Bara Di Langit Senja Bag. 1



Matahari telah tenggelam di ufuk barat sejak dua jam yang lalu, mengganti warna langit yang sebelumnya nampak cerah menjadi gelap yang berhiaskan rembulan dan beribu bintang. Aku mendesah, menggerakan kepala dan seluruh anggota badan untuk melemaskan otot-otot dalam tubuhku yang terasa kaku dan tegang.

Aku kembali menguap, entah untuk yang keberapa kali. Mungkin banyaknya clien yang datang ke salon membuatku terlalu lelah, karena itu rasa kantuk lebih cepat menghampiri. Dengan sisa semangat yang ku miliki, aku segera membereskan semua benda yang berserakan di atas meja kayu yang multifungsi sebagai tempat penyimpanan produk-produk kecantikan yang aku jual.

Dan setelah semuanya sudah tersimpan rapi pada tempatnya aku segera bangkit meraih sakelar lampu dan menekan tombolnya. Tentu saja hal itu aku lakukan setelah memastikan bahwa semua sambungan kabel sudah terputus sehingga resiko korsleting listrik bisa dihindari. Dalam sekejap ruangan yang sebelumnya terlihat begitu terang berubah menjadi gelap, hanya berkas cahaya lampu teras yang menerangi. Membuat keadaan dalam ruangan menjadi remang-remang. 

Aku menyambar kunci yang aku gantung di dekat sakelar lalu segera bergegas keluar, namun tepat disaat aku hampir mencapai pintu kaca seseorang yang tidak aku kenal terlebih dahulu membuka pintu dan berdiri di ambang pintu. Seketika itu aku berdiri mematung, menatap seseorang yang berdiri di depanku dengan tatapan liar.

Seorang laki-laki pikirku, badannya tinggi, memakai sebuah jaket hodie, selebihnya aku tidak tahu karena kondisi dalam ruangan yang gelap dan dia sendiri berdiri membelakangi satu-satunya sumber cahaya.  


"Si-siapa?" tanyaku berusaha untuk terdengar setenang mungkin. Untuk menunjukkan bahwa usahanya untuk membuatku takut gagal. 

"Salonnya sudah tutup mbak?" 

Orang itu tidak menjawab pertanyaanku dan justru menanyakan hal lain. Membuatku sedikit lebih lega karena orang ini mungkin adalah salah satu clienku. 

"Mbak... Salonnya sudah tutup?"

Ulangnya dan kali ini membuatku tersentak dari lamunanku yang mendadak menjadi liar. 

" Oh, iya. Sudah tutup," sahutku pendek tetap berusaha menjaga intonasi suaraku.

"Oh begitu, kalau begitu saya pamit dulu. Mungkin besok saya kesini lagi."


Lagi-lagi dia bertutur dengan sopan yang aku jawab hanya dengan sebuah anggukan kecil kali ini, padahal beberapa menit yang lalu aku berprasangka buruk terhadapnya. 

Aku melihat laki-laki itu hendak memutar tubuhnya, tapi sepertinya dia melupakan sesuatu dan kembali memutar kepala dan melihat ke arahku. 


"Maaf, sudah membuat Mbak terkejut," ujarnya dengan nada bersalah namun sebelum aku menyahutnya dia berpamitan dan benar-benar pergi meninggalkan salon. 


Aku mengusap keringat dingin yang membasahi wajahku dengan punggung tanganku, kemudian bergegas keluar dan menarik pintu harmonika yang merupakan pintu terluar. Tak lupa aku menggemboknya untuk menghindari hal-hal yang tidak aku inginkan.

Sebelum aku benar-benar kembali ke rumah, aku menatap ke sekeliling kompleks ruko yang nampak lengang malam ini, tidak seperti biasanya. Padahal waktu masih menunjukkan pukul 20.15 malam. Aku memicingkan mata, mencoba untuk dapat melihat dengan lebih jelas lagi. Namun apa yang aku cari tidak terlihat, ya, bayangan laki-laki yang beberapa saat lalu aku lihat tidak terlihat sama sekali di kompleks ruko ini. Dan tiba-tiba bulu romaku meremang mengingat bahwa malam ini adalah malam Jum'at.

Aku bergidik ngeri lalu  mengusap kedua lenganku ketika hawa dingin menyentuh kulitku dengan lembut. Kemudian tanpa menunggu lagi aku bergegas pulang ke rumah. Namun langkahku terhenti ketika sebuah mobil berwarna putih membunyikan klakson kepadaku. Aku sedikit terheran, namun kemudian keherananku terjawab. Mobil itu adalah mobil yang aku lihat di depan Marriot gym dan kemungkinan besar pengemudi itu adalah laki-laki yang bertandang ke salon beberapa saat lalu. 

Dan ketika menyadari aku memukul pelan kepalaku dan menertawakan kebodohanku yang telah berpikiran yang tidak-tidak tentang laki-laki itu. 

"Bodoh," umpatku pelan lalu kembali bergegas keluar kompleks ruko.

Bersambung...

#30DWCJILID5 #Day6 

Komentar