"I love you..." kata Bara tepat ketika aku menoleh ke arahnya.
Dan seketika itu pula darahku terasa berdesir. Untuk beberapa saat, aku duduk mematung dengan tatapan yang masih tertuju pada wajahnya. Dan mungkin akan tetap seperti itu jika saja Bara tidak menjentikkan jemarinya untuk menyeretku pada dunia kami sekarang.
"Are you okay?" katanya memastikan.
Dan entah sejak kapan Bara mencondongkan tubuhnya ke arahku yang membuat posisi kami menjadi sedikit lebih dekat. Aku mengerjapkan mata dan kesadaranku kembali sepenuhnya setelah itu. Aku menyelipkan poni panjangku ke belakang telinga sembari menelan ludah, berusaha untuk menyembunyikan rasa terkejutku dari apa yang dia katakan beberapa menit lalu.
"Nggak usah dipikirin, aku cuma ngungkapin apa yang aku rasain. Itu aja kok," papar Bara lirih seolah dia mengerti bagaimana isi hatiku.
Aku menatap Bara tepat pada kedua manik matanya dan berusaha mengatakan sesuatu yang tak bisa aku katakan melalui tatapan itu. Lalu aku melihat dia mengisyaratkan sesuatu sebagai jawaban. Aku menarik kedua sudut bibirku untuk mengukir seulas senyuman dan dia pun membalasnya.
"Good night," katanya pelan mengakhiri perjumpaan kita malam ini dan aku juga mengatakan hal yang serupa kepadanya.
"Take care," imbuhku lalu bergegas membuka pintu.
Dalam waktu yang singkat aku sudah turun dari mobil dan Bara sendiri sudah berlalu dari hadapanku. Namun aku sendiri tak kunjung beranjak dari tempatku sebelumnya, ya, aku masih berdiri di depan pagar. Pandanganku menatap pada jalanan yang sudah kosong karena mobil Bara sudah menghilang di belokan.
I love you,,,
Kalimat yang terdiri dari tiga kata itu kembali terngiang di telingaku. Kata-kata itu begitu sederhana dan sangat mudah untuk di ucapkan, tapi kenapa kata-kata yang seharusnya membuat hatiku melambung itu justru menyesakanku? Bahkan mendengar kata-kata itu terangkai menjadi sebuah aksara tak mampu membuat jantungku berdegup dengan irama yang cepat. Dan justru memutar kembali kenangan di dalam kotak masa laluku. Membuatku jengah dan lelah.
Aku memejamkan mata rapat-rapat lalu berusaha menepiskan semua hal buruk yang tiba-tiba menyeruak. Lalu dengan langkah tersaruk aku memasuki halaman.
"Mama belum tidur?" Tanyaku sedikit tersentak ketika mendapati Mama membukakan pintu untukku. Bahkan sebelum aku mengetuknya terlebih dahulu.
Mama menggeleng pelan, "Mama nunggu kamu ndug."
Jawab Mama lalu mengajakku untuk segera masuk ke dalam rumah. Aku merasakan kehangatan rumah ini menjalari seluruh bagian tubuhku setelah beberapa jam bergulat dengan angin malam yang menusuk tulang. Kemudian aku meletakkan tas tanganku lalu berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air putih.
"Pergi sama Bara lagi?" tanya Mama.
Aku memutar kepala dan melihat beliau sudah berada di belakangku.
"Bara itu orangnya baik ya? Dia juga tampan persis sama Ayahnya, Om Daniel," ujar Mama membuka topik obrolan kami.
"Kamu ingat kan ndug sama Om Daniel dan Tante Shella?" imbuh beliau berusaha mengingatkan aku.
Namun ingatan itu jua muncul ke permukaan, membuatku hanya menggeleng lemah sebagai jawaban.
Mama mengurai senyuman dan aku suka melihat senyuman itu. "Nggak heran kalau kamu lupa, karena terakhir kamu ketemu mereka ya cuma kamu datang ke Jakarta sewaktu masih SD kelas 5."
Papar Mama memaklumi daya ingatku yang memang tak begitu tajam. Aku menarik kursi di samping Mama lalu duduk di sana sembari mencerna penjelasannya. "Jadi intinya Mama kenal sama orang tua Bara?" tanyaku pendek.
"Nggak hanya kenal ndug, mereka itu teman kampus Mama. Papa, Mama, Om Daniel dan Tante Shella itu saling kenal. Bahkan di usia kami yang masih muda, kami berempat sudah janji untuk berbesanan."
"Maksud Mama? Kalian ngejodohin aku sama Bara?" Tanyaku memotong kalimat Mama.
#30DWCJilid5 #Day10
Komentar
Posting Komentar