Bara Di Langit senja Bag. 19


Senyumku terurai, beban berat yang beberapa saat lalu aku pikul sirna dalam sekejap. Begitupun dengan kesedihan dan ketakutanku. Berganti dengan rasa bahagia yang membuncah di dalam dada. Sekeping harapan telah terbentuk pagi ini, mengutuhkan hati yang pernah retak dan patah. Bersamaan dengan baling-baling pesawat yang berputar pelan, aku berhasil melewati pusaran gelap yang menyesatkanku.


Hari ini aku mendapatkan kehidupanku kembali, hari ini cinta telah memilihku untuk menjaganya. Aku bahagia, benar-benar bahagia hingga tanpa sadar aku meneteskan air mata dibuatnya.


Perlahan aku berjalan mundur ke belakang sembari menatap pesawat kecil yang semakin membumbung jauh di angkasa menerbangkan kekasihku pada tujuannya. Jantungku berdegub kencang, tak sabar rasanya untuk menanti kepulangannya.


Beberapa saat kemudian, seiring dengan hilangnya jejak burung besi itu dari pandanga,  aku membalikkan badan. Berjalan tanpa memandang keadaan di sekelilingku karena dalam ruang pikirku dipenuhi oleh Bara. Hingga aku tak mendengar teriakan orang-orang di area penerbangan yang juga merupakan tempat keluar masuk truk kontainer milik perusahaan, yang memintaku untuk segera menyingkir. Aku memang embalikkan badan namun semuanya terlambat, truk besar itu melaju ke arahku tanpa kendali. Menghantam tubuhku yang terlampau terkejut untuk bergerak.



Aku merasa sangat ringan ketika tubuhku melayang ke udara yang pada akhirnya terhempas ke atas lantai semen yang mulai terasa panas. Tidak ada teriakan atau suara sedikitpun yang keluar dari bibirku. Aku hanya bisa meneteskan air mata sebagai bentuk rasa sakit yang teramat sangat. Perlahan aku membuka mata dan aku melihat beberapa pasang sepatu berlarian menuju ke arahku. Aku juga bisa melihat darah segar berbau anyir mulai merembes dari kepalaku.


Lamat-lamat aku mendengar suara orang berteriak dengan panik dan derap sepatu yang semakin mendekat. Kedua mataku berkedip dengan lemah bahkan pandanganku semakin lama semakin kabur seiring dengan suara sirene ambulans.




*****




Aku merasa sekujur tubuhku terasa ngilu dan sakit, kepalaku pun terasa berdenyut dengan keras. Samar-samar aku dapat mendengar suara Mama yang tengah berbincang pada seseorang. Dengan susah payah aku berusaha membuka kelopak mataku yang telah terpejam untuk memastikan pendengaranku.


Aku mengedarkan pandangan karena tempat ini terlihat asing di mataku. Di tempat ini semuanya serba putih, dari warna dinding hingga selimut yang aku kenakan.


"Mama."


Panggilku lirih ketika melihat Mama berdiri membelakangiku. Mama dan orang yang diajak bicara itu menoleh dan menatap ke arahku. Dari raut muka Mama aku bisa melihat sisa kepanikan yang beliau rasakan.


Mama segera berjalan ke sisi ranjang lalu menciumiku kemudian aku merasakan suster yang baru berbincang dengan Mama memeriksa keadaanku.


"Sayang kamu sudah sadar Nak?" tanya Mama padaku yang aku jawab dengan anggukan pelan.


Mama mendongak, menatap suster jaga yang tengah menuliskan sesuatu pada catatan yang dia bawa.


"Sus, bagaimana keadaan putri saya?" tanya Mama yang membuatku berpaling pada suster yang mulai keriput termakan usia.


"Keadaanya normal Bu, sudah mengalami banyak kemajuan. Istirahat yang cukup dan minum obat teratur pasti bisa cepat sembuh," ujarnya dengan ramah.


Senyum Mama semakin melebar, kedua matanya berbinar lalu beliau mengusap kepalaku yang dibalut kasa putih dengan lembut.


"Ma badan aku capek, aku duduk ya?" tanyaku meminta pendapat Mama.


Namun sebelum  mendapat persetujuannya aku mulai mencoba untuk bangkit. Tapi ketika aku melakukannya aku mengalami kesulitan karena kakiku tidak bisa digerakkan.


"Mama kaki aku kenapa?" tanyaku panik.


Tapi Mama tak kunjung menyahut, mungkin karena beliau tengah berada di dalam kamar mandi, sehingga tak mendengar suaraku. Aku menyibak selimut yang menutupinya dan bisa aku lihat bahwa kakiku pun mengalami cedera. Tapi anehnya aku tidak merasa nyeri atau hal lainnya. Aku berusaha menggerakkan kakiku dan mencoba turun dari ranjang, tapi yang terjadi sungguh mencengangkan. Aku terjerembab ke bawah, sebelum kakiku mampu menahan berat tubuhku.


"Senja....!" pekik Mama yang melihatku berusaha bangkit dari lantai.


Aku mendongak, menatap wajah Mama dengan wajah penuh air mata.




#30DWCJilid5 #Day26

Komentar