Bara Di Langit Senja Bag. 2

Angin malam terasa semakin menusuk tulang dan hal itu membuatku tak sabar ingin cepat-cepat masuk ke dalam rumah. Membayangkan secangkir susu hangat akan menghangatkan tubuhku yang hampir membeku. Dan bayangan itu membuatku semakin gencar membuka gembok yang mengunci pagar besi di rumahku yang berada di belakang kompleks ruko Brawijaya.

Bulu kudukku meremang sebagai respon ketika angin kembali menggelitik kulitku. Terkadang aku sedikit kesal dengan perubahan suhu di kota Kediri yang menjadi tempat tinggalku sekarang ini. Cuaca siang hari yang panas bisa berubah menjadi sangat dingin bila malam tiba, terlebih ketika waktu sudah mendekati tengah malam. Tapi apa boleh buat, aku hanyalah manusia yang di beri kelebihan untuk merasakan apapun yang diciptakan oleh sang Maha Kuasa. 


"Senja.....!" 


Aku mendengar seseorang menyerukan namaku, suara itu berasal dari dalam dan aku sangat mengenal suara itu. Ku palingkan pandanganku dari gembok yang belum bisa aku buka ke bagian dalam rumah. Dan disaat itu aku baru menyadari bahwa lampu di dalam rumah menyala, bersamaan dengan itu aku melihat siluet seorang wanita paruh baya berdiri di ambang pintu. Tanpa aku sadari seulas senyuman tersungging dari bibirku. 


"Pagarnya nggak digembok ndug," ujar Mama. 

Ya, wanita paruh baya itu adalah Mama, Mama yang melahirkan aku. Aku tertawa kecil, menertawai kebodohanku lalu membuka pagar dan menutupnya kembali. Kemudian dengan perasaan senang aku menghampiri Mama dan memeluknya. 


"Mama, ke sini kok nggak bilang-bilang sih? Gak mampir ke salon juga?" Tanyaku sembari melepas pelukanku. 


Mama tersenyum lembut, tangannya yang halus merapikan anak rambutku yang tertiup angin. "Mama tadi ke sana, tapi kamu sibuk. Jadi ya Mama langsung ke sini aja." 

Aku tak menyahut perkataan mama, karena yang dikatakan Mama memang benar. Hari ini aku benar-benar disibukkan dengan semua clienku. Sampai-sampai aku belum mandi sore karena terlalu sibuk. 


"Kamu sudah makan?" Tanya Mama kemudian. 

Beliau menggiringku masuk ke dalam karena angin bertiup lebih sering malam ini. Kupandang parasnya yang masih tetap cantik meskipun sudah dimakan usia.

"Udah kok Ma. Tadi aku mampir beli makan dulu di depan, kalau tahu Mama di sini ya aku mau makan sama masakan Mama," ujarku membalas sembari memeluk tubuhnya sekali lagi dengan manja. 

Dan aku merasakan tangan halus mama kembali membelai rambutku. Dari belaian itu, aku mampu merasakan kasih sayang dan rasa rindu Mama yang terpendam untukku.  Dari belaian itu pula aku mampu merasakan, betapa besarnya cinta Mama yang diberikan untukku. 

"Kamu mandi dulu ya ndug, terus langsung istirahat saja. Kamu pasti capek kerja sendiri seharian," ujar Mama dengan penuh perhatian. 

"Iya Ma," celetukku. "Tapi aku masih pengen meluk Mama, jadi  Mama jadi patung dulu ya?"

Aku bisa menduga bahwa Mama tengah mengukir seulas senyuman di bibir tipisnya begitupun dengan aku. Lalu setelah rasa kangenku terobati aku melepas pelukanku dan bergegas untuk mandi, tentu saja setelah ritual kecupan singkat yang selalu aku layangkan pada Mama aku laksanakan. 



*** 


Pagi ini aku sengaja bangun lebih awal, tidak seperti biasanya yang selalu kembali tidur usai solat Subuh dan bangun pukul tujuh pagi. Dengan badan yang sudah segar bugar hasil jalan-jalan santai tadi pagi, aku keluar kamar dan seketika itu aroma masakan Mama menyeruak memenuhi ruang keluarga yang terhubung dengan dapur. Aku memejamkan kedua mata dan berusaha menikmati aroma itu, aroma yang sangat jarang aku nikmati selama kurang lebih tiga tahun. 

Aku pun bergegas menuju dapur untuk melihat apa yang tengah dimasak Mama sekaligus untuk mengambil air minum. "Pagi Ma,"

Kulihat Mama mengangkat wajahnya dan menatapku yang kini tengah sibuk mengucir kuda rambut panjangku sembari berjalan ke meja makan untuk mengambil air putih.

"Selamat pagi ndug cah ayu," balas Mama. "Sarapan sudah siap, kamu duduk dulu gih, biar Mama siapin di meja," gumam Mama melanjutkan. 

Aku tersenyum lebar, kemudian duduk manis sembari menunggu Mama mempersiapkan sarapan untukku. Tak berapa lama kemudian, sarapan sudah tersaji di atas meja makan dan kamipun memulai sarapan kami.

"Senja, apa gak sebaiknya kamu nyari capster ta ndug? Biar kerjaanmu ada yang bantu dan kamu gak terlalu capek," ujar Mama menyarankan ketika aku hampir menyelesaikan sarapanku. 

Aku mengangkat wajah, "Mama, aku nyaman kok sama kerjaanku walau hanya sendirian. Lagi pula di sini gak seramai di Surabaya Ma," balasku yang ku buat dengan nada setenang mungkin. 

"Tapi ndug..." 

"Mama tenang aja, aku pasti bisa menghandle semua kerjaanku dengan baik. Dan aku juga janji, aku bisa mencuri waktu istirahat di tengah kesibukanku," kataku memotong ucapan Mama. 

Aku tersenyum dan berusaha meyakinkan Mama dengan tatapan yang aku berikan. Kemudian aku menghabiskan sarapanku dan bergegas ke tempat kerjaku.

Senja, Senja Kumala Dewi itu adalah namaku. Nama yang diberikan Mama khusus untukku karena Mama begitu sangat menyukai senja. Aku tinggal seorang diri di kota kecil kelahiran mendiang Papa, sementara Mama dan adik perempuanku tinggal di Surabaya. Sebenarnya dulu aku juga tinggal di sana, bahkan aku sudah membuka sebuah salon kecantikan di sana. Dan clienku jauh lebih banyak ketimbang di sini. 

Namun karena mengalami kesulitan menerima sebuah fakta bahwa kekasihku, Dion selingkuh dengan sahabatku sendiri, aku memutuskan untuk pindah ke sini. Berharap aku bisa melupakan semua yang terjadi dengan lingkungan baru. Mungkin, seandainya jika hubunga kami hanya beberapa bulan aku tidak akan sampai sakit hati sebegitu dalam, tapi pada kenyataan hubunganku dengan Dion sudah berjalan selama hampir 7 tahun. Dan parahnya lagi dia selingkuh dengan sahabat karibku, sahabat yang sudah seperti saudaraku sendiri. 

Saat itu Mama sangat mendukung keputusanku, karena mama sendiri tak tega melihat keadaanku yang begitu terpuruk. Walau sebenarnya aku tahu bahwa Mama selalu mengkhawatirkan keadaanku di sini. 

Lima belas menit berlalu dan tanpa terasa aku sudah sampai pada tempat kerjaku, di kompleks ruko Brawijaya Kediri. Beberapa kali aku mengangguk pada orang-orang yang aku kenal untuk menyapanya. Namun disaat aku hampir sampai ruko ku, langkah kakiku terhenti. Pandanganku melayang pada sebuah mobil Fortuner putih yang terparkir dengan rapi di depan salonku yang masih tertutup rapat. Seorang laki-laki terlihat menyandarkan tubuhnya ke sisi mobil, kedua matanya terpejam dengan tangan yang juga disilangkan ke depan dada. 



#30DWCJilid5 #Day7 #cerbung



Komentar