Bara di Langit Senja Bag 10

Warna senja menguar seiring dengan bergantinya sore menjadi malam. Meninggalkan beberapa hal dan menjadikannya sebagai salah satu kenangan sepanjang ingatan. Dari dalam kamar sayup-sayup aku mendengar Mama melantunkan ayat-ayat suci dengan begitu merdu. Membuatku selalu merinding dibuat olehnya.


Aku mendesah, hari sudah mulai berganti dan aku belum juga membersihkan badan seusai pulang kerja. Mentang-mentang aku sedang kedatangan tamu, sehingga aku mengabaikan waktu yang ternyata berlalu dengan cepat. Dengan langkah tersaruk aku menyambar handuk yang tersampir di dekat pintu kamar mandi dan bergegas masuk ke dalam sebelum Mama masuk ke kamarku.


20 menit berlalu, ritual mandiku selesai. Badanku kini sudah menguarkan aroma milk soap bercampur wangi lulur yang begitu menyegarkan dan memanjakan hidung. Rasa pegal dan letih pun memudar berganti dengan rasa segar karena pengaruh air dingin yang menyirami sekujur tubuhku.


Aku berdiri di depan meja rias, bermaksud untuk menyisir rambutku namun teriakan Mama membuat kegiatan itu tertunda.


"Ndug tolong kamu bukakan pintunya sebentar!" teriak beliau.

"Iya Ma," sahutku setengah berteriak. Ku tanggalkan handuk yang masih aku gunakan untuk mengeringkan rambut dan segera bergegas ke pintu depan.


Dengan sekali sentakan pintu itu terbuka dan dari balik pintu itu aku melihat siluet laki-laki yang aku kenal. Dia berdiri membelakangi pintu, kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celana kain yang di padu dengan kemeja putih dan rompi yang membungkus kemeja tersebut. Aku mengamati penampilannya yang begitu rapi layaknya seorang CEO sebuah perusahaan. Dan tentu saja ini pertama kalinya aku melihat dia berpakaian formal.


Kepalanya mendongak ke atas, mungkin dia sedang menatap bintang, pikirku. Karena itu dia tidak tahu kalau daun pintu di belakangnya sudah terbuka.


Aku berdeham, lalu mengikuti kepalanya yang tengah menatap langit. "Ada berapa bintang yang berhasil di hitung?" tanyaku.


Dia tersentak kaget, lalu memutar kepala dan menemukan aku yang sudah berada di dekatnya.


"Hei, sejak kapan kamu di sini?" tanya Bara. Seulas senyuman terukir di wajahnya, membuat mata kecilnya tinggal segaris dan menimbulkan sebuah lesung pada pipi kanannya.

"Sejak kamu mengetuk pintu, tapi nampaknya kamu terlalu fokus pada bintang-bintang itu. Sehingga kamu tidak menyadari daun pintu itu sudah terbuka," gumamku.


Aku berpaling ke arahnya yang tanpa aku sadari membuat jarak kami menjadi begitu. Sementara Bara sedikit mencondongkan tubuhnya ke arahku.


"Bukannya terlalu fokus, aku hanya sedikit berbicara pada bintang untuk tidak marah padamu," tukasnya ringan.

"Marah?" tanyaku tak mengerti.

"Ya, marah. Karena sekarang aku sudah menemukan bintang hatiku."


Aku terdiam. Bibirku terkunci saat itu juga. Lamat-lamat aku menatap matanya yang tengah menatapku dengan teduhnya. Aku melihat ke dalam bola mata kecil yang hitam itu, dan aku menemukan diriku di sana. Untuk sesaat kami saling bertatapan, hanya menatap dan tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir kami. Hingga teriakan Mama membuat kami saling berpaling secara bersamaan.


"Senja...! Siapa yang datang Ndug?" teriak Mama dari dalam rumah.

"Bara tante," sahut Bara cepat sebelum aku sempat menjawab.


Dan dia langsung menyelonong masuk meninggalkanku sendirian di teras. Aku berdecak kesal kemudian mengikutinya dari belakang. Baru beberapa menit dan kini dia sudah duduk manis di meja makan bersama Mama kesayanganku.


"Ndug, malam ini kamu aja yang masak ya. Biar Mama nemenin Nak Bara. Mama mau ngobrol sama dia sebentar," ujar Mama.


Aku melihat rona kebahagiaan terpancar dari wajah Mama dan itu sangat kentara sekali. Sementara Bara hanya senyam-senyum saja dari tadi, sembari mencuri pandang ke arahku.


"Iya Mama, bentaran ya..." kataku mengiyakan perintah Mama. Namun sebelum aku melakukannya aku masuk ke dalam kamar terlebih dahulu, untuk mengeringkan rambutku yang masih lumayan basah.


Sepuluh menit kemudian aku sudah berkutat di dalam dapur, menghaluskan bumbu-bumbu dan merebus mie dalam waktu bersamaan. Malam ini aku berencana menyajikan spagety bolognese yang merupakan menu andalanku jika di suruh memasak.


Setelah semua bumbu dihaluskan aku pun segera menumisnya, dan seketika itu aroma bumbu spagety ku menyeruak memenuhi dapur keluarga yang terbilang kecil ini. Merasa diperhatikan aku pun berpaling ke arah meja makan dan aku mendapati Bara tengah menatapku di sela-sela obrolannya dengan Mama.



#30DWCJilid5 #Day16

Komentar