Angin berhembus semakin kencang, udara pun terasa semakin menusuk tulang. Ya, malam tlah datang menggantikan lembayung senja yang perlahan menghilang. Dan aku masih berdiri di tepi pantai bersama Bara. Tak ada pembicaraan tak ada obrolan, yang ada hanyalah deru ombak yang berkali-kali menghantam batu karang.
Di bawah langit yang mulai menghitam aku bisa melihat tatapan Bara yang meneduhkan.
"Bisa kita pulang sekarang?" tanya Bara untuk yang ke dua kalinya.
Aku mengangguk pelan dan Bara kembali menguraikan senyuman yang selalu diikuti dengan sebuah lesung pipit di bagian pipi kirinya. Dengan perlahan dia mengulurkan tangan kirinya yang kini selalu aku sambut dengan segera. Kami berjalan bersisian meninggalkan pantai Sanggar dan pemandangan langit yang begitu memesona. Meninggalkan sebuah jejak kaki dan sepenggal cerita. Sepenggal cerita yang akan selalu aku kenang sepanjang hidupku.
*****
"Selamat siang Nona Senja," sapa Bara mengejutkanku.
"Aww...."
Aku memekik karena terburu-buru mendongak ke atas meja dan alhasil kepalaku terbentur laci meja yang tengah terbuka. Aku meringis kemudian memijit dahiku untuk meredakan rasa sakit.
"Kenapa?" tanyanya dengan wajah tak bersalah.
Aku mencibir, mengabaikan pertanyaannya kemudian memilih duduk di kursi sembari memijit dahiku yang terasa nyut-nyutan. Namun apa yang dilakukan Bara benar-benar di luar dugaanku. Bukannya duduk dengan tenang di kursi tunggu, dia justru duduk di pinggir meja kerjaku.
"Sini lihat," katanya lirih.
Aku mendongak, menatap Bara yang separuh badannya menghadap ke arahku.
"Apanya yang di lihat Bara," tukasku pendek.
Bara tak menyahut, tangannya terjulur menyentuh poni samping yang menutupi dahiku dan mengarahkannya ke belakang. Sementara bibirnya terlihat sibuk meniup dan memijit dahiku dengan tangan sebelahnya.
Apa yang dilakukan Bara membuat jarak kami menjadi begitu sangat dekat. Bahkan karena terlalu dekat aku bisa mendengar irama detak jantungnya yang berdetak dengan cepat.
Satu detik
Dua detik
Tiga detik
Tiba-tiba gerakan Bara terhenti, dia sedikit menarik tubuhnya ke belakang. Yang membuat wajah kami menjadi lebih dekat. Kedua mata kecilnya menatapku dengan tatapan meneduhkan, bibir tipisnya yang merah alami sedikit tertarik ke samping. Menimbulkan efek senyuman yang samar namun tetap menawan bagi siapapun yang melihatnya.
Dan entah mendapat dorongan dari mana aku membalas tatapan Bara, yang pada akhirnya membuat jantungku berpacu lebih cepat dari sebelumnya. Deguban jantungku semakin cepat, terlebih ketika tangan Bara terjulur ke wajahku. Aku bisa melihat, dengan perlahan tapi pasti tangan Bara menyentuh wajahku, bahkan dia menyusupkan jemarinya ke sela-sela rambutku.
Secara tiba-tiba aku merasakan sensasi aneh dalam diriku, aku merasa aliran darahku mengalir begitu deras dan wajahku terasa panas. Bahkan degub jantungku semakin meningkatkan pacuannya yang mengharuskan aku untuk menahan napas.
Di bawah langit yang mulai menghitam aku bisa melihat tatapan Bara yang meneduhkan.
"Bisa kita pulang sekarang?" tanya Bara untuk yang ke dua kalinya.
Aku mengangguk pelan dan Bara kembali menguraikan senyuman yang selalu diikuti dengan sebuah lesung pipit di bagian pipi kirinya. Dengan perlahan dia mengulurkan tangan kirinya yang kini selalu aku sambut dengan segera. Kami berjalan bersisian meninggalkan pantai Sanggar dan pemandangan langit yang begitu memesona. Meninggalkan sebuah jejak kaki dan sepenggal cerita. Sepenggal cerita yang akan selalu aku kenang sepanjang hidupku.
*****
"Selamat siang Nona Senja," sapa Bara mengejutkanku.
"Aww...."
Aku memekik karena terburu-buru mendongak ke atas meja dan alhasil kepalaku terbentur laci meja yang tengah terbuka. Aku meringis kemudian memijit dahiku untuk meredakan rasa sakit.
"Kenapa?" tanyanya dengan wajah tak bersalah.
Aku mencibir, mengabaikan pertanyaannya kemudian memilih duduk di kursi sembari memijit dahiku yang terasa nyut-nyutan. Namun apa yang dilakukan Bara benar-benar di luar dugaanku. Bukannya duduk dengan tenang di kursi tunggu, dia justru duduk di pinggir meja kerjaku.
"Sini lihat," katanya lirih.
Aku mendongak, menatap Bara yang separuh badannya menghadap ke arahku.
"Apanya yang di lihat Bara," tukasku pendek.
Bara tak menyahut, tangannya terjulur menyentuh poni samping yang menutupi dahiku dan mengarahkannya ke belakang. Sementara bibirnya terlihat sibuk meniup dan memijit dahiku dengan tangan sebelahnya.
Apa yang dilakukan Bara membuat jarak kami menjadi begitu sangat dekat. Bahkan karena terlalu dekat aku bisa mendengar irama detak jantungnya yang berdetak dengan cepat.
Satu detik
Dua detik
Tiga detik
Tiba-tiba gerakan Bara terhenti, dia sedikit menarik tubuhnya ke belakang. Yang membuat wajah kami menjadi lebih dekat. Kedua mata kecilnya menatapku dengan tatapan meneduhkan, bibir tipisnya yang merah alami sedikit tertarik ke samping. Menimbulkan efek senyuman yang samar namun tetap menawan bagi siapapun yang melihatnya.
Dan entah mendapat dorongan dari mana aku membalas tatapan Bara, yang pada akhirnya membuat jantungku berpacu lebih cepat dari sebelumnya. Deguban jantungku semakin cepat, terlebih ketika tangan Bara terjulur ke wajahku. Aku bisa melihat, dengan perlahan tapi pasti tangan Bara menyentuh wajahku, bahkan dia menyusupkan jemarinya ke sela-sela rambutku.
Secara tiba-tiba aku merasakan sensasi aneh dalam diriku, aku merasa aliran darahku mengalir begitu deras dan wajahku terasa panas. Bahkan degub jantungku semakin meningkatkan pacuannya yang mengharuskan aku untuk menahan napas.
#30DWCJilid5 #Day20
Komentar
Posting Komentar