Lagi-lagi aku menundukkan kepala, tak tahu harus berkata apa karena Mama sudah tahu kebenarannya. Ya, aku memang mempunyai feeling yang tak pernah berdusta dan kebenaran feeling itu terbukti malam ini.
"Mama benar," kataku akhirnya lirih. Kutatap bola mata Mama yang sarat dengan kasih sayang. "Bara memang cinta sama aku," ujarku jujur. "Sementara aku masih terlalu takut untuk jatuh cinta, aku takut kalau cinta akan ninggalin aku lagi Ma. Seperti Dion ninggalin aku," lanjutku dengan nada putus asa.
Dan untuk yang kesekian kalinya aku melihat Mama mengurai seulas senyuman, seulas senyuman yang mampu meredamkan kegelisahan dalam hatiku. Begitupun dengan tatapan matanya yang meneduhkan bagai air hujan yang membasuh bumi. Tangan kirinya terjulur, menggapai pipiku dan mengusapnya perlahan dengan penuh kasih.
"Singkirkan rasa takut itu sayang, jangan biarkan rasa takut bersemayam lebih lama dalam hatimu. Karena jika kamu membiarkannya lebih lama, bukan kamu yang menguasai rasa takut itu dan justru kamu yang akan dikuasai oleh rasa takut itu. Kamu mengerti kan sayang dengan maksud Mama?"
Papar Mama berusaha membantuku menyelesaikan kemelut hatiku dengan memberikan sebuah nasihat indahnya. Aku menatap mata teduh Mama, dan seketika itu aku merasa ketenangan menjalari aliran darahku.
"Kamu adalah putri terhebat Mama, jadi Mama yakin kalau kamu pasti bisa melawan dan menyingkirkan rasa takut itu..."
"Tapi Ma,," potongku dan aku melihat Mama menggelengkan kepala. Pertanda bahwa aku tidak boleh ada kata menyerah keluar dari bibirku. Tangannya menjauh dari pipiku dan beralih pada telapak tanganku. Menggenggamnya dengan erat seolah tengah menyalurkan kekuatan yang beliau miliki.
"Cobalah terlebih dahulu sayang, jangan pernah mengatakan tidak kalau kamu belum mencobanya," gumamnya melanjutkan.
Aku mengerjapkan mata, mencoba mencerna setiap nasihat yang Mama berikan malam ini. Tutur katanya yang lembut tentu saja tidak membuatku kesulitan untuk memahami maksud dari setiap aksaranya. Justru dengan waktu yang relatif singkat aku mengerti, bahwa Mama tidak ingin melihatku yang tidak mengalami perubahan meskipun aku tinggal jauh dari kota kelahiranku, Surabaya. Sesaat kemudian, aku melihat Mama melirik jam besar yang tergantung di bagian dinding sisi kiri.
"Ya sudah, sekarang kamu istirahat saja ya sayang. Ini sudah malam, dan kamu pasti juga lelah..."
Pinta Mama untuk mengakhiri perbincangan kami yang penuh emosional malam ini. Dan itu adalah cara yang selalu beliau gunakan untuk memberi waktu pada kami untuk berpikir lebih matang. Aku mengangguk pelan sebagai jawaban, lalu aku merasakan Mama mengecup keningku dengan lembut.
"Mimpi indah ya, sayang," ucap Mama pendek.
Kemudian beliau bangkit dan bergegas masuk ke dalam kamar yang terletak di samping kamarku. Sementara aku sendiri masih terdiam di tempatku sembari menatap jendela yang masih terbuka. Memperlihatkan betapa indahnya langit malam yang terbentang luas berhias bintang dan bulan. Seolah ingin menunjukkan, bahwa dalam gelap pun akan ada seberkas cahaya yang menerobos masuk ke dalam, jika kita membiarkan salah satu pintu atau daun jendela terbuka.
*****
Aku selalu menyukai hari Minggu hari dimana aku bisa pulang lebih awal dan duduk di sudut kafe seorang diri bertemankan dengan secangkir kopi. Tapi kebiasaanku itu tidak berlaku hari ini karena beberapa hal. Dan alasan utamanya adalah karena Mama. Karena Mama sudah meluangkan waktunya untuk mengunjungiku dan masa iya yang dikunjungi malah duduk menyendiri di sudut kafe.
Aku mengerang, menggerakkan badan untuk melepaskan otot yang kaku. Lalu aku melirik jam dinding, kemudian beralih pada ponsel imutku yang tidak berkedip sama sekali. Dahiku berkerut samar, mengingat Bara yang tidak terlihat setelah kejadian di Jum'at malam itu.
"Apa mungkin Bara marah sama aku? Mungkinkah dia marah karena aku belum bisa membalas perasaannya?" tanyaku pada diriku sendiri. Sebuah tanya yang sebenarnya membutuhkan jawaban, namun aku tak mampu menjawabnya secara pasti.
Aku menggeleng, "Tidak, Bara bukan orang yang mudah marah jika apa yang dia harapkan tidak bisa dia dapatkan. Mungkin ada hal lain yang membuat dia tidak menampakkan batang hidungnya. Ya, semoga saja," pikirku menepis pikiran burukku tentangnya.
Kemudian aku bergegas untuk membalikkan papan open-close yang tergantung pada pintu kaca salon. Dan setelah membaliknya aku bergegas kembali ke bagian dalam untuk membersihkan dan membereskan salon yang penuh dengan serakan potongan rambut.
Namun baru beberapa saat aku menyapu potongan rambut itu, aku mendengar sebuah ketukan dari belakang. Ketukan yang berulang diiringi dengan suara rendah seorang laki-laki.
#30DWCJilid5 #Day13
"Mama benar," kataku akhirnya lirih. Kutatap bola mata Mama yang sarat dengan kasih sayang. "Bara memang cinta sama aku," ujarku jujur. "Sementara aku masih terlalu takut untuk jatuh cinta, aku takut kalau cinta akan ninggalin aku lagi Ma. Seperti Dion ninggalin aku," lanjutku dengan nada putus asa.
Dan untuk yang kesekian kalinya aku melihat Mama mengurai seulas senyuman, seulas senyuman yang mampu meredamkan kegelisahan dalam hatiku. Begitupun dengan tatapan matanya yang meneduhkan bagai air hujan yang membasuh bumi. Tangan kirinya terjulur, menggapai pipiku dan mengusapnya perlahan dengan penuh kasih.
"Singkirkan rasa takut itu sayang, jangan biarkan rasa takut bersemayam lebih lama dalam hatimu. Karena jika kamu membiarkannya lebih lama, bukan kamu yang menguasai rasa takut itu dan justru kamu yang akan dikuasai oleh rasa takut itu. Kamu mengerti kan sayang dengan maksud Mama?"
Papar Mama berusaha membantuku menyelesaikan kemelut hatiku dengan memberikan sebuah nasihat indahnya. Aku menatap mata teduh Mama, dan seketika itu aku merasa ketenangan menjalari aliran darahku.
"Kamu adalah putri terhebat Mama, jadi Mama yakin kalau kamu pasti bisa melawan dan menyingkirkan rasa takut itu..."
"Tapi Ma,," potongku dan aku melihat Mama menggelengkan kepala. Pertanda bahwa aku tidak boleh ada kata menyerah keluar dari bibirku. Tangannya menjauh dari pipiku dan beralih pada telapak tanganku. Menggenggamnya dengan erat seolah tengah menyalurkan kekuatan yang beliau miliki.
"Cobalah terlebih dahulu sayang, jangan pernah mengatakan tidak kalau kamu belum mencobanya," gumamnya melanjutkan.
Aku mengerjapkan mata, mencoba mencerna setiap nasihat yang Mama berikan malam ini. Tutur katanya yang lembut tentu saja tidak membuatku kesulitan untuk memahami maksud dari setiap aksaranya. Justru dengan waktu yang relatif singkat aku mengerti, bahwa Mama tidak ingin melihatku yang tidak mengalami perubahan meskipun aku tinggal jauh dari kota kelahiranku, Surabaya. Sesaat kemudian, aku melihat Mama melirik jam besar yang tergantung di bagian dinding sisi kiri.
"Ya sudah, sekarang kamu istirahat saja ya sayang. Ini sudah malam, dan kamu pasti juga lelah..."
Pinta Mama untuk mengakhiri perbincangan kami yang penuh emosional malam ini. Dan itu adalah cara yang selalu beliau gunakan untuk memberi waktu pada kami untuk berpikir lebih matang. Aku mengangguk pelan sebagai jawaban, lalu aku merasakan Mama mengecup keningku dengan lembut.
"Mimpi indah ya, sayang," ucap Mama pendek.
Kemudian beliau bangkit dan bergegas masuk ke dalam kamar yang terletak di samping kamarku. Sementara aku sendiri masih terdiam di tempatku sembari menatap jendela yang masih terbuka. Memperlihatkan betapa indahnya langit malam yang terbentang luas berhias bintang dan bulan. Seolah ingin menunjukkan, bahwa dalam gelap pun akan ada seberkas cahaya yang menerobos masuk ke dalam, jika kita membiarkan salah satu pintu atau daun jendela terbuka.
*****
Aku selalu menyukai hari Minggu hari dimana aku bisa pulang lebih awal dan duduk di sudut kafe seorang diri bertemankan dengan secangkir kopi. Tapi kebiasaanku itu tidak berlaku hari ini karena beberapa hal. Dan alasan utamanya adalah karena Mama. Karena Mama sudah meluangkan waktunya untuk mengunjungiku dan masa iya yang dikunjungi malah duduk menyendiri di sudut kafe.
Aku mengerang, menggerakkan badan untuk melepaskan otot yang kaku. Lalu aku melirik jam dinding, kemudian beralih pada ponsel imutku yang tidak berkedip sama sekali. Dahiku berkerut samar, mengingat Bara yang tidak terlihat setelah kejadian di Jum'at malam itu.
"Apa mungkin Bara marah sama aku? Mungkinkah dia marah karena aku belum bisa membalas perasaannya?" tanyaku pada diriku sendiri. Sebuah tanya yang sebenarnya membutuhkan jawaban, namun aku tak mampu menjawabnya secara pasti.
Aku menggeleng, "Tidak, Bara bukan orang yang mudah marah jika apa yang dia harapkan tidak bisa dia dapatkan. Mungkin ada hal lain yang membuat dia tidak menampakkan batang hidungnya. Ya, semoga saja," pikirku menepis pikiran burukku tentangnya.
Kemudian aku bergegas untuk membalikkan papan open-close yang tergantung pada pintu kaca salon. Dan setelah membaliknya aku bergegas kembali ke bagian dalam untuk membersihkan dan membereskan salon yang penuh dengan serakan potongan rambut.
Namun baru beberapa saat aku menyapu potongan rambut itu, aku mendengar sebuah ketukan dari belakang. Ketukan yang berulang diiringi dengan suara rendah seorang laki-laki.
#30DWCJilid5 #Day13
Komentar
Posting Komentar