"Permisi Mbak, saya mau potong rambut," ucap laki-laki itu.
Aku menghentikan aktivitasku, lalu mendongak sembari menggumamkan sesuatu, "Maaf, tapi salonnya sudah tu..."
Kalimatku menggantung urung terselesaikan.
"Mbak bagaimana? Boleh saya potong rambut?" tanyanya lagi dengan nada mendesak.
Aku mengernyitkan dahi, menatap seorang lelaki yang kini berdiri tak jauh di belakangku dari ujung kaki hingga ujung kepala. Wajahnya tak terlihat karena sepertinya dia sengaja menyembunyikannya di balik sebuket bunga mawar putih yang tengah dia pegang. Lamat-lamat aku mengamatinya, karena aku merasa tidak asing. Suara rendah dan berat itu, postur tubuh yang tegap itu dan arloji itu, aku mengenal semua itu. Sembari menggeleng pelan, aku mengurai seulas senyuman di bibirku yang sedari tadi membisu. Dan entah dari mana tiba-tiba ide itu datang.
"Tidak boleh," kataku pendek. Dengan nada yang aku buat seketus mungkin.
"Kenapa?" balasnya cepat.
"Karena Anda tidak sopan," jawabku sambil menahan tawa.
"Tidak sopan?"
Ujar laki-laki itu sembari menyingkirkan buket bunga dari wajahnya, dia menatapku dengan tatapan bingung dan tak mengerti. Dan sekarang giliran dia yang mengernyitkan dahi yang otomatis membuat kedua matanya menyipit.
"Ya, Anda sangat tidak sopan Mr. Bara Haditama," ucapku dengan senyum yang masih terukir. Aku menyilangkan kedua tangan, menatap lurus ke arahnya dan menaikkan sebelah alisku.
Dia nampak kebingungan dan itu terlihat jelas dari caranya menatapku, namun setelah itu aku mendengar dia mengumpat pelan.
"Sial, kenapa jadi aku yang kena jebakan batman?" keluhnya.
Seketika itu tawaku terurai begitu saja, disaat mendengar umpatannya.
"Jadi, apa maksudmu dengan jebakan batman?" tanyaku disela-sela tawa yang tidak begitu keras itu.
Bara menggeleng pelan, "Ini tidak benar," desisnya dengan ekspresi yang nampak cute di mataku.
"Apa? Apanya yang tidak benar?" kataku lalu melanjutkan aktivitas menyapuku. Aku bisa melihat melalui cermin bahwa dia menggeleng frustasi.
"Tadinya aku berpikir untuk mengejutkanmu, tapi justru aku yang terkejut," keluhnya dengan nada lemas.
Kemudian tanpa aku tahu dia sudah berdiri di dekatku, sembari mengacungkan buket bunga mawar putih yang tadi dia gunakan untuk menyembunyikan wajahnya. Aku sedikit mendongak menatap pada bunga itu lalu berganti menatap wajahnya.
"Untukmu," katanya pendek.
"Untukku?" tanyaku memastikan. Menunjuk diriku sendiri dengan jari telunjuk. Kedua bola mataku menatap matanya yang menatapku dengan tatapan teduh.
"Tentu saja ini untukmu, bukankah ini bunga kesukaanmu?" sahutnya ringan.
Sementara aku semakin terdiam mendengar jawabannya. Karena memang benar aku sangat menyukai bunga mawar putih, namun hanya orang terdekatku lah yang mengetahui hal itu. Dan tentu saja Bara belum mengetahui hal tersebut karena aku belum memberitahunya.
"Hei,"
Ujarnya lirih sembari menggoyang-goyangkan buket bunga itu di depan wajahku. Aku tersentak dan menerima bunga pemberian Bara dengan seulas senyum yang aku paksakan.
"Thanks..." kataku tulus, lalu ku cium aroma bunga mawar yang masih segar itu. Aromanya begitu menyegarkan membuat semua kepenatan yang bersarang dalam pikiranku.
"Kamu mau pulang?" tanyanya lagi.
Aku melirik ke arahnya namun ternyata dia sudah menyelonjorkan kaki di kursi tunggu. Membuatku menggelengkan kepala melihat sikapnya yang begitu biasa denganku, meskipun kami baru mengenal selama satu minggu.
"Ya, mau kemana lagi," kataku sembari berjalan ke arahnya untuk menaruh buket bunga yang kini aku pegang ke atas meja yang berada di dekatnya. "Ada Mama di rumah, jadi tidak mungkin aku mengabaikannya makan siang sendirian di rumah," imbuhku memberi penjelasan. Kemudian aku kembali melanjutkan aktivitasku yang sempat tertunda karena ulah Bara.
"Kalau begitu aku makan siang saja di rumah kamu," ujarnya ringan.
"Apa?" tanyaku memastikan pendengaranku.
"Kamu tidak keberatan kan? Mama kamu juga pasti tidak keberatan, beliau pernah mengundangku untuk makan siang. Jadi aku pikir aku akan memenuhi undangannya siang ini," tukasnya menjelaskan.
Aku menatap wajahnya yang terlihat polos, seolah dia tidak mempunyai beban dalam hidupnya. Seolah dia tidak memikirkan tentang perasaannya yang belum terbalas olehku.
"Tidak, tentu saja aku tidak keberatan. Dan Mama pasti akan merasa senang kalau kamu berkenan bergabung untuk makan siang," sahutku ringan.
Dan setelah itu aku melihat wajahnya berbinar lalu dia menyilangkan kedua tangannya ke belakang telinga. Sementara aku kembali melanjutkan kegiatan bersih-bersihku yang belum juga selesai.
#30DWCJilid5 #Day14
Komentar
Posting Komentar