Aku memungut selembar kertas putih yang sudah lusuh di dalam kotak kayu tempat dimana aku menyimpan semua hadiah pemberian Adryan. Sedikit ragu memang, tapi tetap saja aku memungutnya. Pertemuan dengan dia kemarin sore membuatku ingin menggali ingatan masa lalu kami berdua.
Dan dengan mata yang terasa panas aku mencoba mengingat setiap kata yang tergores disana. Setiap kata yang ditulis Adryan dengan penuh penyesalan.
Aku mengerjapkan mata, dan mulai membuka lipatan itu. Membacanya kembali meskipun sebenarnya aku sangat hafal di luar kepala bagaimana isi dari surat tersebut. Aku menelan ludah, seolah tengah menelan rasa sakit yang tiba-tiba menyeruak ke permukaan, membuat air mata yang sedari tadi tertahan di kedua mataku mengalir membasahi pipi. Ku tatap tulisan tangan itu dengan perasaan yang berkecamuk dalam dada.
Dulu, setiap aku membaca surat dari Adryan, ruang pikiranku selalu dipenuhi dengan amarah dan kebencian. Namun sekarang, dengan perlahan-lahan semua kebencian dan kemarahan itu memudar. Meskipun sakitnya masih tertancap dengan begitu dalam, tapi aku tidak bisa menampik kenyataan bahwa Adryan sudah menjadi suami wanita lain. Dan tidaklah pantas bagiku untuk menyimpan dendam ataupun perasaan lainnya.
Dia, bukan jodoh yang dikirim Tuhan untuk aku!
Itulah yang aku tekankan berkali-kali dalam benakku. Dan aku juga sangat yakin bahwa jodoh tidak mungkin tertukar.
Aku menghela napas, lalu melipat kembali surat itu dan meletakkannya di sampingku. Lalu kemudian aku mengeluarkan semua kado pemberian Adryan satu persatu. Dan seperti adegan dalam film, kenangan antara aku dengannya berputar saling tumpang tindih dalam ruang memoriku setiap kali aku mengeluarkan benda-benda itu.
Ada perasaan rindu yang menggelitik relung hatiku, memanggil ke masa lalu yang begitu indah meskipun kebahagiaan itu kini terasa sangat singkat. Seolah bahwa semua canda dan tawa yang telah kami lewati hanya sebuah mimpi di negeri dongeng. Yang bahagianya hanya bisa kami simpan dalam hati, jiwa dan potret yang sengaja kami abadikan.
Semua harapan dan kebahagiaan itu kini tinggal untuk selamanya dalam sebuah tempat yang disebut-sebut sebagai masa lalu.
Masa lalu ... Ya, mereka semua akan tinggal di dalam sana. Tinggal untuk selamanya. Canda, tawa, nama, sentuhan, janji, rayuan dan kecupan, semua akan tinggal di dalamnya dan tak akan ada yang tersisa. Dan jika semua sudah berkumpul disana, harus benar-benar lepaskan. Melepas semua rasa yang dimiliki untuk kebaikan masa depanku.
Ya, semua yang aku masukkan dalam kotak masa lalu itu, aku lakukan hanya untuk kebaikan masa depan. Baik masa depanku maupun masa depan Adryan. Karena tidak mungkin semua yang hilang akan kembali, meskipun keinginan untuk kembali itu ada, namun semuanya akan berbeda. Semua tak akan lagi sama. Yang hilang akan digantikan dan yang terluka akan terobati. Meskipun untuk mengobati luka itu membutuhkan proses yang panjang, tapi aku tetap percaya dan yakin, bahwa semua akan indah pada waktunya.
Dan aku yakin, bahwa semua kesedihan dan rasa sakit ini akan terbayarkan dengan kebahagiaan yang lebih sempurna.
Aku menyusut air mataku yang entah sejak kapan mengalir di pipi. Lalu mengembalikan semua kado-kado itu ke dalam kotak kayu itu kembali. Dan disaat aku sibuk menata kembali kado-kado itu, benda mungil yang selalu aku bawa kemanapun aku pergi berdering dengan nyaring. Membuatku terlonjak dan bergegas menghampiri ponselku yang aku letakkan di atas ranjang.
Mama ...
Seulas senyuman terukir diwajahku dan dengan cepat aku mengangkatnya. Dan yang terjadi selanjutnya adalah perbincangan antara Ibu dan putri semata wayangnya.
Komentar
Posting Komentar