Bara Di Langit Senja Bag. 3

"Permisi," kataku menegur laki-laki itu. Berusaha untuk membangunkannya. 

Tapi laki-laki itu tak mengacuhkanku, aku mengulang kembali sapaanku dengan sedikit menaikkan intonasi suaraku. Tapi hasilnya nihil, laki-laki itu tetap tak bergerak dan kedua matanya masih terpejam. Tak mau jadi kacang yang di anggurin untuk kedua kalinya, aku memutuskan untuk menegur laki-laki di hadapanku ini dengan cara lain. 

"Maaf Mas permisi," tegurku kemudian dengan menggoyangkan lengannya. Dan usahaku berhasil. 

Laki-laki itu nampak terkejut ketika membuka kedua matanya, terlebih mendapatiku yang berdiri begitu dekat dengannya. 

"Salonnya mau buka Mas, kalau tidak berkepentingan tolong jangan parkir di sini," ujarku setelah menjaga jarak antara aku dengannya. 

Hening, laki-laki itu tak kunjung menyahut. 

"Maaf, Mbak tadi bilang apa?" balasnya setelah melepas sesuatu dari telinganya dan menatap ke arahku.

Dalam hati aku berdecak kesal, karena ternyata laki-laki itu tengah memakai earphone bluetooth. Dan sudah sepantasnya jika laki-laki itu tak mendengarku. 

"Salonnya mau buka Mas, kalau tidak berkepentingan tolong jangan parkir di sini," ulangku sembari menekankan kata tolong dan menunjuk ke belakang. 

Tepatnya pada ruko tempat berdirinya bisnis salon milikku yang masih tertutup rapat karena memang belum aku buka. Laki-laki itu mengikuti gerakan tanganku dan tersenyum lebar tanpa rasa bersalah. 

"Aku menunggu Mbak, Mbak yang punya Dee Salon kan?" tukasnya dengan nada ramah dan sopan. "Perkenalkan saya Bara Haditama, tapi panggil saja Bara," imbuhnya dengan tangan yang terjulur ke depan. 

Untuk sesaat aku membiarkan tangannya yang terjulur ke arahku berteman dengan angin. Alih-alih menyambut tangan itu, aku justru memandangi wajahnya dengan tatapan selidik, pasti petugas koperasi mau nawarin pinjaman, pikirku dalam hati. 

"Senja..." 

Kataku memperkenalkan diri dengan membalas jabatan tangannya. Entah dorongan apa yang membuatku membalas jabatan itu, yang aku pikir saat itu hanyalah attitude. Karena sangat tidak sopan jika kita tidak menyambut tangan seseorang yang ingin menjabat tangan kita. 

"Maaf sebelumnya, Mas ini mau ada keperluan apa dengan saya sampai nunggu di depan ruko begini?" ujarku sembari berjalan ke arah pintu dan membuka gemboknya. 

"Saya yang kemarin malam Mbak, ke sini ya mau potong rambut masak ya mau ngapelin Mbaknya? Bisa dimarahin suaminya nanti saya," seloroh laki-laki itu dengan senyum lebar membuatku turut tersenyum. 

"Jadi Mas-nya yang semalem ini mau potong?" ulangku sembari mendorong pintu harmonika warna biru tua yang sudah mulai usang.

Dan aku melihat laki-laki yang bernama Bara itu mengangguk mantap kemudian berjalan ke arahku. Tangannya yang besar membantuku mendorong pintu dan setelah pintu terbuka aku mempersilahkan dirinya untuk masuk ke dalam.

Setelah berbincang sebentar untuk basa basi tak lupa juga menyelipkan permintaan maaf di dalamnya, karena sudah mengiranya sebagai pegawai koperasi. Aku berusaha memberikan pelayanan terbaikku untuknya, seperti yang biasa aku lakukan terhadap para pelanggan Dee Salon yang lainnya. 

Namun masih 5 menit dari aku memulai pekerjaan, tiba-tiba arus listrik di kompleks ruko Brawijaya mati. Entah pemadaman bergilir atau memang sedang ada perbaikan. Dan hal itu membuat pekerjaanku terganggu, pasalnya model potongan rambut Bara adalah model Medium Length Texturized Hair  yang mengharuskan aku menggunakan clipper untuk mendapatkan potongan yang diinginkan. Sementara aku masih memotong pada bagian sisi kiri, mungkin jika aku sudah menyelesaikan seluruh bagian dan hanya tinggal memangkas bagian atas aku tidak akan bingung. Karena untuk memangkas bagian atas aku biasa menggunakan gunting untuk memberi tekstur. 

"Aduh Mas ini gimana? Listriknya mati dan ini belum selesai!" ujarku dengan rasa bersalah. Berusaha mendapat solusi dari Bara. 

Bara mendekatkan wajahnya ke cermin untuk melihat potongan rambutnya yang masih 30%, karena listrik yang mati membuat pencahayaan di dalam salon menjadi sedikit gelap. 

"Masih separuh ya Mbak?" balasnya. 

"Iya," kataku. "Mas Bara nggak keburu-buru kan?" tanyaku melanjutkan. Memastikan bahwa dia tidak sedang dikejar oleh sang waktu.

"Enggak kok Mbak, lagi libur kerjaannya. Aku tunggu di sini nggak apa kan Mbak?" ucapnya meminta izin sembari melirikku melalui cermin. 

"Justru itu yang mau aku minta Mas, soalnya kan masih belum selesai," ujarku mengukir senyuman. 

"Mau nunggu di sini atau di luar Mas? Kalau di dalam mungkin nanti sedikit gerah, soalnya AC lagi mati," ujarku sembari melepas cape yang melindungi tubuhnya dari potongan rambut yang berjatuhan.

"Di sini aja deh Mbak, biar bisa ngobrol sama Mbak siapa tadi namanya? Senja ya?" katanya masih dengan sopan. Dia mengukir seulas senyuman diwajahnya yang membuat lesung pipit di pipinya terekspos setelah aku menganggukkan kepala. 

"Oh iya Mbak, aku minta maaf untuk yang kemarin malam ya? Maaf udah bikin Mbak Senja kaget," tukasnya setelah berpindah ke kursi tunggu. 

"Nggak papa kok Mas, aku yang seharusnya minta maaf," ujarku menimpali sembari mengeluarkan laptop dari laci meja kerjaku dan meletakkannya di atas meja. 

Bara memutar wajah ke arahku dan menatapku,"Untuk?" 

Aku tersenyum malu mendapat balasan seperti itu,"Karena aku mengira Mas Bara itu pencuri dan sejenisnya," gumamku sembari menyembunyikan wajahku di balik laptop yang sudah terbuka. 

Namun lagi-lagi dugaanku salah, aku pikir laki-laki itu akan tersinggung dengan prasangka buruk yang aku berikan, tapi faktanya dia justru tertawa dengan renyahnya. Aku mengintipnya, dan saat itu aku menyadari bahwa Bara terlihat cukup tampan ketika tertawa. Aku pun mulai menilik penampilannya, di saat dia masih sibuk dengan tawanya yang belum mampu dia redakan. 

Laki-laki itu berpakaian kasual, memakai kaus hitam yang dipadu dengan celana pendek selutut warna krem dan sandal gunung berwarna hitam. Badannya bagus dan terawat, mungkin dia rajin berolahraga sehingga perutnya terbebas dari lemak yang menumpuk. Dia juga mengenakan sebuah arloji bermerk berwarna hitam yang terlihat sangat serasi dengan warna kulitnya. Dan yang terakhir dia memiliki bulu alis yang melengkung sempurna, bulu alis yang banyak diidamkan oleh kaum hawa tak terkecuali oleh aku. 

"Senja kamu tuh orangnya lucu ya?" tukasnya membuyarkan lamunan yang tercipta pada dimensi lain dalam otakku. 

Aku tak menyahut perkataan Bara, karena aku memiliki alasan dan alasan utamaku adalah karena aku malu setengah mati. 

"Kamu tahu nggak? Kamu itu satu-satunya orang yang mengira aku seorang pencuri," jelasnya yang membuat kedua pipiku semakin merona karena menahan malu. 

"Eh bolehkan kalau aku manggil nama kamu aja? Karena feeling  aku kita seumuran?" imbuhnya melanjutkan.

"Iya nggak apa-apa kok Mas Bara," sahutku mengiyakan pertanyaannya. 

"Tapi kalau aku manggil Senja aja kamu juga harus manggil aku dengan Bara tanpa embel-embel Mas, setujukan?" 

Lagi-lagi aku tersenyum dibuat oleh laki-laki yang bernama Bara Haditama itu. Dan tanpa berpikir lagi aku pun mengiyakan saja perkataannya. Entahlah, meskipun aku baru bertemu dan mengenalnya aku merasa sudah sangat kenal dengan laki-laki itu yang membuat obrolan kami begitu santai dan ringan. 

Bahkan obrolan kamipun tak berhenti sampai aku menyelesaikan proses pemangkasan rambutnya dua jam kemudian, obrolan kami berlanjut sampai pada esok harinya, keesokannya lagi dan begitu seterusnya. Kami bahkan sudah mengfollow akun sosial yang kami miliki masing-masing dan saling memberi komentar. Dan dari situlah aku mengerti bahwa rupanya Bara adalah teman play groupku, karena itulah aku merasa sudah mengenal dirinya sejak lama. Hal itu aku ketahui ketika aku melihat semua postingan foto di akun instagram miliknya. 

"Jadi kamu baru pindah ke sini 2 tahun ini?" Tanya Bara ketika kami mengisi luang kami setelah bekerja dengan menikmati angin malam di Simpang Lima Gumul Kediri yang merupakan icon Kota Kediri. Kalau kata orang-orang lokal, tempat ini adalah Parisnya Kediri. Karena jujur desain bangunan ini mencontoh bangunan-bangunan di Paris begitupun dengan pencahayaannya.  

"Iyap, kamu sendiri?" tukasku menimpali. 

Sesekali aku memalingkan wajahnya dan melihat caranya berbicara yang begitu santai. Bara memang memiliki sedikit kelebihan, yaitu selalu membuat orang yang dekat dengannya merasa nyaman. Aku melihat dia mengangguk pelan, tatapannya tertuju pada jalanan aspal di depan kami dan pada kendaraan yang berlalu lalang. 

"Baru beberapa hari yang lalu, atau lebih tepatnya dua minggu yang lalu. Aku kesini karena satu alasan, yaitu kerjaan yang geluti saat ini," ucapnya menjelaskan. 

"Kamu hebat ya, usia segini udah menjabat jadi manager hotel bintang 4 sekelas Grand Surya," paparku memuji sekaligus mengagumi pencapaian karirnya yang cemerlang. 

Bara tersenyum kecil lalu mencabut rumput liar yang kami duduki. 

"Bukankah itu harga yang setimpal dari semua pendidikan dan pengalaman kerja aku di negeri orang?" tukasnya pendek. Dia menundukkan wajah lalu memalingkan wajahnya ke arahku. 

"Delapan tahun aku hidup jauh dari kedua orang tua aku hanya untuk membuat mereka bangga denganku, dan sekarang keinginanku terwujud." 

Bara mengakhiri kalimatnya dengan seulas senyuman dan tatapan mata teduhnya yang menatapku dengan hangat. Dan entah kenapa hal itu membuat pipiku terasa panas. Segera ku palingkan wajahku untuk menghindari tatapannya, namun meskipun begitu, aku masih bisa merasakan bahwa dia masih menatapku dengan tatapan yang sama.

"Kamu sendiri kenapa pindah ke sini dan membuka salon di sini? Padahal usaha salon kamu di Surabaya cukup lancar dan banyak clien yang bertandang ke salon kamu?" tanyanya tiba-tiba.

Sejenak aku tertegun mendapat pertanyaan seperti itu, pertanyaan yang selalu aku terima dari orang-orang memang belum tahu tentang alasanku yang sebenarnya. Alasan yang tak pernah aku ceritakan kepada orang-orang yang mengenalku selama 2 tahun ini. Dan malam sebuah pertanyaan yang sama menghampiri, namun malam ini entah kenapa aku merasa bimbang untuk menjawabnya. Tidak seperti biasanya yang selalu aku jawab dengan tegas bahwa aku ingin mengembangkan karirku dengan membuka cabang di kota yang kecil ini. 

"Senja..." 

Ulang Bara memanggil namaku.

#30DWCJilid5 #Day8

Komentar