"Maksud Mama? Kalian ngejodohin aku sama Bara?" Tanyaku memotong kalimat Mama.
Aku menelengkan kepala dan melihat Mama tersenyum lembut ke arahku, lalu tangan kirinya membelai kepalaku.
"Itu hanya sebuah perjanjian di masa muda ndug, nggak harus menjadi kenyataan. Tapi jikapun hal itu terjadi, dengan senang hati Mama akan mendukung kamu. Karena Mama sangat yakin bahwa Bara lebih bertanggung jawab ketimbang Dion."
Ucap Mama memberi penjelasan, beliau menjelaskan dengan santai dan lembut. Tanpa terdengar memaksa yang membuat aku terdiam beribu bahasa. Dan yang bisa aku lakukan hanyalah menundukkan wajah, menatap meja yang dibalut dengan sebuah taplak bermotif bunga sakura pada setiap sudut dan bagian tengah.
"Jujur, sebenarnya dulu Mama kurang suka sama Dion," imbuh Mama dan seketika itu pula aku kembali memutar kepala. Menatapnya secara intens untuk meminta penjelasan tentang maksud perkataan Mama.
Aku melihat Mama kembali tersenyum sebelum beliau melanjutkan perbincangan kami, "Jangan tanya apa alasannya ndug, karena Mama juga sendiri juga nggak tahu. Dion orangnya baik, sopan terhadap orang tua dan bertanggung jawab dengan pekerjaannya. Jadi secara logika tidak ada alasan untuk tidak menyukainya bukan? Tapi kenyataannya semua hal itu tidak menjadi tolak ukur bahwa Dion adalah orang yang benar-benar baik. Dan mungkin semua itu terjadi karena bukti dari sebuah ikatan putri dan ibu kandungnya."
Apa yang dikatakan Mama membuatku tersenyum getir dan kembali menatap meja. Memang benar yang dikatakan Mama, Dion adalah laki-laki sempurna dan tidak ada alasan bagi siapapun untuk membenci dirinya. Secara fisik dia sama sekali tidak memiliki kekurangan, dia laki-laki romantis dan penuh perhatian. Tapi semua penilaian itu hanya berlaku pada masa itu. Karena di masa sekarang tidak ada satu alasanpun untuk memujinya walaupun itu hanya sekedar basa-basi.
"Tapi perasaan semacam itu tidak pernah ada ketika melihat Bara, bahkan ketika pertama kali Bara berkunjung ke sini dan sebelum tahu bahwa Bara putra semata wayang Tante Sella, Mama sudah menyukai Bara. Dan sejak saat itu Mama selalu berdoa agar Bara lah yang bisa menembus benteng besi yang kamu bangun untuk melindungi hati kamu, Senja," imbuh Mama yang membuat pikiranku semakin teringat pada sosok Dion.
"Senja," panggil Mama sembari menyentuh ujung dagu dan menuntunku agar kami bisa saling menatap satu sama lain. "Jangan tutup diri kamu ndug! Jangan kamu perkokoh benteng pertahanan kamu itu! Mama tahu selama ini kamu selalu menghindari laki-laki yang mendekati kamu dan Mama tahu apa alasannya. Kamu masih trauma dengan masa lalu yang pahit itu kan? Kamu juga masih takut jika laki-laki itu mengoyak hati kamu lagi, iya kan?" tanya Mama memastikan bahwa semua dugaannya adalah benar.
Dan semua perkataan Mama adalah sebuah fakta yang selama ini aku sembunyikan. Ya, semua itu adalah fakta kelam dalam hidupku. Tapi terlepas dari semua itu ada alasan lain yang membuat aku belum bisa jatuh cinta lagi. Dan bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta jika cinta itu masih utuh untuknya?
Ya, hati dan pikiran aku masih di penuhi nama Dion. Meskipun aku sudah pergi jauh dan tinggal di kota ini, sosok Dion tetap saja mengikutiku. Terkadang aku membenci diriku sendiri, aku membenci diriku yang tidak pernah bisa melupakan apapun tentang Dion. Aku bungkam seribu bahasa dan membiarkan air mata yang berbicara. Aku tahu tanpa sepatah kalimatpun Mama akan mengerti apa yang aku rasakan saat ini. Ya, aku sangat yakin Mama mengerti bagaimana perasaanku saat ini meskipun aku tak mengucapkannya melalui sebuah aksara.
"Tapi percayalah ndug, nggak semua laki-laki itu seperti Dion. Kalahkan trauma itu sayang, luruhkan benteng besi itu! Jangan biarkan benteng itu semakin berdiri dengan kokohnya dan jangan lagi kamu menutup diri kamu ndug, jangan! Biarkan Bara menyelinap masuk ke dalam hati kamu dan menyemaikan cinta yang pernah mati di dalamnya."
"Mama..." Panggilku lirih dengan suara yang sangat parau. Aku menatap kedua mata hitam milik Mama dengan tatapan intens.
"Iya sayang, Mama tahu Bara mencintai kamu dan itu terlihat jelas melalui sorot matanya. Tapi Mama juga tidak menutup mata kalau hati kamu belum bisa terbuka untuk dia, walaupun sebenarnya kamu tahu tentang apa yang dirasakan Bara."
#30DWCJilid5 #Day11
Aku menelengkan kepala dan melihat Mama tersenyum lembut ke arahku, lalu tangan kirinya membelai kepalaku.
"Itu hanya sebuah perjanjian di masa muda ndug, nggak harus menjadi kenyataan. Tapi jikapun hal itu terjadi, dengan senang hati Mama akan mendukung kamu. Karena Mama sangat yakin bahwa Bara lebih bertanggung jawab ketimbang Dion."
Ucap Mama memberi penjelasan, beliau menjelaskan dengan santai dan lembut. Tanpa terdengar memaksa yang membuat aku terdiam beribu bahasa. Dan yang bisa aku lakukan hanyalah menundukkan wajah, menatap meja yang dibalut dengan sebuah taplak bermotif bunga sakura pada setiap sudut dan bagian tengah.
"Jujur, sebenarnya dulu Mama kurang suka sama Dion," imbuh Mama dan seketika itu pula aku kembali memutar kepala. Menatapnya secara intens untuk meminta penjelasan tentang maksud perkataan Mama.
Aku melihat Mama kembali tersenyum sebelum beliau melanjutkan perbincangan kami, "Jangan tanya apa alasannya ndug, karena Mama juga sendiri juga nggak tahu. Dion orangnya baik, sopan terhadap orang tua dan bertanggung jawab dengan pekerjaannya. Jadi secara logika tidak ada alasan untuk tidak menyukainya bukan? Tapi kenyataannya semua hal itu tidak menjadi tolak ukur bahwa Dion adalah orang yang benar-benar baik. Dan mungkin semua itu terjadi karena bukti dari sebuah ikatan putri dan ibu kandungnya."
Apa yang dikatakan Mama membuatku tersenyum getir dan kembali menatap meja. Memang benar yang dikatakan Mama, Dion adalah laki-laki sempurna dan tidak ada alasan bagi siapapun untuk membenci dirinya. Secara fisik dia sama sekali tidak memiliki kekurangan, dia laki-laki romantis dan penuh perhatian. Tapi semua penilaian itu hanya berlaku pada masa itu. Karena di masa sekarang tidak ada satu alasanpun untuk memujinya walaupun itu hanya sekedar basa-basi.
"Tapi perasaan semacam itu tidak pernah ada ketika melihat Bara, bahkan ketika pertama kali Bara berkunjung ke sini dan sebelum tahu bahwa Bara putra semata wayang Tante Sella, Mama sudah menyukai Bara. Dan sejak saat itu Mama selalu berdoa agar Bara lah yang bisa menembus benteng besi yang kamu bangun untuk melindungi hati kamu, Senja," imbuh Mama yang membuat pikiranku semakin teringat pada sosok Dion.
"Senja," panggil Mama sembari menyentuh ujung dagu dan menuntunku agar kami bisa saling menatap satu sama lain. "Jangan tutup diri kamu ndug! Jangan kamu perkokoh benteng pertahanan kamu itu! Mama tahu selama ini kamu selalu menghindari laki-laki yang mendekati kamu dan Mama tahu apa alasannya. Kamu masih trauma dengan masa lalu yang pahit itu kan? Kamu juga masih takut jika laki-laki itu mengoyak hati kamu lagi, iya kan?" tanya Mama memastikan bahwa semua dugaannya adalah benar.
Dan semua perkataan Mama adalah sebuah fakta yang selama ini aku sembunyikan. Ya, semua itu adalah fakta kelam dalam hidupku. Tapi terlepas dari semua itu ada alasan lain yang membuat aku belum bisa jatuh cinta lagi. Dan bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta jika cinta itu masih utuh untuknya?
Ya, hati dan pikiran aku masih di penuhi nama Dion. Meskipun aku sudah pergi jauh dan tinggal di kota ini, sosok Dion tetap saja mengikutiku. Terkadang aku membenci diriku sendiri, aku membenci diriku yang tidak pernah bisa melupakan apapun tentang Dion. Aku bungkam seribu bahasa dan membiarkan air mata yang berbicara. Aku tahu tanpa sepatah kalimatpun Mama akan mengerti apa yang aku rasakan saat ini. Ya, aku sangat yakin Mama mengerti bagaimana perasaanku saat ini meskipun aku tak mengucapkannya melalui sebuah aksara.
"Tapi percayalah ndug, nggak semua laki-laki itu seperti Dion. Kalahkan trauma itu sayang, luruhkan benteng besi itu! Jangan biarkan benteng itu semakin berdiri dengan kokohnya dan jangan lagi kamu menutup diri kamu ndug, jangan! Biarkan Bara menyelinap masuk ke dalam hati kamu dan menyemaikan cinta yang pernah mati di dalamnya."
"Mama..." Panggilku lirih dengan suara yang sangat parau. Aku menatap kedua mata hitam milik Mama dengan tatapan intens.
"Iya sayang, Mama tahu Bara mencintai kamu dan itu terlihat jelas melalui sorot matanya. Tapi Mama juga tidak menutup mata kalau hati kamu belum bisa terbuka untuk dia, walaupun sebenarnya kamu tahu tentang apa yang dirasakan Bara."
#30DWCJilid5 #Day11
Komentar
Posting Komentar