Hampir satu setengah jam aku berkutat di dalam dapur seorang diri hanya demi menghidangkan sepiring besar spagety bolognese. Dan itu menunjukkan bahwa selama itu pula Bara mencuri-curi pandang ke arahku. Entah apa yang mereka bincangkan hingga mereka nampak begitu enjoy dan terlihat begitu sangat dekat. Namun samar-samar aku mendengar bahwa Mama menceritakan kisah asmara kedua orang tua Bara, Tante Sella dan Om Daniel.
Sesekali aku melirik ke arah mereka, atau lebih tepatnya pada Bara yang tengah tertawa renyah mendengar kisah hidup kedua orang tuanya. Secara tidak sadar aku menyukai tawa dan bentuk mata yang tengah tertawa itu. Dan tanpa sadar pula aku turut tersenyum ketika melihatnya tertawa seperti itu.
Dua puluh menit kemudian tugasku di dapur selesai, dan dengan segera aku menyajikan masakanku ke atas meja. Tak lupa aku mengeluarkan puding fla vanila yang aku buat sepulang kerja dari dalam kulkas.
"Waw, aku nggak nyangka kamu jago masak," puji Bara dengan wajah berbinar dan sorot mata yang teduh menatapku.
Aku meniliknya dengan seulas senyum yang tersungging di bibir, entah sudah berapa potongan puding yang masuk dalam perutnya aku tak begitu memerhatikan. Namun yang pasti separuh dari potongan puding itu di habiskan oleh Bara, dan tentu saja hal itu membuatku menggelengkan kepala. Karena pada sebelumnya dia memakan spagety dengan begitu lahapnya, bahkan dia sempat menambah seporsi.
"Nak Bara nggak mau nambah lagi?" tanya Mama yang melihat Bara mengelap bibirnya dengan selembar tisu.
Aku melirik ke arah Bara dan melihatnya tersenyum malu.
"Udah cukup Tan, perut Bara udah nggak muat lagi."
"Oh ya Tante, Tante tahu nggak, kalau ternyata masakan koki aku tuh ada yang nyaingin, " celetuk Bara ketika aku kembali bergabung dengan mereka setelah menaruh piring kotor pada tempat cucian.
Aku mengernyitkan kening, sementara Mama menyuarakan pikiranku. Seolah ada telepati yang terprogram antara kami berdua.
"Maksud Nak Bara, cita rasa masakan di Grand Surya ada yang nyaingin gitu Nak?"
Bara mengangguk sembari meletakkan kedua tangannya ke atas meja, kemudian bergumam pelan sembari melirik ke arahku. "Dan bodohnya aku, aku baru tahu hari ini Tante."
Aku menatap Bara dengan curiga, sementara Mama semakin terlihat serius menanggapi perkataan Bara.
"Kalau begitu kamu harus cepat mengambil tindakan Nak, sebelum semuanya menjadi berantakan dan kerjaan kamu terganggu," ujar Mama memberi solusi.
"Nggak perlu kok Tante, karena untuk saat ini masih aman. Kecuali orang itu berniat beralih profesi dan membuka sebuah restaurant yang besar di sini," sahut Bara sembari menatap ke arahku dengan penuh arti. Seulas senyuman terurai dari bibirnya dan hal itu membuat matanya turut tersenyum pula.
Aku berdecak karena aku sudah memahami maksud dari perkatannya.
"Nyindir aku nih ceritanya?" timpalku tak acuh setelah menegak jeruk hangat di depanku.
Bara mencibir, lalu bergumam pelan sembari tertawa kecil.
"Tante, anak Tante kayaknya ke Ge-eRan deh," celetuknya menyangkal.
Mama menatap aku dan Bara bergantian kemudian menggeleng pelan seolah tanggap dengan apa yang sebenarnya terjadi. Dan yang terjadi selanjutnya adalah perdebatan aku dengan Bara.
#30DWCJilid5 #Day17
Sesekali aku melirik ke arah mereka, atau lebih tepatnya pada Bara yang tengah tertawa renyah mendengar kisah hidup kedua orang tuanya. Secara tidak sadar aku menyukai tawa dan bentuk mata yang tengah tertawa itu. Dan tanpa sadar pula aku turut tersenyum ketika melihatnya tertawa seperti itu.
Dua puluh menit kemudian tugasku di dapur selesai, dan dengan segera aku menyajikan masakanku ke atas meja. Tak lupa aku mengeluarkan puding fla vanila yang aku buat sepulang kerja dari dalam kulkas.
"Waw, aku nggak nyangka kamu jago masak," puji Bara dengan wajah berbinar dan sorot mata yang teduh menatapku.
Aku meniliknya dengan seulas senyum yang tersungging di bibir, entah sudah berapa potongan puding yang masuk dalam perutnya aku tak begitu memerhatikan. Namun yang pasti separuh dari potongan puding itu di habiskan oleh Bara, dan tentu saja hal itu membuatku menggelengkan kepala. Karena pada sebelumnya dia memakan spagety dengan begitu lahapnya, bahkan dia sempat menambah seporsi.
"Nak Bara nggak mau nambah lagi?" tanya Mama yang melihat Bara mengelap bibirnya dengan selembar tisu.
Aku melirik ke arah Bara dan melihatnya tersenyum malu.
"Udah cukup Tan, perut Bara udah nggak muat lagi."
"Oh ya Tante, Tante tahu nggak, kalau ternyata masakan koki aku tuh ada yang nyaingin, " celetuk Bara ketika aku kembali bergabung dengan mereka setelah menaruh piring kotor pada tempat cucian.
Aku mengernyitkan kening, sementara Mama menyuarakan pikiranku. Seolah ada telepati yang terprogram antara kami berdua.
"Maksud Nak Bara, cita rasa masakan di Grand Surya ada yang nyaingin gitu Nak?"
Bara mengangguk sembari meletakkan kedua tangannya ke atas meja, kemudian bergumam pelan sembari melirik ke arahku. "Dan bodohnya aku, aku baru tahu hari ini Tante."
Aku menatap Bara dengan curiga, sementara Mama semakin terlihat serius menanggapi perkataan Bara.
"Kalau begitu kamu harus cepat mengambil tindakan Nak, sebelum semuanya menjadi berantakan dan kerjaan kamu terganggu," ujar Mama memberi solusi.
"Nggak perlu kok Tante, karena untuk saat ini masih aman. Kecuali orang itu berniat beralih profesi dan membuka sebuah restaurant yang besar di sini," sahut Bara sembari menatap ke arahku dengan penuh arti. Seulas senyuman terurai dari bibirnya dan hal itu membuat matanya turut tersenyum pula.
Aku berdecak karena aku sudah memahami maksud dari perkatannya.
"Nyindir aku nih ceritanya?" timpalku tak acuh setelah menegak jeruk hangat di depanku.
Bara mencibir, lalu bergumam pelan sembari tertawa kecil.
"Tante, anak Tante kayaknya ke Ge-eRan deh," celetuknya menyangkal.
Mama menatap aku dan Bara bergantian kemudian menggeleng pelan seolah tanggap dengan apa yang sebenarnya terjadi. Dan yang terjadi selanjutnya adalah perdebatan aku dengan Bara.
#30DWCJilid5 #Day17
Komentar
Posting Komentar