Bara di Langit Senja Bag. 16


Kedua mataku terbuka seiring dengan gerakan tangan Bara yang mulai menjauh dari kepalaku. Aku mengerjap, menatapnya dengan malu yang tertahan. Karena apa yang aku pikirkan ternyata tidaklah terjadi. Bara menarik satu sudut bibirnya yang membentuk seulas senyuman. Dengan mata yang masih terpaku padaku, dia menunjukkan telapak tangan kanannya yang sontak membuat wajahku terasa panas mengingat apa yang ada dalam pikiranku beberapa saat lalu.


Bara tersenyum sementara aku segera menyingkirkan sarang laba-laba yang ada di sela-sela jemarinya dengan rasa gugup yang menyerang tanpa alasan. Dan kemudian aku berjingkat yang membuat kursiku terdorong kebelakang. Dengan wajah yang aku buat setenang mungkin aku mencari alasan untuk membuat Bara segera menyingkir dari tempatnya berada saat ini.



"Aku lupa, kalau aku harus telepon delivery," kataku. "Mama udah pulang jadi aku nggak sempet masak tadi pagi," imbuhku celingukan mencari ponselku yang ternyata tergeletak tak jauh dari pantat Bara.



Dengan cepat aku menyambarnya dan segera menekan beberapa angka pada LCD smartphoneku. Namun sebelum aku menghubungkan sambungan tersebut Bara mengambil ponsel dan kembali meletakkannya ke meja.



"Kenapa harus delivery? Selama ada aku, kamu nggak perlu repot telepon pihak delivery."



Aku menatap Bara, meminta penjelasan dan dia justru tersenyum simpul. Kemudian dia bangkit dan menggamit lenganku tanpa bertanya terlebih dahulu. Dan yang dilakukan selanjutnya lebih di luar dugaan. Dia menutup salon dan menggantungkan sebuah tulisan 'Buka pukul 14.15 WIB' di pintu kaca yang langsung membuatku melongo di tempat.



Beberapa menit kemudian kami sudah duduk di XO kafe yang letaknya berhadapan dengan Kediri Town Square atau istilah kerennya KTOS. Seorang waitress yang berpakain rapi dengan rok selututnya datang menghampiri kami dengan buku menu serta note kecil di tangannya. Aku membuka buku menu itu, menyusuri setiap halamannya untuk mencari menu andalanku. Ketemu, menu itu ada pada halaman ke 3 buku menu dan aku segera berpaling ke waitress itu untuk memesan.


"Satu porsi nasi goreng seafood, tanpa minyak babi dan jangan terlalu pedas untuk minumnya, saya pesan satu gelas lemon tea dingin," tukas Bara cepat sembari melirik ke arahku.

"Dan untuk saya, saya pesan salad sayur dan segelas jus wortel. Oh dan satu lagi, saya pesan jamur crishpy," imbuhnya melanjutkan.


Dia menutup buku menu dan mengembalikannya pada waitress. Sementara yang aku lakukan hanya menatapnya dengan bingung. Karena menu yang di pesan Bara untukku adalah menu kesukaanku dan aku selalu memesan menu itu tiap kali pergi ke tempat makan cepat saji.



"Apa yang tidak kamu ketahui tentang aku Bara?" tanyaku tetap memandang ke arahnya.



Bara mengarahkan bola matanya kepadaku, "Isi hatimu saat ini," sahutnya pendek. Wajahnya nampak tenang seolah tak takut dengan reaksi yang aku berikan.



Aku mengerjap, tak mengerti dengan maksud ucapannya. "Isi hatiku? Kenapa harus isi hatiku?"



Aku melihat Bara menyilangkan kedua tangannya ke atas meja lalu mecondongkan tubuhnya ke depan. Tatapannya semakin terasa lebih intens yang membuat jantungku kembali berdebar.


"Karena aku bukan cenayang yang mengerti isi hatimu meskipun aku tahu segala tentangmu," ujarnya pendek.


Raut muka Bara terlihat serius ketika mengatakan hal itu, bahkan aku tak melihat seulas senyuman yang selalu menyertai setiap perkataanya. Tiba-tiba aku merasa aliran darahku mengalir dengan deras yang membuat wajahku terasa panas. Dengan cepat aku memalingkan dan berpamitan ke toilet.


Dalam hati aku berharap sekembalinya dari toilet makanan yang kami pesan sudah tersaji di atas meja, untuk menghindari topik yang tengah kami bicarakan. Dan jujur, aku menyesal telah memancing topik yang berujung pada pengakuan cinta Bara. Meskipun itu hanya tersirat tapi aku mempunyai kemampuan untuk memahami makna yang terkandung di dalamnya.




*****



Sinar mentari pagi menerobos masuk melalui celah jendela, seberkas cahayanya menyilaukan kedua mataku yang masih terpejam. Membuatku terjaga dari mimpi yang sempat menyesatkan. Untuk sesaat aku terdiam, teringat akan semua hal yang terjadi di hari lalu. Aku mendesah, kemudian bangun dari tempat tidur dengan kepala yang terasa berat.


Dengan mata yang terpejam aku memijit pelipisku, berharap pijatan kecil itu bisa sedikit meredakannya. Dan upayaku berhasil, yah meskipun tidak sepenuhnya hilang, tapi setidaknya sakit kepala itu sedikit mereda.


Ku lirik jam dinding yang tetap saja berdenting meskipun aku selalu meninggalkannya. Pukul 07.15, dan terang saja seberkas cahaya itu terasa menyilaukan. Aku menggeliat dengan malas, lalu menyibak bed cover putih polos yang menyelimutiku dan segera bergegas ke kamar mandi untuk cuci muka.


Notes, pada hari libur mandi pagiku juga akan libur yang aku ganti dengan mandi siang. 


#30DWCJilid5 #Day23

Komentar