Pagi itu aku bangun dengan tergesa. Bukan karena mentari sudah meninggi, melainkan karena aku mendengar sebuah nada dering yang sudah lama tidak aku dengar. Sebuah lagu dari film kesukaanku, Only You milik Kim Tae Woo yang memang sengaja aku buat sebagai nada dering miliknya.
Aku memicingkan mata, memastikan nama yang muncul memang benar nama miliknya. Dan itu memang benar. Saat itu kedua mataku terasa panas. Dan hatiku bergejolak.
Tapi kemudian aku bisa bernapas lega, karena dia memutuskan menyerah dan mematikan telepon. Namun sedetik kemudian aku mendengar teleponku kembali berbunyi. Sebuah pesan aku terima dan itu dari dia.
Pukul 4 sore, aku ingin kita bertemu di tempat kita. Aku mohon jangan katakan tidak, aku akan menunggu.
Dan sekarang disinilah aku berada, di sebuah kafe faforit kami dulu dengan secangkir kopi.
"Terimakasih sudah mau datang," katanya lirih dengan suara yang masih sama seperti dulu. Suara rendah dan dalam. Suara yang selalu membuat siapapun akan jatuh hati meskipun hanya mendengar suaranya saja.
Aku tersenyum menatapnya seraya mengangkat bahu.
"Kebetulan aku tidak sibuk," jelasku pendek.
Berharap dia tidak berpikir bahwa aku masih mencintainya dan mengharapkannya kembali. Meskipun sebelum datang kesini aku harus belajar berbicara sendiri di kamar mandi dan memperbaiki raut wajahku berkali-kali.
"Aku minta maaf Sheena," ucapnya setelah hampir satu jam kami saling membisu.
Aku mengangkat wajah dan menatapnya. Disaat itulah aku menyadari banyak hal yang berubah darinya. Dia terlihat berbeda meskipun secara keseluruhan dia masih memesona seperti dulu. Hanya saja tubuhnya sedikit kurus dan dia memiliki jambang yang membuat garis wajahnya terlihat tegas dan matang.
"Tidak apa-apa, itu sudah terjadi dan aku memaafkanmu untuk itu."
"Tapi aku tidak mencintainya Sheena. Pernikahanku juga tidak bahagia."
Aku menangkap kesedihan yang tersirat dari bola matanya yang gelap.
"Sekarang dia adalah istrimu Ryan, ibu dari calon anak yang kini tengah dia kandung. Kau harus mencintainya karena itu adalah konsekuensi dari kesalahan yang kamu lakukan. "
"Karena itu aku ingin memperbaiki kesalahanku Sheena, kembalilah kepadaku. Aku mohon."
Aku mengerjap, tak menduga bahwa kalimat itu yang keluar dari bibir yang dulu selalu mencumbu dan merayuku.
"Kamu jangan egois Ryan. Kamu tidak bisa memiliki 2 hal dalam waktu bersamaan !"
"Sheena, please," ujarnya kembali memohon
"Tidak Ryan, yang kamu jalani saat ini sudah benar. Karena ini adalah bentuk dari pertanggung jawaban kamu sebagai laki-laki."
Bahu Ryan merosot, secercah harapan yang dia pancarkan beberapa saat lalu memudar. Lalu aku kembali menyesap kopi milikku dalam keheningan yang kembali memayungi kami.
Pada menit berikutnya Ryan kembali menatapku, membuat tatapan kami bertemu. "Aku tahu perasaan itu masih ada di dalam hati kamu. Tapi aku menghargai keputusan kamu Sheena," ujarnya.
Aku tak menyahut, lalu dia melanjutkan ucapannya dengan senyum simpul yang kini tersungging dibibirnya.
"Terimakasih karena kamu sudah bersedia menemuiku. Aku akan pergi, aku akan kembali pada istri dan calon anakku."
"Sheena .."
"Ya.."
"Berjanjilah kau akan menikah dengan orang yang mencintaimu dan yang kau cintai. Karena dengan begitu aku akan tahu bahwa hidupmu akan sangat bahagia."
Aku mengangguk sebagai jawaban. Lalu sebelum dia meninggalkan kursi kayu di depanku, aku memanggil namanya. "Ryan, jangan pernah melepaskan apa yang telah kamu genggam. Karena kamu tidak akan tahu betapa berharganya hal itu sebelum kamu kehilangannya. Karena itu jagalah apa yang telah kamu miliki dari sekarang," ujarku berusaha mengendalikan perasaanku.
Aku melihat dia mengangguk dan kemudian dia bergegas pergi untuk kedua kalinya.
#30DWCJilid5 #Day2
Aku memicingkan mata, memastikan nama yang muncul memang benar nama miliknya. Dan itu memang benar. Saat itu kedua mataku terasa panas. Dan hatiku bergejolak.
Tapi kemudian aku bisa bernapas lega, karena dia memutuskan menyerah dan mematikan telepon. Namun sedetik kemudian aku mendengar teleponku kembali berbunyi. Sebuah pesan aku terima dan itu dari dia.
Pukul 4 sore, aku ingin kita bertemu di tempat kita. Aku mohon jangan katakan tidak, aku akan menunggu.
Dan sekarang disinilah aku berada, di sebuah kafe faforit kami dulu dengan secangkir kopi.
"Terimakasih sudah mau datang," katanya lirih dengan suara yang masih sama seperti dulu. Suara rendah dan dalam. Suara yang selalu membuat siapapun akan jatuh hati meskipun hanya mendengar suaranya saja.
Aku tersenyum menatapnya seraya mengangkat bahu.
"Kebetulan aku tidak sibuk," jelasku pendek.
Berharap dia tidak berpikir bahwa aku masih mencintainya dan mengharapkannya kembali. Meskipun sebelum datang kesini aku harus belajar berbicara sendiri di kamar mandi dan memperbaiki raut wajahku berkali-kali.
"Aku minta maaf Sheena," ucapnya setelah hampir satu jam kami saling membisu.
Aku mengangkat wajah dan menatapnya. Disaat itulah aku menyadari banyak hal yang berubah darinya. Dia terlihat berbeda meskipun secara keseluruhan dia masih memesona seperti dulu. Hanya saja tubuhnya sedikit kurus dan dia memiliki jambang yang membuat garis wajahnya terlihat tegas dan matang.
"Tidak apa-apa, itu sudah terjadi dan aku memaafkanmu untuk itu."
"Tapi aku tidak mencintainya Sheena. Pernikahanku juga tidak bahagia."
Aku menangkap kesedihan yang tersirat dari bola matanya yang gelap.
"Sekarang dia adalah istrimu Ryan, ibu dari calon anak yang kini tengah dia kandung. Kau harus mencintainya karena itu adalah konsekuensi dari kesalahan yang kamu lakukan. "
"Karena itu aku ingin memperbaiki kesalahanku Sheena, kembalilah kepadaku. Aku mohon."
Aku mengerjap, tak menduga bahwa kalimat itu yang keluar dari bibir yang dulu selalu mencumbu dan merayuku.
"Kamu jangan egois Ryan. Kamu tidak bisa memiliki 2 hal dalam waktu bersamaan !"
"Sheena, please," ujarnya kembali memohon
"Tidak Ryan, yang kamu jalani saat ini sudah benar. Karena ini adalah bentuk dari pertanggung jawaban kamu sebagai laki-laki."
Bahu Ryan merosot, secercah harapan yang dia pancarkan beberapa saat lalu memudar. Lalu aku kembali menyesap kopi milikku dalam keheningan yang kembali memayungi kami.
Pada menit berikutnya Ryan kembali menatapku, membuat tatapan kami bertemu. "Aku tahu perasaan itu masih ada di dalam hati kamu. Tapi aku menghargai keputusan kamu Sheena," ujarnya.
Aku tak menyahut, lalu dia melanjutkan ucapannya dengan senyum simpul yang kini tersungging dibibirnya.
"Terimakasih karena kamu sudah bersedia menemuiku. Aku akan pergi, aku akan kembali pada istri dan calon anakku."
"Sheena .."
"Ya.."
"Berjanjilah kau akan menikah dengan orang yang mencintaimu dan yang kau cintai. Karena dengan begitu aku akan tahu bahwa hidupmu akan sangat bahagia."
Aku mengangguk sebagai jawaban. Lalu sebelum dia meninggalkan kursi kayu di depanku, aku memanggil namanya. "Ryan, jangan pernah melepaskan apa yang telah kamu genggam. Karena kamu tidak akan tahu betapa berharganya hal itu sebelum kamu kehilangannya. Karena itu jagalah apa yang telah kamu miliki dari sekarang," ujarku berusaha mengendalikan perasaanku.
Aku melihat dia mengangguk dan kemudian dia bergegas pergi untuk kedua kalinya.
#30DWCJilid5 #Day2
Komentar
Posting Komentar