan penderitaan yang menderaku.
Penderitaan yang teramat dalam dan besar, karena kelumpuhan ini tak hanya membuatku kehilangan kebebasan untuk bergerak. Namun juga merenggut karir dan keindahan cinta yang belum aku cicipi.
*****
"Senja, ponsel kamu berdering sayang. Kamu nggak mau angkat?" tegur Mama yang mendengar ponsel smartphone kepunyaanku kembali meraung entah yang keberapa kalinya.
Aku tak mengacuhkannya, karena aku tahu. Panggilan itu berasal dari Bara. Dan saat ini aku benar-benar tak sanggup berbicara dengannya. Bahkan walau hanya sekedar untuk mengatakan selamat siang.
Namun kemudian aku berubah pikiran, semuanya harus berakhir sekarang. Kataku dalam hati. Ku raih ponsel yang tergeletak di tepi ranjang untuk mengangkat panggilan dari Bara. Dan seketika itu aku merasa kepedihan begitu menyayat hati. Secara spontan aku membekap mulutku yang hampir menyuarakan isak tangis yang mulai pecah.
"Ya Tuhan Senja, kamu kemana saja? Berhari-hari aku mencoba menghubungi kamu, tapi ponsel kamu nggak aktif?" cecar Bara di ujung seberang.
"Senja, kamu masih di sana?" tanya Bara yang tak menerima jawaban apapun dariku.
Ku usap air mata dan ku coba untuk menenangkan hati untuk beberapa saat.
"Aku masih di sini Bara," sahutku kemudian. Aku tahu Bara pasti menyadari perubahan suaraku. Karena ku akui, aku gagal menyembunyikan suaraku yang parau.
"Senja kamu baik-baik saja kan?"
Aku menangkap perubahan suaranya dan aku yakin di sana, dia mulai mengkhawatirkan aku.
"Aku baik-baik aja Bar," ujarku pendek.
"Syukurlah kalau begitu," sahutnya terdengar lega.
"Bara aku mau pergi selamanya dari sini, dari kota ini dan juga dari hidup kamu."
"Senja apa maksud kamu?" suara di seberang terdengar terkejut sekaligus bingung yang membuatku semakin terluka.
"Aku udah nemuin duniaku, dan di dalam dunia itu nggak ada kamu. Jadi aku mohon sama kamu berhenti ganggu hidup aku dan jngan pernah hubungi aku lagi."
"Tapi Senja, kamu bilang kamu cinta sama aku?" timpalnya dengan suara berat.
"Itu kesalahan yang seharusnya tak aku ucapkan."
#30DWCJilid5 #Day27
Komentar
Posting Komentar