Aku menundukkan wajah dan memaksa bibirku untuk tersenyum. Kemudian aku mengangkat wajah, menatap mobil-mobil yang bersileweran di jalanan sekitar monumen, yang sorot lampunya terkadang menyilaukan mata.
"Ini semua berawal karena Dion, mantan kekasih aku," kataku memulai bercerita. Kemudian aku berusaha membuka kotak masa laluku dan membaginya bersama laki-laki yang duduk di sampingku.
"Kami udah pacaran selama 7 tahun lebih, bahkan kami sudah bertunangan. Tapi di suatu hari aku memergoki dia masuk ke dalam sebuah hotel bersama temanku, Nadia. Nadia gak hanya sekedar teman, tapi dia sahabat karib aku. Seorang sahabat yang sudah aku anggap sebagai saudara. Aku sayang banget sama dia, bahkan aku jauh lebih sayang sama dia ketimbang sama adek aku sendiri. Dan kamu tahu apa alasannya? Karena kami berdua udah berteman dari kelas 1 SD."
Aku berhenti sejenak untuk mengontrol kembali pergolakan batin yang selalu aku rasakan acap kali mengingat masa yang kelam itu. Kemudian aku kembali menceritakan masa lalu itu dengan hati yang pedih dan air mata yang kembali meleleh.
"Awalnya aku nggak percaya dan hal itu aku buktiin dengan datang ke rumah Nadia untuk mencari jejak antara dia dengan Dion. Dan kamu tahu apa yang aku temukan di sana, Bar?" kataku memalingkan wajah pada Bara lalu kembali menatap jalanan dengan tatapan menerawang.
"Aku melihat semua hal yang nggak pernah aku lihat, surat, kado dan foto-foto mereka berdua. Bahkan yang lebih menyakitkan semua itu udah berlangsung selama dua tahun. Dua tahun Bara!" Aku memejamkan mata, membuat air mata yang tergenang di pelupuk mataku jatuh tanpa terasa. Aku menghela napas.
"Ya, mereka menyembunyikan hubungan mereka selama dua tahun, padahal aku sayang banget sama mereka! Bahkan selama ini, aku selalu berusaha untuk menjadi sahabat dan tunangan yang baik. Tapi apa balasan mereka?" Jeda sejenak, lalu "Orang yang aku cinta sepenuh hati justru berselingkuh dengan sahabat aku sendiri. Dan sahabat aku menyambutnya dengan tangan terbuka, dan ketika aku mempertanyakan semua itu, mereka bilang kalau mereka khilaf? Apa waktu selama dua tahun itu bisa disebut seperti itu?" kataku mengakhiri sepenggal kisah masa laluku yang kelam.
Aku menyeka air mataku namun tangan Bara yang dingin dan besar terlebih dahulu menyekanya. Membuat aku mengalihkan perhatian dan menatapnya. Entah kenapa perasaanku jauh lebih baik setelah membagi kisahku dengan Bara, seolah semua beban di pundakku terangkat begitu saja.
"Kamu jangan sedih lagi ya? Kamu juga jangan mikirin sahabat dan mantan kamu yang bego itu. Karena cuma cowok bego yang ninggalin berlian kaya kamu hanya demi mutiara yang belum tentu ada di dasar laut," ujar Bara lirih.
Kedua mata kecilnya menatapku dengan tatapan yang meneduhkan dan intens. Membuatku jauh lebih baik dari beberapa saat yang lalu.
Hening.
Untuk beberapa saat kesunyian mengisi kami berdua dan aku membiarkan gemerisik angin masuk ke dalamnya, hingga suara Bara yang berat dan rendah memecah kesunyian itu.
"Kamu udah ngerasa baikan?"
Tanya Bara memastikan dan aku menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Kalau gitu kita pulang aja yuk? Ini udah malam juga kan? Aku nggak enak sama Mama kamu kalau nganter kamu pulang terlalu malam," ujarnya menjelaskan.
*****
"Bara, makasih ya untuk malam ini," ujarku tulus kepada Bara sebelum aku turun dari dalam mobil.
Bara mengendikkan bahu dan tersenyum,"Never mind, Senja. Itu semua gak sebanding dengan karya kamu di kepala aku yang membuat aku jadi terlihat semakin tampan," katanya sembari mengangkat sebelah alisnya untuk memberi kode. Tak lupa menyunggingkan seulas senyuman yang memamerkan deretan giginya yang rapi.
Membuatku terkekeh pelan karena ucapannya yang terdengar lebay pada usia kami yang hampir berkepala tiga.
"It's okay, boleh aku turun?" Balasku.
"Tentu," sahutnya pendek. "Mmm, Senja..."
Panggil Bara tiba-tiba menghentikan gerakanku dan berpaling ke arahnya,"Ya?"
"I love you..."
#30DWCJilid5 #Day9
Komentar
Posting Komentar